Kamis,
13 November 2014 14:00 CLT
![]() |
| Gambar 1. Ketua DPK SEMA-FDI Kairo Ust. H. Deden Dilalan saat menjadi mentor kegiatan belbar ilmu adab al-Firqoh al-Ulaa di Dar al-Wasilah, Nasr City, Kairo, Kamis (13/11/2014). |
sema-fdi.blogspot.com,
Kairo — Ketua Dewan Pengawas Kegiatan (DPK)
SEMA-FDI Kairo Deden Dilalan, memberikan tutorial dalam acara belbar (belajar bareng)
ilmu adab jahili dan islami al-Firqoh al-Ulaa yang diadakan oleh Dewan Pengurus Harian (DPH) SEMA-FDI
Kairo, Kamis (13/11/2014) siang.
Deden
meyampaikan muqaddimahnya tentang ilmu adab jahili dan islami. Menurut dia,
pengertian adab pada zaman pra-islam belum disebut sastra.
“Pemahaman
adab pada awalnya, bukanlah sastra,” katanya.
Lebih
lanjut Ketua DPK SEMA-FDI ini menjelaskan, adab di masa jahili
diinterpretasikan sebagai budi pekerti atau akhlaq yang baik.
“Kalau
dulu, itu budi pekerti atau akhlaq yang baik,” ungkap Deden.
Hal
tersebut kata dia, di era pra-islam undangan makan adalah budi pekerti yang
baik, itu semua dikarenakan oleh watak orang-orang jahiliyah yang masih keras.
“Orang
mengundang makan, itulah akhlaq yang baik di masa jahiliyah, dikarenakan watak
mereka masih keras,” katanya di saat membahas awal bab dari diktat kuliah di
Dar al-Wasilah, Nasr City, Kairo.
Sehingga
adab pada puncaknya bisa disebut sastra setelah melewati berbagai etape
perkembangan. Dan di zaman sekarang adab disebut sebagai sastra.
“Setelah
melewati fase-fase, akhirnya adab menjadi karya sastra,” ujar Deden.
Belbar
mata pelajaran adab ini dilaksanakan selang-seling, satu minggu adab jahili,
satu minggu adab islami, setiap hari kamis jam dua siang di Hay Asyir. Acara
selesai pukul 17:11 CLT, dan diakhiri dengan sholat maghrib berjama’ah di
masjid al-Fatah, Suq Madrasah, Hay Asyir.
![]() |
| Gambar 2. |
![]() |
| Gambar 3. |
![]() |
| Gambar 4. |
![]() |
| Gambar 5. |
Reported by : SEMA-FDI reporters.





Posting Komentar