Selamat Datang di Portal Sema-FDI Kairo

Apa Yang Hilang Dari Lailati Al-Qadr ?

Selasa, 30 Juni 2015 | 02.24 CLT
Ilustrasi Lailatul Qadr (Courtesy of Google)
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Qadr ayat 3 :

ليلة القدر خير من الف شهر

”Malam kemuliaan itu (Lailatul Qadr) lebih baik dari seribu bulan.“
Secara eksplisit para cendikiawan muslim tidak banyak berkomentar dalam menafsirkan ayat ini, akan tetapi mereka lebih mentendensikan persoalan sebab turun ayat (baca:asbabu an-Nuzul), makna yang dituju dan tentang hal apa yang lebih baik dari pada seribu bulan, apakah perbuatan hamba atau hal lainnya? Namun, bukan persoalan itu saja yang menjadi urgensitas pada pembahasan lailatu al-Qadr. Banyak dari teosofi muslim yang menelisik lebih jauh tentang lailatu al-Qadr sampai pada taraf tanda-tanda, waktu, keutamaan, dan manifestasi bagi orang yang mendapatkannya.
Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatu al-Qadr atas dorongan iman dan mengharap balasan (dari Allah), diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. (H.R Al Bukhari no.1768, An Nasa’i no. 2164, Ahmad no. 8222)

Hadis tersebut menunjukkan nilai persuasif terkandung didalamnya, semakin menjustifikasi bahwa orang-orang yang mendapatkan lailatu al-Qadr adalah mereka yang tepilih dan terbaik diantara orang-orang baik, dalam artian Allah lah yang mempunyai preogatif.
Akan tetapi, disini terbuka lebar perihal kriteria atau karakteristik hamba yang bisa masuk kedalam nominasi. Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihya Ulumuddin, bisa dikatakan memberi isyarat akan korelasi antara ahlu lailati al-Qadr terhadapesensipuasa (baca:Shaum) yang mereka kerjakan.
Beliau mengklasifikasikan puasa kepada tiga tingkatan :
1. Shaumu al-Umum
2. Shaumu al-Khusus
3. Shaumu Khususi al-Khusus

Menarik memang apabila kita mencoba untuk sejenak berkaca, sudah diposisi manakah kita dalam menjalankan ibadah puasa itu sendiri. Karena, puasa erat kaitannya dengan lailatu al-Qadr, dimana seorang hamba akan dihadapkan pada dua keadaan didalam ibadah puasa, antara mengejar keutamaan internal malam tersebut atau memantaskan diri untuk mendapatkan muatan eksternal yang tersirat dibalik eksistensinya. Karena iaadalah salah satu bagian dari keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW yang tidak didapatkan oleh umat terdahulu.Maka puasa yang dikehendaki lebih lanjut bukan hanya sebatas manifestasi individual, tetapi telah mengalami ameliorasi kedalam ruang lingkup sosial-kemanusiaan.

Ini yang Imam Al-Ghozali dan ulama lain katakan agar makan sekadarnya saja pada waktu malam bulan Ramadhan, mulai dari berbuka hingga sahur. Pada akhirnya, jika kapasitas makanan yang diasumsi sama seperti hari lainnya atau bahkan meningkat, seakan hanya mengubah pola makan pada hari diluar puasa.!

Atas berbagai opini mengenai malam al-Qadr, Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam kitab Fathu al-Bari ala Syarh Shohih Bukhori mengatakan setengah ulama berpendapat bahwa lailatu al-Qodrhanyalah satu kali saja, yaitu ketika Al-Qur’an mulai pertama turun. Adapun Lailatul-Qadr yang kita peringati dan memperbanyak ibadat pada tiap malam hari Bulan Ramadhan itu, ialah untuk memperteguh ingatan kita kepada turunnya Al-Qur’an itu.Sudah terang malam itu pasti terjadi dalam bulan Ramadhan.Kita hidupkan malam itu, mengambil berkat dan sempena dan memperbanyak syukur kepada Allah karena bertetapan dengan malam itulah Al-Qur’an mulai diturunkan Allah.Berdiri mengerjakan sembahyang yang disebut qiyamul-lail atau tarawih, di seluruh malam Ramadhan ataupun menambah ramainya di malam 10 yang akhir, pastilah salah satu bertetapan dengan malam turunnya Al-Qur’an.

Bukanlah ini saja hari-hari besar yang disuruh peringati di dalam Agama Islam.Kita pun disuruh mempuasakan 10 Muharram, atau ‘Asyura karena mengenangkan beberapa kejadian pada Nabi-nabi yang terdahulu pada tanggal tersebut. Nabi SAW pun menegakkan beberapa Sunnah dalam manasik haji guna mengenangkan kejadian zaman lampau; seumpama Sa’i antara bukit Shafa dan Marwah mengenangkan betapa sulitnya Hajar mencari air untuk puteranya Ismail di lembah yang tidak bertumbuh-tumbuhan itu. Kita pun disuruh melontar Jumratul ‘Aqabah bersama kedua Jumrah lagi, memperingati perdayaan syaitan kepada Nabi Ibrahim karena akan menyembelih puteranya atas perintah Tuhan.Namun Ibrahim tetap teguh hatinya dan tidak kena oleh perdayaan itu. Maka jika kita tilik memperingati Lailatul-Qadr, atau Malam Kemuliaan, atau Malam Penentuan, dapatlah semuanya kita pertautkan jadi satu, yaitu membesarkan syi’ar Allah untuk menambah Takwa hati.

Dengan begitu tejadi singkronisasi antara lailatu al-Qodr dengan perintah menjalani ibadah berpuasa, sebagaimana Allah SWT berfirman

ياأيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).

Yang perlu digaris bawahi disini ialah kalimat Taqwasebagai sebuah substansi dari eksistensi ibadah kepada Allah SWT, pantaslah apabila kita katakan ia bagaikan mutiara di tengah karang bebatuan indah lainnya. Beberapa Mufassirsangat variatifdalam mengartikannya :

Imam At Thabari menafsirkan ayat ini: “Maksudnya adalah agar kalian bertaqwa (menjauhkan diri) dari makan, minum dan berjima’ dengan wanita ketika puasa”
Imam Al Baghawi memperluas tafsiran tersebut dengan penjelasannya: “Maksudnya, mudah-mudahan kalian bertaqwa karena sebab puasa. Karena puasa adalah wasilah menuju taqwa.Sebab puasa dapat menundukkan nafsu dan mengalahkan syahwat. Sebagian ahli tafsir juga menyatakan, maksudnya: agar kalian waspada terhadap syahwat yang muncul dari makanan, minuman dan jima”
Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan dengan ringkas: “Maksudnya, agar kalian bertaqwa dari maksiat. Sebab puasa dapat mengalahkan syahwat yang merupakan sumber maksiat.”

Seakan dapat dikatakan kualitas ibadah (puasa) seorang muslim itu merupakan syarat mendapatkan lailatu al-Qadr, sehingga dapat meraih kemuliaan dimalam yang mulia.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian” (QS. Al Hujurat: 13)

Mudah-mudahan kita semua dapat menemukan apa yang hilang dari lailati al-Qadr, yaitu sifat muhasabahdiri atau introspeksi agar kita selalu menjadi hamba Allah yang tidak hanya mengharapkan imbalan atas ibadah kita, namun bisa menaiki tingkatan berikutnya bersama para kekasih Allah SWT. Amin.


Written by: Asroruddin Alie Shodiqin

Bagikan Postingan Ini :

Posting Komentar

PAPAN PENGUMUMAN

Popular Post

Facebook Kita

 
Support : KBRI Kairo | Atdik Kairo | PPMI Mesir
Copyright © 2015. SEMA-FDI Universitas Al-Azhar, Mesir - All Rights Reserved