semafdicairo.org, Kairo — Tidak sedikitnya anggota senat yang belum najah di tahun kemarin diduga bukan permasalahan kemampuan yang dimiliki mahasiswa. Masalah itu lebih pada pribadi mahasiswa tersebut, maukah ia belajar atau tidak.
Hal ini terus menjadi sorotan pengurus senat. Tak terkecuali Ketua Majelis Penasehat Besar (MPB) SEMA-FDI Komaruzzaman Hasibuan.
Komaruzzaman melihat ada peran senior dalam hal fasilitas belajar dan kegiatan bimbel. Namun menurutnya, hal terpenting bagi mahasiswa untuk najah, adalah kesadaran diri dan kemauan yang kuat untuk belajar.
Komaruzzaman melihat ada peran senior dalam hal fasilitas belajar dan kegiatan bimbel. Namun menurutnya, hal terpenting bagi mahasiswa untuk najah, adalah kesadaran diri dan kemauan yang kuat untuk belajar.
"Yang paling menonjol masalah pribadi, memang senior membantu, tapi pada hakikatnya kembali pada pribadi," kata Komaruzzaman di akhir metting bersama DPK dan DPH SEMA-FDI di Kairo, Kamis (4/12/2015) malam.
Ketua MPB senat itu menilai, banyak mahasiswa Masisir yang sebelumnya di Indonesia berprestasi, tetapi dalam perjalanan studinya di Al-Azhar mengalami penurunan bahkan unstuck dari studinya di Al-Azhar, hal itu dikarenakan keengganan mereka dalam belajar dan berlatih.
“Bukan karena gak bisa tapi gak mau, gak belajar,” katanya.
Komaruzzaman mengakui, Masisir dari dulu sampai saat ini memiliki keunikan jika dibandingkan dengan di Indonesia. Yang mana di Kairo banyak bimbel dan tidak ditarik biaya, justru malah dapat teh. Sehingga, lebih mempermudah lagi fasilitas belajar dan kenajahan bagi para mahasiswa.
"Di sini bimbel banyak, kalau di sini bimbel gak bayar, malah dapat teh," pungkasnya.
Reported by : SEMA-FDI reporters







Posting Komentar