Selamat Datang di Portal Sema-FDI Kairo

Dr. Yunus Masrukhin Sebut Teologi Asy'ariyah Bersifat Inklusif

Rabu, 9 Maret 2016 | 18.10 CLT

Dari kiri selaku Moderator dan Majelis Penasehat SEMA-FDI Abdul Rouf, Lc.Dipl., Pemateri dan Ketua Dewan Kehormatan SEMA-FDI Dr. KH. Yunus Masrukhin, Pembedah Tgk. H. Amri Fatmi, MA kandidat Doktor Akidah-Filsafat  Universitas Al-Azhar Kairo, di Acara Bedah Disertasi berjudul "Aspek Humanis dalam Diskursus  Ilmu Kalam Perspektif Kaum Asya'riyyah: Pembacaan  Kontemporer atas Urgensitas Akidah Ahlussunnah Wa Al- Jama'ah" di Aula Griya Jawa Tengah, Kairo, Sabtu (5/3) sore.


semafdicairo.org, Kairo — Di era modern kaum Asy'ariyah acap kali menghadapi kritik tajam dari beberapa sarjana-sarjana modern, yang berpikir bahwa fase pengembangan pembacaan terhadap islam telah berakhir. Pengkritik kaum Asy'ariyah memiliki konsensus bahwa periode terbaik pembacaan terhadap islam sudah tutup usia (Islam sebagai sebuah negara dan pengetahuan).

Hal ini lain dengan kredo yang dimiliki kaum Asy'ariyah bahwa pembacaan terhadap islam harus berkembang seiring berjalannya waktu dan mampu menguraikan setiap masalah dengan sorotan Al-Qur'an. Sehingga teologi kaum Asy'ariyah masih tanggap dan mampu menjadi pendorong bagi dinamika peradaban yang hadir dalam bingkai modernitas.

Ketua Dewan Kehormatan SEMA-FDI Yunus Masrukhin mengatakan, teologi Asy'ariyah bersifat inklusif dan terbuka terhadap permasalahan yang kontemporer pada masanya. 

“Saya mempunyai keyakinan bahwa teologi Asy'ari bersifat inklusif, terbuka terhadap permasalahan yang kontemporer pada masanya,” kata Yunus Masrukhin pada acara bedah disertasinya berjudul “Aspek Humanis Dalam Diskursus Ilmu Kalam Perspektif Kaum Asy’ariyah; Pembacaan kontemporer atas Urgensitas Akidah Ahlussunah Wa al-Jama’ah” di Aula Griya Jawa Tengah, Kairo, Sabtu (5/3) sore.

Lebih lanjut ia menyebut kesadaran teologis Asy'ari bersifat seimbang. Sehingga mampu melahirkan bentuk kemanusiaan teologis sebagai bentuk kemanusian sejati.

“Saya sebut dengan moderatisme inklusif,” tuturnya.

Doktor lulusan Fakultas Dirasat Islamaiyah wal 'Arabiyah (Studi Islam dan Arab) itu juga menyoroti relasi manusia dalam beragam dimensi. Secara umum ia membaginya menjadi tiga: dimensi ontologis, epistemologis dan praktis. Yunus pun mengakui pembuktian nilai etik pada dimensi praktis itu tidak hanya pro ketuhanan melainkan juga pro kemanusiaan.

“Dimenesi praktis, pembuktian nilai etik yang tidak hanya pro ketuhanan tapi juga kemanusiaan,” tandasnya.

Berlaku sebagai pembedah dalam acara bedah buku  tersebut  Tgk. H. Amri Fatmi, MA, kandidat Doktor Akidah-Filsafat  Universitas Al-Azhar, dengan moderator handal Abdul Rouf, Lc.Dipl.

Bedah disertasi ini juga dihadiri oleh tamu-tamu agung dari KBRI Kairo, PPMI dan elemen Masisir lainnya.

Acara bedah disertasi ini merupakan  hasil kerja sama SEMA-FDI dengan KSW Mesir, KMF Mesir, Al-Mizan SC, SAS Mesir, El-Montada, PCINU Mesir dan PPMI Mesir.

Reported by : SEMA-FDI reporters









Bagikan Postingan Ini :

Posting Komentar

PAPAN PENGUMUMAN

Popular Post

Facebook Kita

 
Support : KBRI Kairo | Atdik Kairo | PPMI Mesir
Copyright © 2015. SEMA-FDI Universitas Al-Azhar, Mesir - All Rights Reserved