![]() |
| Google Pic. |
Beruntunglah kita yang menganggap bahwa maaf tak pernah serumit apa yang ditunjukkan oleh Derrida. Sehingga daripada itu, maaf serasa menjadi kata yang paling mudah untuk diucapkan, seolah-olah ia justru sanggup menggeser dosa dari tempat asalnya dan seolah-olah ia dengan sendirinya bukan suatu penangguhan akan dosa namun peleburan.
Meminta maaf di hari lebaran, dalam masyarakat kita, nyaris menjadi budaya. Ia mentradisi entah sejak kapan. Tapi yang jelas kita sudah mewarisinya. Dari sini timbul permasalahan yang kita sama-sama sadar namun bebal dan seolah-olah tidak tahu. Bahwa apakah kata maaf yang kita lontarkan kepada setiap orang ketika kita menjumpai mereka benar-benar sudah mampu dikatakan permintaan maaf, atau belum? Jangan-jangan kita terlanjur hapal “mohon maaf” tanpa terlebih dulu tahu esensi dan juga konsekuensi dari memohon maaf itu?
Maaf selalu melibatklan dua pihak: peminta maaf dan pemberi maaf. Tak mungkin ada maaf jika salah satu di antara keduanya absen. Tetapi aral bukan terletak di sana; jalan terjal tepat berada di jantung pemaafan. Sejauh mana maaf bisa didorong kepada sesuatu yang hampir mustahil untuk dimaafkan?
Menurut J.L. Austin, tindak wicara dibagi menjadi dua. Pertama, pernyataan konstatif. Kedua, pernyataan performatif. Yang pertama adalah pernyataan tentang sesuatu dengan apa adanya. Ia hanya menyentuh definitif dan deskriptif tanpa melibatkan aksi. Sebaliknya, pernyataan permofrmatif adalah pernyataan yang tak hanya kata-kata tapi juga dibarengi dengan tindakan. Pada bagian yang kedua, “maaf” pun diletakkan. Maaf tidak hanya pernyataan atas fakta secara apa adanya, tetapi ia harus disertai penyesalan sekaligus tindakan. Di media sosial, kita mewarisi apa yang dulu dilakukan tokoh-tokoh besar di sela-sela acara televisi; keluarga X meminta maaf di depan khalayak seraya menebar senyum. Kini, dengan adanya medsos, orang bisa melakukan hal serupa tanpa berusaha tahu untuk siapa seharusnya permintaan maaf itu ditunjukkan dan ditujukan. Permintaan maaf, dalam hal ini, menjadi acara seremonial belaka.
Di atas sudah disinggung bahwa maaf tak akan absah tanpa adanya dua belah pihak. Dari pihak yang meminta maaf, selain kata-kata, meminta maaf memiliki konsekuensi untuk tidak melakukan hal yang di kemudian hari akan menimbulkan permintaan maaf serupa. Misalnya, seseorang secara jelas menyakiti hati orang lain, baik melalui tutur kata maupun tindakan, yang orang itu dengan sadar melakukannya. Di satu kesempatan yang katanya fitri ini, ia kemudian meminta maaf (bahkan secara broadcasting) tanpa memiliki azam untuk tidak menyakiti siapapun di kemudian hari. Hal seperti ini, menurut Derrida, bukan permintaan maaf.
Di sisi pemberi maaf, ia tak boleh menyertakan syarat agar ia memaafkan. Misalnya, ia dimintai maaf oleh seseorang yang dulu pernah dengan sengaja mengencingi mukanya. Kemudian kepadanya ia mengajukan syarat tertentu (bahkan syarat untuk tidak melakukan hal serupa di kemudian hari?). Pemberian maaf seperti ini belum termasuk memberi maaf. Memberi maaf harus telanjang dari motif dan terlepas dari segala bentuk kontrak. Itulah mengapa, maaf harus didorong kepada hal yang seharusnya mustahil untuk dimaafkan. Menurut Derrida, maaf yang benar-benar maaf adalah memaafkan sesuatu yang nyaris mustahil untuk dimaafkan. Memaafkan atas hal yang lumrah dimaafkan, belum mencapai esensi pemaafan.
Maka perkaranya, apa hal yang “nyaris mustahil” untuk dimaafkan itu? Jawabannya tentu relatif. Tiap orang punya penilaian atas kriteria pemaafan yang timbul dari sisi terdalam pengalamannya. Boleh jadi, memaafkan pacar yang selingkuh, justru bagi satu orang adalah suatu tindakan yang sudah mampu menyentuh inti pemaafan. Sedang bagi orang lain, selingkuh adalah hal lumrah yang dengan mudah bisa dimaafkan bahkan jika pun sang pacar tidak meminta maaf. Syahdan, beruntunglah kita yang tak pernah neko-neko memahami “maaf”. Barangkali cukup bagi kita untuk memasang muka sumringah di depan kamera sambil meminta maaf entah pada siapa. Sayangnya, Derrida tak pernah merayakan lebaran. Dan untungnya, banyak dari yang merayakan lebaran tak kenal Derrida.
Written by : Mohamad Samsul Arifin








Posting Komentar