SEMA-FDI penuhi undangan Forum Diskusi PPMI dengan tema "Peran Alumni Timur Tengah Dalam Pembangunan Bangsa" (18/03/2017) sore
Opini ini hadir sebagai bentuk apresiasi
dari terselenggaranya acara yang bertajuk “Peran Alumni Timur Tengah dalam
Membangun Bangsa”. Acara tersebut kali pertama hadir di tengah-tengah
Masisir yang diprakarsai oleh DP-PPMI 2016-2017 bekerja sama dengan pelbagai
lapisan organisasi yang ada di kairo, bertempat di Cafe Sybal Abbas Akad, Sabtu 18 Maret 2017. Dan juga hadir bapak Atdikbud serta sepuluh mahasiswa
senior yang sekaligus menjadi narasumber pada acara
ini. Tentunya diskusi yang penuh merdeka dan terbuka ini
tidak hanya cukup sekali saja. Kami berharap semoga acara ini bisa
terealisasikan setidaknya satu semsester sekali.
Menilik tema acara di atas, ada
dua sudut pandang yang harus kita bedakan. Pertama, bagaimana kita memandang peran alumni Timur Tengah untuk bangsa Indonesia yang bersifat
personalitas—kepribadian kolektif yang tumbuh dan
berkembang seperti kemampuan kreatif dan inovasi yang dimiliki oleh seorang individu.
Seperti Prof. Quraish Shihab, Dr. Mukhlis Hanafi dkk,. Dan kedua, bagaimana
memandang peran alumni yang bersifat identitas—ciri atau keadaan khusus
seseorang yang meliputi bagaimana jati diri seseorang. seperti Abdur Rahman
Wahid (Gus Dur), Kang Abiq, dan alumnus
yang mengembangkan sayapnya dibidang traveling dan lain sebagainya. Namun hanya pada point pertama yang akan menjadi tema fokus kali ini.
Memang umat Islam di dunia Timur cenderung
mengedepankan kesadaran mistik dan kesalehan individual yang diibaratkan dengan
larut dalam tasbih demi mencapai keselamatan akhirat, sementara problem sekitar
ternafikan. Semisal, bahasa pengantar dalam perkuliahan lebih kental dengan
penyampaian bahasa-bahasa non-formal (‘amiyah) dengan alasan, mayoritas
mahasiswa pribumi akan tidak sempurna dalam menangkap materi perkuliahan yang
disampaiakn. Semestinya, para dosen pengajar tidak mengamini doa-doa mahasiswa
pribumi demi mempertimbangkan mahasiswa yang datang dari belahan dunia dan
mayoritas mereka hanya memahami dengan percakapan-percakapan bahasa formal (fush‑ha).
Di lingkup kuliah Al-Azhar
sendiri,
metode pembelajaran yang diterapkan hingga saat ini
adalah hasil kontinuitas dari pola tradisionalis
yang ada. Serta silabus perkuliahan tiap tahunnya lebih bersifat
dogmatis. Pola
pengajaran antara Dosen dan Mahasiswa hanya terjadi pada satu arah—dosen
mengajar, mahasiswa mendengar dan tidak ada kelas diskusi intens setelahnya,
begitu seterusnya. Sedangkan bila diperbandingkan dengan lembaga atau institusi
pendidikan Islam non-formal yang ada di Indonesia,
seperti Pesantren, para santri dituntut
untuk selalu berpikir secara kritis, diajari bagaimana cara memahami satu kitab
atau isu kompleksitas sosial yang sedang berkembang untuk kemudian dikritik dan
diperbandingkan dengan yang lain, hal ini tentu lebih maju dan lebih dinamis
dari metode belajar yang ada di kampus tersebut. Oleh
karenanya, Mahasiswa cenderung terjebak pada rutinitas yang pasif, macet
kreativitas, dan tidak memiliki pengaruh yang penting terhadap lingkungan. Mahasiswa
tidak diajarkan dan tidak mendapat perhatian khusus untuk mengakomodasi program
sosial sehingga peran pemuda dalam hal ini menjadi diperhitungkan dan terkesan
kaku dalam menanggapi situasi sosial-kemasyarakatan.
Pada posisi ini pendidikan Timur Tengah harus
mengandung nilai humanisasi, liberasi dan transedensi ilahiah. Sebagaimana
disitir oleh Kuntowijoyo melalui konsep pendidikan profetik. Gagasan profetik
Kuntowijoyo berpijak pada tiga elemen utama: humanisasi yang mana merupakan
pengejawantahan dari ta’muru bil ma’ruf, liberasi dari tanha ‘anil
munkar dan transedensi dari tu’minu billah. Konsep ini berakar dari
Q.S Ali Imran 3:110: “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk
manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar dan beriman
kepada Allah”.
Sedangkan di era persaingan global ini kita dituntut
untuk menjadi insan aktif dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang ada.
Seorang penulis asal Amerika, Richard Florida, mengemukakan suatu pendapat
dalam bukanya The Rise of The Creative Class: kelas kreatif adalah
segelintir orang dalam sebuah negara (di Amerika Serikat, menurut estimasi
Richard adalah sekitar tiga puluh persen dari seluruh angkatan kerja yang ada)
yang menjadi penggerak ekonomi dan kemajuan-kemajuan lain di masyarakat karena
inovasinya yang terus-menerus mengubah cara-cara yang lama.
Padahal sesungguhnya out put
Timur Tengah disamping
mampu mentransfer dan memelihara tradisi dan ilmu-ilmu ke-Islam-an, memainkan fungsi-fungsi
tradisionalis yang ia dapatkan dari pola pembelajaran tersebut juga mampu berimbang dengan terobosan-terobosan yang bersifat aktif,
kreatif
dan produktif maka mereka akan mampu menjadi
agen perubahan dan pembangunan bangsa yang saleh nan
akram.
DP Pendidikan SEMA-FDI 16/17
Arif Masduki Ikhsan











Posting Komentar