Dr. Abdullah Fathi: ” Ilmu ushul fikih itu sangat berhubungan erat dengan ilmu- ilmu
yang diajarkan di Fakultas Dirasat Islamiyah.”
Oleh: Hengki Amsaleh
Ahad (29/9)
adalah pengalaman pertamaku masuk kampus tersohor di dunia,
Universitas al-Azhar asy-Syarif Kairo Mesir.
Kampus Fakultas Dirasat Islamiyah wal ‘Arabiyah yang terletak di
Hay Sadis, Madinat Nasr itu membuatku semangat untuk menimba ilmu di sana. Awal
pertama masuk, saya ikut kelas Mazhab Syafii, yaitu kelas Imam Nawawi yang di
mana kelas tersebut dipenuhi oleh mahasiswa Mesir yang notabene mereka jago
bahasa Arab ‘ammiyah. Selain mahasiswa Mesir, ada juga mahasiswa
dari berbagai belahan dunia, dan ada satu hal yang saya khawatirkan ketika
menjadi satu ruangan dengan mahasiswa Mesir yaitu apabila dosen yang mengajar
menggunakan bahasa Arab ‘ammiyah. Dan tenyata benar,
dosen yang mengajar pada saat itu adalah Dr. Ibrahim, beliau mengajar
bahasa Inggris dengan pengantar bahasa Arab ‘ammiyah.
Tetapi saya bersyukur, meskipun beliau mengajar dengan bahasa ‘ammiyah, saya
bisa memahaminya karena materi yang disampaikan tidak jauh berbeda dengan yang
pernah saya pelajari sewaktu di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung. Beliau
menjelaskan tentang pembentukan kalimat dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab,
dimana ada perbedaan, yaitu kalimat dalam bahasa Arab dibagi menjadi
dua, yaitu jumlah ismiyah (kalimat yang diawali dengan kata benda) dan jumlah
fi’liyah (kalimat yang diawali dengan kata kerja), sedangkan di dalam bahasa
Inggris, kalimat hanya ada dalam bentuk jumlah ismiyah dan tidak ada jumlah
fi’liyah. Begitupula dengan kata dalam bahasa inggris terbagi menjadi subjek (pelaku), verb (kata
kerja), objek (obyek) , adjective (kata
sifat) dan adverb (kata sambung), sedangkan dalam
bahasa Arab, kalimat terbagi menjadi tiga, yaitu ism (kata
benda), fi’il (kata kerja) dan harf (kata
sambung). Itulah sekilas mengenai perbedaan susunan kata dan
kalimat di dalam Bahasa Arab dan bahasa Inggris.
Pada jam kuliah
selanjutnya, kami para wafidin pindah ke kelas Ibnu Hajar
karena dosen pengajar ushul fikih memanggil sebagian dari kami agar mengikuti
pelajaran beliau. Alhamdulilllah, beliau menjelaskan materi dengan
bahasa Arab fusha. Beliau menjelaskan mengenai hubungan
antara Fakultas Dirasat Islamiyah wa Arabiyah dengan
pelajaran ushul fikih. Beliau, Dr. Abdullah Fathi menjelaskan bahwa
Fakultas Dirasat itu memiliki tiga titik focus utama dalam belajar,
diantaranya :
Pertama, Qismu (bagian) Lughah al-‘Arabiyah.
Dalam bagian ini mempelajari empat titik utama, yaitu Ushul al-Lughah (Ma’ajim
wal Lahjah, dsb), Lughawiyat (Nahwu, Sharf, Arudh,
dsb), Balaghah wa an-Naqd (Ma’ani, Bayan, Badi’,
dsb), Adab wa an-Naqd (Adab Jahily dan Adab
Islamy, dsb).
Kedua, Qismu (bagian) Ushuluddin. Dalam
bagian ini mempelajari tiga titik utama, yaitu Aqidah dan Filsafat (Tauhid,
Mantiq, Tayyarat al-Fikriyah, dsb), Tafsir dan Ulumul Quran
(Tafsir, Ulumul Quran, Tajwid, dsb), Hadits dan Mushtalah al-Hadits.
Ketiga, Qismu (bagian) Syariah al-Islamiyah.
Dalam bagian ini memiliki dua titik utama, yaitu Fiqhul ‘Ammah (Fiqhul
Mazahib, Fiqhul Muqaran, Tarikh at-Tasyri’, Qa’ah
al-Bahts, Fiqhul Lughah, Ahwal asy-Syakhsiyah,dsb)
dan Ushul Fikih (Ushul Fikih Thariqatu al-Mutakalimin (Maliki-Syafi’i-Hanbali))
Selain tiga
titik fokus diatas, ada juga tambahan dari Kuliyah at-Tarbiyah,
seperti Tarbiyah wal ‘Ulum an-Nafs (pendidikan dan ilmu jiwa),
al-Manahij wat Turuqut Tadris (metode dan tata cara
mengajar), Dirasat al-‘Arabiyah (pendidikan bahasa Arab) dan
mempelajari bahasa asing, yaitu bahasa Inggris.
Beliau
menegaskan bahwa keunggulan Fakultas Dirasat Islamiyah adalah
diajarkan berbagai bidang ilmu, fakultas ini merupakan metamorfosa
baru dari Masjid al-Azhar yang dulu, mampu mencetak ulama’ yang
memiliki malakah keilmuwan dalam berbagai bidang. Itulah
seorang ulama’, dimana ia memiliki takhasus atau keunggulan
dalam satu bidang, tetapi memiliki pengetahuan yang luas (tsaqafah) terhadap
ilmu yang lainnya. Lantas bagaimana lulusan Fakultas Dirasat Islamiyah bisa
memiliki keunggulan dalam bidang tertentu? Mereka bisa memiliki keunggulan
dalam satu bidang, yaitu dengan syarat mereka melanjutkan program
Magister dan program Doktor. Dengan begitu mereka akan memiliki malakah keilmuwan
yang tinggi, hal ini harus ditunjang dengan usaha keras dalam belajar dan muzakarah.
Dari perkataan
beliau yang perlu digaris bawahi ialah ilmu ushul fikih itu sangat berhubungan
erat dengan ilmu- ilmu yang diajarkan di Faklutas Dirasat
Islamiyah. Kemudian beliau membuktikan dengan
membuka kitab ushul fikih dan membacakan beberapa sub bab
yang ada di dalamnya dan beliau mengambil contoh yang berhubungan
dengan aqidah, tafsir dan hadits.
Oleh sebab itu,
kalian para calon ulama masa depan, ulama yang tidak mengharapkan
kedudukan dan jabatan, ulama yang yang dinanti-natikan, ulama yang moderat dan
menebarkan kasih sayang, yakni ulama yang berkhidmat pada al-Azhar dengan
menampakkan akhlak seorang Azhary pada dunia, sehingga mereka
akan memandang keindahan dan kedamaian yang nampak pada diri seorang
muslim, khususnya kalian para Azhary!
Janganlah kita
sampai lengah dengan nikmat sehat dan waktu kosong, mari
kita gunakan waktu kita dengan sebaik-baiknya. Ingatlah! Bahwa
waktu kita disini akan dipertanyakan oleh Allah SWT kelak, maka tidak ada
jawaban yang paling menggembirakan kecuali menuntut ilmu. Jangan sampai suatu
saat nanti ketika kita ditanya, kita akan mengatakan, “Kami
tidak sempat belajar di sana.” Kita jangan sampai seperti unta
yang mati kehausan. Begitu juga dengan kita, jangan sampai mengatakan tidak
bisa belajar, padahal kita berada di dalam gudangnya ilmu, berada di dalam
lingkaran ahli ilmu, hanya saja kita masih terlena oleh tipu daya dunia.
Sekian.








Posting Komentar