Selamat Datang di Portal Sema-FDI Kairo

Menyingkap Hukum Puasa Rajab menurut 4 Madzhab


Menyingkap Hukum Puasa Rajab menurut 4 Madzhab


Hasil gambar untuk rajab 2020


          Puasa sunnah merupakan amal ibadah tambahan yang tentunya memiliki banyak manfaat, baik dari segi rohani maupun jasmani. Akan tetapi, terkadang kita disibukkan untuk mencari landasan dalil yang menguatkan akan kebolehan berpuasa pada hari tersebut karena tentunya kita beramal untuk mengikuti sunnah Baginda Rasulillah SAW dan mengharap ridho Allah SWT. Dalam al-Quran,  Allah SWT berfirman
"إن أكرمكم عند الله أتقاكم...."
Artinya,”Manusia terbaik dalam pandangan Allah SWT adalah manusia yang paling bertaqwa.

          Dan siapakah yang bisa mengetahui manusia yang paling bertaqwa diantara hambaNya? Tentunya Allah SWT.  Kita diciptakan oleh Allah untuk mengabdi kepada-Nya, taat terhadap apa yang diperintahkanNya dengan jalan mengikuti Nabi Muhammad SAW sebagai utusanNya. Dari sekian banyak cara ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, puasa adalah salah satunya. Puasa itu sendiri ada yang dihukumi Wajib dan ada Mandub (Sunnah). Puasa Rajab itu sendiri termasuk ibadah puasa yang dihukumi mustahab atau dianjurkan oleh jumhur fuqaha’.


Pandangan Ulama' 4 Madzhab Terkait Puasa Rajab.

Dalam Madzhab Hanafi banyak dibahas mengenai hal tersebut, sebagai contoh yang dikutip dalam kitab Fatawa al-Hindiyah bahwa diantara puasa yang disukai ada beberapa macam, diantaranya adalah pertama puasa di Bulan Muharam, kedua Puasa di Bulan Rajab, ketiga adalah Puasa di Bulan Sya’ban, dan keempat adalah Puasa di Bulan ‘Asyura.


          Dalam Madzhab Maliki yang dikutip dalam Syarah al-Dardir ‘ala Khalil dengan redaksi berikut:  
"(والمحرم ورجب وشعبان) يعنى: أنه يستحب صوم شهر المحرم وهو أول الشهور الحرم، ورجب وهو الشهر الفرد عن الأشهر الحرم)
“Dianjurkan berpuasa pada bulan Muharam, Rajab dan Sya’ban, dan demikian pula pada bulan-bulan Haram lebih utama dengan urutan Muharam, Rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah.”


          Sedangkan dalam Madzhab Syafi’i yang dikutip dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Imam Nawawi menerangkan bahwa Ulama Madzhab Syafii berkata:
"قال أصحابنا: ومن الصوم المستحب صوم الأشهر الحرم، وهي ذو القعدة و ذو الحجة والمحرم ورجب، وأفضلها المحرم."
” Diantara puasa yang dianjurkan ialah puasa pada bulan-bulan haram, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharam, dan Rajab. sedangkan yang  paling utama adalah Muharam.”


 Begitu juga mengenai anjuran berpuasa di Bulan Rajab juga terdapat dalam Kitab Mughni al-Muhtaj dengan redaksi yang senada dengan Kitab Nihayah al-Muhtaj, yaitu
 "أفضل الشهور للصوم بعد  رمضان الأشهر الحرم، ولأفضلها المحرم لخبر مسلم {أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ثم رجب} خروجا من خلاف من فضله على الأشهر الحرم ثم باقيها ثم شعبان."
Dari ibarat tersebut kita dapat disimpulkan bahwa bahwa puasa yang paling utama setelah Puasa Ramadhan ialah puasa di Bulan Muharam, kemudian puasa di Bulan Rajab dan Sya’ban.

Sedangkan dalam Madzhab Hanbali sebagiamana yang terdapat dalam Kitab al-Mughni, Ibnu Khudamah berkata “Mengkhususkan puasa pada Bulan Rajab itu hukumnya makruh. Imam Ahmad berkata:”Jika seseorang ingin berpuasa pada bulan tersebut, maka berpuasalah sehari atau beberapa hari dan tidak seluruhnya. Dalam riwayat lain ”Dianjurkan untuk tidak berpuasa secara terus menerus, hingga menyerupai puasa pada Bulan Ramadhan.”


Pendapat tersebut hampir sama dengan Ibnu Taimiyah dalam  Fatawa al-Kubra nya menyatakan bahwa hadits tentang pengkhususan Puasa Rajab semuanya dhaif, bahkan maudhu’, dengan redaksi berikut ini:

"وأما صوم رجب بخصوصه فأحاديثه كلها ضعيفة بل موضوعة." 

Sedangkan Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan bahwa  kemakruhan berpuasa pada Bulan Rajab akan hilang dengan tidak berpuasa sebulan penuh. Imam Ahmad juga menyatakan bahwa tidak berpuasa Rajab secara penuh kecuali bagi yang berpuasa terus-menerus.(Kitab Lathaif al-Ma’arif)


Fadhilah Puasa Rajab.

          Dalam Kitab al-Hawi li al-Fatawi yang dituliskan oleh Imam Jalaluddin as-Suyuti terdapat beberapa hadits yang menerangkan tentang keutamaan Puasa di Bulan Rajab, diantaranya hadist yang diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik ra, Rasulullah SAW bersabda:

"إن في الجنة نهرا، يقال له رجب ماؤه أشد بياضا من اللبن وأحلى من العسل، من صام يوما من رجب سقاه الله من ذلك النهر"
Artinya:”Sungguh di dalam surga itu terdapat sungai yang disebut dengan Sungai Rajab. Airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Barangsiapa yang berpuasa sehari di Bulan Rajab, maka Allah SWT akan memberi minum orang itu dari air sungai tersebut.”


"من صام من كل شهر الحرام الخميس والجمعة والسبت كتب له عبادة سبعمائة سنة"
Artinya:”Barangsiapa yang berpuasa di bulan haram, yaitu pada Hari Kamis, Jumat, dan Sabtu, maka akan ditulis baginya ibadah 700 tahun.”


"من صام يوما من رجب كان كصيام شهر، ومن صام منه سبعة أيام أغلقت عنه أبواب جهنم السبعة، ومن صام منه ثمانية أيام فتحت له أبواب الجنة الثمانية، ومن صام منه عشرة أيام بدلت سيئاته حسنات"
Artinya:”Barangsiapa berpuasa sehari pada Bulan Rajab bagaikan berpuasa sebulan. Barangsiapa berpuasa 7 hari, maka 7 pintu neraka dikunci untuknya. Dan barangsiapa berpuasa 8 hari, maka akan dibukakan baginya 8 pintu surga. Dan barangsiapa berpuasa selama 10 hari, maka amal-amal buruknya akan diganti dengan amal-amal kebaikan.”


          Adapun pendapat Ibnu Hajar yang termaktub dalam Fatawa Ibn Hajar mengenai hukum ketiga hadits tersebut, beliau mengatakan bahwa hadits tersebut tidaklah maudhu’(palsu), akan tetapi dhaif(lemah), dan diperbolehkan meriwayatkannya serta mengamalkannya sebagai fadhail. 


          Hadits seputar keutamaan Bulan Rajab sudah pernah dikaji oleh Ibnu Hajar dituliskan dalam Kitab Tabyin al-‘Ajab bi ma Warada Fadhli Rajab, dalam kitab tersebut beliau berkata:

"لم يرد في فضل شهر رجب، ولا في صيامه، ولا في صيام شيئ منه معين، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة. وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ. ولكن اشتهر أن أهل العلم يتسمحون في إيرد الأحاديث في الفضائل وإن كان فيها ضعيف، ما لم تكن موضوعة."
Artinya:”Tidak ada Hadits Sahih yang bisa dijadikan hujah terkait keutamaan Bulan Rajab, dan tidak pula pada keutamaan puasa pada bulan tersebut, dan puasa khusus yang ada pada bulan tersebut, serta beribadah pada malam tertentu di Bulan Rajab. Terkait masalah ini sudah pernah dikaji oleh Imam Abu Ismail al-Harawi al-Hafidz. Meskipun demikian, sebenarnya para ulama membolehkan mengamalkan hadits sebagai fadhilah walaupun kualitasnya lemah dan tidak termasuk maudhu’(palsu).”

          Imam an-Nawawi dalam kitabnya Al-Tibyan Fi Adabi Hamalati al-Quran mengatakan bahwa
"واعلم أن العلماء من أهل الحديث وغيرهم جوزا العمل بالضعيف في فضئل الأعمال."
Artinya:”Ketahuilah, bahwa para ulama dari kalangan ahli hadits dan selainnya membolehkan beramal dengan  Hadits Dhaif (lemah) sebagai fadhail amal.”


          Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa puasa di Bulan Rajab menurut jumhur fuqaha –Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafiiyah- adalah Mustahab (dianjurkan). Sedangkan dalam Madzhab Hanabilah dikatakan bahwa yang disunnahkan puasa dalam bulan haram adalah Puasa Muharam dan mengkhususkan puasa pada Bulan Rajab adalah Makruh. (Mausu’ah al-Fiqh al-Kuwaitiyah).



          Setelah posisi para ulama’ madzhab jelas bagi kita, bahwa ini adalah masalah khilafiyah yang mu’tabar antara yang menghukumi sunnah dan makruh, maka seharusnya tidaklah ada kefanatikan dalam diri seorang muslim yang sama-sama umat Rasulullah SAW. Dan tidak pula membid’ahkan satu dengan yang lain.


Dalam beribadah tentunya yang kita harapkan adalah keridhoan Allah semata bukan yang lain. Dengan demikian, kita berusaha untuk melakukannya dengan semaksimal mungkin, masalah hasil yang akan kita dapatkan kelak adalah urusan Allah, bila kita beramal dan mendapatkan ridhoNya, maka semua yang Allah janjikan pasti akan diberikan kepada kita. Wallahu A’la  wa A’lam. (Hengki Shalih Azhari)



         
.
.
.
.
*untuk dalil yang digunakan dalam pengambilan hukum 4 madzhab bisa dilihat dikitab Shaum Syahri Rajab baina al-Mujizin wa al-mani’in yang ditulis oleh Syaikh Abdul Fattah bin Shalih Qudaisy al-Yafi’i.
.
.
.
Referensi:
11.    Kitab Shaum Syahri Rajab baina al-Mujizin wa al-mani’in yang ditulis oleh Syaikh Abdul Fattah bin Shalih Qudaisy al-Yafi’i
  2.  Kitab al-Hawi li al-Fatawi yang ditulis oleh Imam Jalaluddin al-Suyuti
33.   Kitab Al-Tibyan Fi Adabi Hamalati al-Quran yang ditulis oleh Imam Nawawi

44.  https://islam.nu.or.id


Bagikan Postingan Ini :

Posting Komentar

PAPAN PENGUMUMAN

Popular Post

Facebook Kita

 
Support : KBRI Kairo | Atdik Kairo | PPMI Mesir
Copyright © 2015. SEMA-FDI Universitas Al-Azhar, Mesir - All Rights Reserved