Menyingkap Hukum Puasa Rajab menurut 4 Madzhab
Puasa
sunnah merupakan amal ibadah tambahan yang tentunya memiliki banyak manfaat,
baik dari segi rohani maupun jasmani. Akan tetapi, terkadang kita disibukkan
untuk mencari landasan dalil yang menguatkan akan kebolehan berpuasa pada hari
tersebut karena tentunya kita beramal untuk mengikuti sunnah Baginda Rasulillah
SAW dan mengharap ridho Allah SWT. Dalam
al-Quran, Allah SWT berfirman
"إن أكرمكم عند الله أتقاكم...."
Artinya,”Manusia terbaik dalam pandangan Allah SWT adalah manusia yang paling bertaqwa.”
Dan siapakah yang bisa mengetahui manusia yang paling bertaqwa diantara hambaNya? Tentunya Allah SWT. Kita diciptakan
oleh Allah untuk mengabdi kepada-Nya, taat terhadap apa yang diperintahkanNya
dengan jalan mengikuti Nabi Muhammad SAW sebagai utusanNya. Dari sekian banyak cara
ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, puasa adalah salah satunya. Puasa itu
sendiri ada yang dihukumi Wajib dan ada Mandub (Sunnah). Puasa Rajab itu
sendiri termasuk ibadah puasa yang dihukumi mustahab atau dianjurkan oleh jumhur fuqaha’.
Pandangan Ulama' 4 Madzhab Terkait Puasa Rajab.
Dalam Madzhab Hanafi banyak dibahas mengenai hal tersebut, sebagai contoh yang dikutip
dalam kitab Fatawa al-Hindiyah bahwa diantara puasa yang disukai ada beberapa
macam, diantaranya adalah pertama puasa di Bulan Muharam, kedua Puasa
di Bulan Rajab, ketiga adalah Puasa di Bulan Sya’ban, dan keempat adalah Puasa
di Bulan ‘Asyura.
Dalam Madzhab Maliki
yang dikutip dalam Syarah al-Dardir ‘ala Khalil dengan
redaksi berikut:
"(والمحرم
ورجب وشعبان) يعنى: أنه يستحب صوم شهر المحرم وهو أول الشهور الحرم، ورجب وهو
الشهر الفرد عن الأشهر الحرم)
“Dianjurkan berpuasa pada bulan
Muharam, Rajab dan Sya’ban, dan demikian pula pada bulan-bulan Haram lebih
utama dengan urutan Muharam, Rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah.”
Sedangkan dalam Madzhab
Syafi’i yang dikutip dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Imam Nawawi
menerangkan bahwa Ulama Madzhab Syafii berkata:
"قال أصحابنا: ومن الصوم
المستحب صوم الأشهر الحرم، وهي ذو القعدة و ذو الحجة والمحرم ورجب، وأفضلها
المحرم."
” Diantara puasa yang dianjurkan
ialah puasa pada bulan-bulan haram, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharam, dan
Rajab. sedangkan yang paling utama adalah Muharam.”
Begitu
juga mengenai anjuran berpuasa di Bulan Rajab juga terdapat dalam Kitab
Mughni al-Muhtaj dengan redaksi yang senada dengan Kitab Nihayah al-Muhtaj,
yaitu
"أفضل الشهور للصوم بعد رمضان الأشهر الحرم، ولأفضلها المحرم لخبر مسلم
{أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ثم رجب} خروجا من خلاف من فضله على الأشهر
الحرم ثم باقيها ثم شعبان."
Dari ibarat tersebut kita dapat disimpulkan
bahwa bahwa puasa yang paling utama setelah Puasa Ramadhan ialah puasa di
Bulan Muharam, kemudian puasa di Bulan Rajab dan Sya’ban.
Sedangkan dalam Madzhab Hanbali
sebagiamana yang terdapat dalam Kitab al-Mughni, Ibnu Khudamah
berkata “Mengkhususkan puasa pada Bulan Rajab itu hukumnya makruh. Imam Ahmad
berkata:”Jika seseorang ingin berpuasa pada
bulan tersebut, maka berpuasalah sehari atau beberapa hari dan tidak
seluruhnya. Dalam riwayat lain ”Dianjurkan untuk tidak berpuasa secara terus menerus, hingga menyerupai puasa pada Bulan Ramadhan.”
Pendapat tersebut hampir sama dengan Ibnu Taimiyah dalam Fatawa al-Kubra nya menyatakan bahwa hadits tentang
pengkhususan Puasa Rajab semuanya dhaif, bahkan maudhu’, dengan redaksi berikut
ini:
"وأما صوم رجب بخصوصه فأحاديثه كلها ضعيفة بل موضوعة."
Sedangkan Ibnu Rajab al-Hanbali
mengatakan bahwa kemakruhan berpuasa
pada Bulan Rajab akan hilang dengan tidak berpuasa sebulan penuh. Imam Ahmad juga
menyatakan bahwa tidak berpuasa Rajab secara penuh kecuali bagi yang berpuasa
terus-menerus.(Kitab Lathaif al-Ma’arif)
Fadhilah Puasa
Rajab.
Dalam
Kitab al-Hawi li al-Fatawi yang dituliskan oleh Imam Jalaluddin as-Suyuti
terdapat beberapa hadits yang menerangkan tentang keutamaan Puasa di Bulan
Rajab, diantaranya hadist yang diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik ra,
Rasulullah SAW bersabda:
"إن في الجنة نهرا، يقال له
رجب ماؤه أشد بياضا من اللبن وأحلى من العسل، من صام يوما من رجب سقاه الله من ذلك
النهر"
Artinya:”Sungguh di dalam surga itu terdapat sungai yang disebut dengan
Sungai Rajab. Airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu.
Barangsiapa yang berpuasa sehari di Bulan Rajab, maka Allah SWT akan memberi minum orang itu dari
air sungai tersebut.”
"من
صام من كل شهر الحرام الخميس والجمعة والسبت كتب له عبادة سبعمائة سنة"
Artinya:”Barangsiapa yang berpuasa di bulan haram, yaitu pada Hari
Kamis, Jumat, dan Sabtu, maka akan ditulis baginya ibadah 700 tahun.”
"من
صام يوما من رجب كان كصيام شهر، ومن صام منه سبعة أيام أغلقت عنه أبواب جهنم
السبعة، ومن صام منه ثمانية أيام فتحت له أبواب الجنة الثمانية، ومن صام منه عشرة
أيام بدلت سيئاته حسنات"
Artinya:”Barangsiapa berpuasa sehari pada Bulan Rajab bagaikan berpuasa
sebulan. Barangsiapa berpuasa 7 hari, maka 7 pintu neraka dikunci
untuknya. Dan barangsiapa berpuasa 8 hari, maka akan dibukakan baginya
8 pintu surga. Dan barangsiapa berpuasa selama 10 hari, maka amal-amal
buruknya akan diganti dengan amal-amal kebaikan.”
Adapun pendapat Ibnu
Hajar yang termaktub dalam Fatawa Ibn Hajar mengenai hukum ketiga
hadits tersebut, beliau mengatakan bahwa hadits tersebut tidaklah maudhu’(palsu),
akan tetapi dhaif(lemah), dan diperbolehkan meriwayatkannya serta mengamalkannya
sebagai fadhail.
Hadits
seputar keutamaan Bulan Rajab sudah pernah dikaji oleh Ibnu Hajar dituliskan dalam Kitab Tabyin al-‘Ajab bi ma Warada Fadhli Rajab, dalam
kitab tersebut beliau berkata:
"لم
يرد في فضل شهر رجب، ولا في صيامه، ولا في صيام شيئ منه معين، ولا في قيام ليلة
مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة. وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل
الهروي الحافظ. ولكن اشتهر أن أهل العلم يتسمحون في إيرد الأحاديث في الفضائل وإن
كان فيها ضعيف، ما لم تكن موضوعة."
Artinya:”Tidak ada Hadits
Sahih yang bisa dijadikan hujah terkait keutamaan Bulan Rajab, dan tidak pula pada keutamaan puasa pada bulan tersebut, dan puasa khusus yang ada pada bulan tersebut, serta beribadah pada malam tertentu di Bulan Rajab. Terkait masalah ini sudah pernah dikaji oleh Imam Abu Ismail al-Harawi al-Hafidz. Meskipun demikian, sebenarnya
para ulama membolehkan mengamalkan hadits sebagai fadhilah walaupun
kualitasnya lemah dan tidak termasuk maudhu’(palsu).”
Imam
an-Nawawi dalam kitabnya Al-Tibyan Fi Adabi Hamalati al-Quran mengatakan bahwa
"واعلم
أن العلماء من أهل الحديث وغيرهم جوزا العمل بالضعيف في فضئل الأعمال."
Artinya:”Ketahuilah, bahwa
para ulama dari kalangan ahli hadits dan selainnya membolehkan beramal dengan Hadits Dhaif (lemah) sebagai fadhail amal.”
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa puasa di Bulan Rajab menurut jumhur fuqaha –Hanafiyah,
Malikiyah, dan Syafiiyah- adalah Mustahab (dianjurkan). Sedangkan dalam Madzhab Hanabilah
dikatakan bahwa yang disunnahkan puasa dalam bulan haram adalah Puasa Muharam
dan mengkhususkan puasa pada Bulan Rajab adalah Makruh. (Mausu’ah al-Fiqh
al-Kuwaitiyah).
Setelah posisi para ulama’ madzhab jelas bagi kita, bahwa ini adalah
masalah khilafiyah yang mu’tabar antara yang menghukumi sunnah dan makruh, maka seharusnya
tidaklah ada kefanatikan dalam diri seorang muslim yang sama-sama umat
Rasulullah SAW. Dan tidak pula membid’ahkan satu dengan yang lain.
Dalam
beribadah tentunya yang kita harapkan adalah keridhoan Allah semata bukan yang
lain. Dengan demikian, kita berusaha untuk melakukannya dengan semaksimal
mungkin, masalah hasil yang akan kita dapatkan kelak adalah urusan Allah, bila
kita beramal dan mendapatkan ridhoNya, maka semua yang Allah janjikan pasti
akan diberikan kepada kita. Wallahu A’la wa A’lam. (Hengki Shalih Azhari)
.
.
.
.
*untuk dalil yang digunakan dalam
pengambilan hukum 4 madzhab bisa dilihat dikitab Shaum Syahri Rajab baina al-Mujizin
wa al-mani’in yang ditulis oleh Syaikh Abdul Fattah bin Shalih Qudaisy al-Yafi’i.
.
.
.
Referensi:
11. Kitab Shaum
Syahri Rajab baina al-Mujizin wa al-mani’in yang ditulis oleh Syaikh Abdul
Fattah bin Shalih Qudaisy al-Yafi’i
2. Kitab
al-Hawi li al-Fatawi yang ditulis oleh Imam Jalaluddin al-Suyuti
33.
Kitab
Al-Tibyan Fi Adabi Hamalati al-Quran yang ditulis oleh Imam Nawawi
44. https://islam.nu.or.id








Posting Komentar