Dirasat Islamiyah Satu Manhaj dengan 'Alim 'Azhary Mausu'iy
Oleh: Hengki Amsaleh

Sering kita mendengar dari para ulama’ al-Azhar bahwa umat islam memiliki dua kiblat, yaitu kiblat dalam ibadah dan keilmuwan. Disaat kita ingin mengerjakan sholat, maka kita berkiblat pada Masjidil Haram di Makkah al-Mukaramah tidak kepada yang lain. Begitu juga dengan keilmuwan Islam, Al-Azhar Mesir merupakan kiblatnya ilmu dan ulama dalam keilmuwan islam dari berbagai penjuru dunia dari masa ke masa.
Tidak mudah bagi setiap orang untuk
bisa sampai di negeri kinanah ini, betapa mulianya orang-orang yang dipilih
dan diundang oleh Allah SWT untuk menimba ilmu di pangkuan Ulama Al-Azhar yang
mulia ini. Hampir seluruh lembaga pendidikan Islam di dunia ini menyimpan
karya-karya dari ulama yang pernah duduk di jami’ al-Azhar, seperti
Fathul Bari Syarah Sahih Bukhari, Tadribu Rawi, Syarah al-Ajurumiyyah, Tafsir Jalalain, Nukhbatul Fikar dan Nuzhatun Nadzar, Hasyiyah al-Bajury, dan masih banyak lagi ribuan bahkan jutaan kitab yang dikarang oleh ulama al-Azhar as-Syareef.
Terkusus untuk kita sebagai mahasiswa Universitas al-Azhar, kususnya Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah wa Arabiyah jangan sampai kita terlena oleh
kesenangan dunia yang membuat kita lalai dari tugas utama menuntut
ilmu di al-Azhar yang mulia ini. Kita sudah tahu bahwa fakultas yang kita ambil
ini bukanlah fakultas yang mudah, tapi perlu dengan perjuangan dan pengorbanan
untuk bisa mencapai visi dan misi yang diinginkan oleh para ulama penggagas
fakultas tersebut. Mereka mengingkan agar para calon-calon ulama kedepannya
bisa menguasai berbagai bidang keilmuwan seperti para ulama al-Azhar dari masa
ke masa, mereka memahami tafsir dengan baik, tapi tidak bodoh dalam dalam
balaghah dan mantiqnya, mereka menguasai fiqh dan ushulnya tapi juga tidak
bodoh dalam hadits dan aqidahnya. semakian lengkap ilmu yang dikuasai, maka akan semakin tepat pemahamannya karena semua ilmu wasail digunakan pada tempatnya, tidak akan terjadi kesungsangan dalam pikiran dan ilmunya.
Coba kita perhatikan dan renungkan
nasehat yang begitu indah dari ‘Amid Kuliyah Dirasat Islamiyah yaitu
Prof. Dr. Iwadl Ismail Abdullah, “Sungguh sangat berhak bagi kalian untuk
berbahagia dengan kemuliaan al-Azhar sebagai menaranya ilmu, kiblatnya para
ulama, bentengnya Agama Islam dan Bahasa Arab, itulah al-Azhar asy-Syareef,
sebagai pusatnya Islam wasatiyah dan moderat, serta penyeru kepada jalan
Allah SWT dengan cara yang hikmah dan perkataan yang baik, sangat jauh dari
filosof Yunani dan perdebatan yang buruk.
Selain itu, juga berhak bagi kalian
untuk bangga dengan pernisbatan diri kalian kepada al-Azhar asy-Syareef,
lembaga pendidikan tertua dalam sejarah kehidupan manusia, kampus yang dipenuhi
oleh para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia hingga mereka bisa merasakan kemuliaannya.
Wahai anak-anakku, kalian telah memilih –dengan taufiq-Nya- untuk menempuh jalan ulama Azhary yang mausu’iy, menguasai seluruh ilmu syariah, ushuluddin, dan bahasa, yang mana jalan tersebut sesuai dengan fakultas kalian, yaitu Fakultas Dirasat Islamiyah wa Arabiyah. Fakultas ini berjalan di atas jalan yang sama, yaitu jalan yang ditempuh al-Azhar yang dulu untuk bisa mencetak para ulama azhary yang menguasai keilmuwan Islam dan bahasa Arab, hafal Al-Quran, pembaca hadits nabawi yang baik, mengenal baik hukum-hukum syariat dan dalilnya serta maqashid syar’i diberbagai keadaan yang berbeda, mengetahui hal-hal yang tersembunyi dalam bahasa Arab secara detail, mengetahui kemuliaan dan keindahan al-Quran dari segi balaghahnya, menjadi seorang dai yang bisa mengajak manusia ke jalan Allah SWT dengan pandangan hikmah dan dengan nasehat yang baik, berdebat dengan baik jika dibutuhkan, memiliki karekteristik yang moderat, berdiri tegak untuk menyatukan bukan untuk memecah belah umat, memudahkan bukan menyusahkan, menyampaikan dakwah di negaranya ataupun di luar negaranya dengan niat mencari keridhoan Allah SWT bukan yang lainnya, mengajarkan umat dengan akhlaknya dan lembut perkataannya.”
Demikian itulah nasehat yang perlu kita
renungkan dan jalankan, akankah kita mampu mengemban amanah tersebut? hanyalah diri kita masing-masing yang bisa menjawab. Jangan menyerah,
jika kita tidak mampu mengambil semuanya, maka jangan ditinggalkan semua. Yang paling
penting adalah kita tetap berada pada jalan Ulama al-Azhar yang terakui
keilmuwannya, yang bersambung sanadnya, dan tidak pernah diragukan kualitas
keilmuwannya. Semoga kita dimudahkan oleh Allah SWT untuk menjadi ‘Alim
Azhary Mausu’iy. Aamiin.







Posting Komentar