Selamat Datang di Portal Sema-FDI Kairo

Menyadari Sebab-Sebab Dan Bahaya Syirik Kecil Alias Riya’

Adalah kecenderungan manusia untuk berbuat pamer terhadap sesuatu yang ia miliki yang dianggapnya wah, apapun itu. Sebuah ungkapan yang amat dalam yang pernah diungkapkan oleh Imam Ghazali bahwa penyakit zhahir yang empunya penyakit lebih ngerti dari pada orang lain, sedangkan penyakit batin seringkali orang lain lebih tau dari si empunya. Dan riya’ adalah penyakit batin yang mana si empunya seringkali tidak tau akan penyakit tersebut. Sedangkan orang lain malah acapkali lebih mengerti.

Riya' atau pamer adalah satu dari  penyakit batin, yang sesungguhnya harus segera diobati. Mengutip kembali ungkapan Iman Ghazali bahwa penyakit zhahir banyak dokternya, sedangkan penyakit batin dokternya hanyalah agama dan kemauan yang kuat untuk mengobati diri. Dan sebuah fenomena yang menurut penulis terlihat aneh adalah jika seseorang terserang penyakit zhahir, seperti kanker, liver, diabetes dan sebagainya, maka dengan segera orang langsung mencari kesembuhan alias cari dokter untuk menyembuhkan penyakit itu tadi. Tetapi sebaliknya jika sesorang terserang penyakit batin, seperti kikir, dengki, bohong, riya’ dan lain-lain, yang terjadi adalah ia tidak segera berobat.

Sebelum lebih jauh, penulis ingin sedikit terlebih dahulu memaparkan secara ringkas arti riya'. Sesungguhnya riya', pamer, berjuang dengan sekuat tenaga ingin terkenal, suka dipuja dan dipuji, ingin mendapatkan penghargaan, terhormat di ranah publik yang hanya sebatas nama, tenar, kesemuanya itu mencerminkan padanan dari kata riya', yang mana satu dengan lain ada keterkaitannya. Dan supaya lebih mudah orang-orang kita menyebutnya dengan riya'.

Secara implisit riya' berasal dari bahasa arab (الرياء) yang bisa dimaknai ingin dilihat oleh orang lain. Sedangkan secara eksplisitnya dalam sorotan syar'i adalah seorang hamba yang berbuat ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan supaya dilirik oleh orang lain, dilihat oleh banyak orang, dan bukan karena Allah semata, melainkan jika perlu ia berusaha keras supaya orang lain tau. Bagaimanapun mekanismenya, ia ingin dilihat banyak orang.

Sebuah perumpamaan kecil seseorang yang berbuat riya' dalam bersedekah misalnya, maka ia akan mempertontonkan perbuatannya itu, bila perlu menyebarluaskannya, menyiarkannya. Ketemu ditengah jalan sama teman-temannya, ia bilang: ‘eh gua tadi nyumbang di pengajian sono sekian ratus ribu lho, padahal teman-teman yang lain hanya dua puluh ribuan saja’. Nanti ketemu lagi sama teman yang lain, ia ngomong seperti itu lagi. Dan seterusnya, dan seterusnya. Esensinya adalah orang yang riya' dalam berbuat sebuah amal shaleh adalah ia ingin supaya amalnya itu melambung ke atas sehingga publik menengadah, supaya publik memberi pujian, dan ia tenar, dan semua perbuatan yang didasari karena riya' hakikatnya hanyalah untuk duniawi semata. Dengan gaya deduksi penulis katakan bahwa riya' adalah  memperlihatkan amal ibadah, supaya banyak orang tau dan memberi pujian terhadap apa yang dikerjakan[1].

Perbuatan tercela riya' ini yang banyak kalangan mengolongkannya sebagai perbuatan syirik kecil, dikarenakan seorang hamba telah bersekutu dengan selain Allah SWT dalam ibadahnya. Bahkan lebih tajam lagi Ibn Qayyim mencontohkan andai kata riya' ini sering dikerjakan oleh seorang hamba tanpa henti, terus-terusan berbuat riya'. Al-kisah syirik kecil tadi akan berbuah menjadi besar. Wal ‘iyaadzu billah …
Di sebuah ayat dalam surat Al-kahfi ayat 110 yang sering kita baca, Allah SWT dengan sangat jelas berfirman : 

قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملاً صالحاً ولا يشرك بعبادة ربه أحداً

Artinya : Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan  kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya[2].

Dengan dasar pemahaman dan penafsiran ayat di atas, penulis katakan bahwa amal shaleh itu harus betul-betul dilaksanakan menurut kaidah agama on the right track , serta ikhlas karena lillahi ta'ala. Ikhlas artinya adalah perbuatan shaleh apapun itu dikerjakan karena Allah semata, dan bukan karena yang lain. Menurut kaidah syar'i ialah perbuatan tersebut mekanismennya diatur oleh syari’at agama.

Salah satu penyebab seorang hamba itu berbuat riya’ adalah runtuhnya keikhlasan, kejujuran dan ketulusan yang hakiki. Sifat terpuji yang harus menghiasi seorang muslim adalah tulus dan jujur. Oleh karena itu wajib hukumnya bagi seseorang yang mengaku dirinya muslim untuk berkata dan berbuat jujur di semua dimensi kehidupan. Jadi langkah pertama menjahui riya’ adalah ikhlas, yaitu dengam membenahi niat. Ikhlas merupakan salah satu dari perbuatan hati, bahkan ia termasuk dari starting point perbuatan hati, karena diterima atau tidaknya sebuah amal perbuatan tergantung pada keikhlasan.[3] Iklas adalah keinginan beramal karena Allah semata, dengan jalan purifikasi hati dari sesuatu yang mengelabui hati, atau dari hal-hal yang berbau keduniawian, dan oleh sebab itu suatu amal shaleh yang dikerjakan dengan ikhlas hanya berdimensi karena allah dan Akherat saja. Al-Qardhawi mengatakan dalam bukunya yang berjudul niat dan ikhlas, bahwa pondasi dari sebuah amal yang ikhlas adalah membebaskan niat dari hal-hal yang selain Allah SWT.[4]

Satu dari akar pangkalnya ajaran agama adalah ikhlas. Ia adalah asas pertama diterimanya sebuah amal perbuatan, ruh dan pondasi awal sebuah amal tidak lain dan tidak bukan ialah keikhlasan. Untuk berbuat ikhlas membutuhkan kontinuitas dalam bermujahadah, berusaha diri sehingga kita tidak mengurangi nilai dari amal kita. Memang pada prinsipnya sebelum beramal, sebelum berbuat suatu amal perbuatan kita harus membersikan dan memurnikan niat kita dulu, supaya benar-benar ikhlas karena Allah semata dan jauh dari pujian makhluk. Dan selama masih dalam proses menjalankan proyek berupa amal kebajikan kitapun harus selalu menjaga kejernihan dan kemurnian niat kita, pun seandainya kita mendapat pujian dan penghargaan dari orang lain. Dalam proses beramal kebajikan (berprestasi) jangan ada kata sudah hebat dan puas. Intinya masih kurang. Sehingga tidak ada waktu kita untuk pamer, ingin dipuji dan dipuja. Karena juga kalau kita merasa sudah hebat, manusia cenderung  akan berhenti, dan kitapun jadi manusia yang dekaken. Dan dalam sejarah bangsa-bangsa yang majupun tidak ada kamus merasa puas diri, tetapi terus saja berprestasi, apapun itu kata orang. Itu yang pertama.

Kemudian selanjutnya hal yang menyebabkan timbul riya’ adalah gaduh dan ricuhnya dunia pendidikan. Banyaknya manusia di alam globalisasi ini yang hanya berorientasi pada otak, sehingga hati dilupakan. Atau mungkin di dunia islam sendiri ada sebagian intelektual kita yang perhatiannya hampir bisa dikatakan sedikit  sekali terhadap pentingnya pendidikan akhlak. Sehingga jiwa alias pendidikan hati kosong, hati menjadi kotor terisi hal-hal yang tercela termaksud perbuatan riya’. Potret yang keliru yang beranggapan bahwa satu-satunya jalan untuk membantu tegaknya agama dengan meraih jabatan yang tinggi dan popularitas juga merupakan sebab timbulnya riya’.

Saudaraku, sesungguhnya riya’ menjadi ancaman yang sangat berbahaya atas individu, masyarakat dan ummat, dikarenakan riya’ menghapus esensi ruh sebuah amal perbuatan baik, dan hendaklah kita berlindung diri kepada Allah dari perbuatan riya’. Penulis ingin menyampaikan sebuah hadits yang menerangkan akan bahaya riya’. Sebuah hadits cukup panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwasannya Abu Hurairah mendengar nabi saw bersabda[5] :


إن أول الناس يقضى يوم القيامة عليه رجل استشهد . فأتى به فعرفه نعمه فعرفها . قال : فما عملت فيها ؟ قال : قاتلت فيك حتى استشهدت . قال : كذبت . ولكنك قاتلت لأن يقال جريء . فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار .

Yang artinya : Sesungguhnya manusia pertama yang akan dihakimi oleh Allah pada hari kiamat nanti ialah orang yang mati di medan perang, orang yang syahid di lingkup peperangan, ia dihadirkan dan diperkenalkan dengan nikmat-nikmat Allah dan ia mengenalnya, membenarkannya. Allah bertanya: Maka apa yang sudah kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu semua? Orang tadi menjawab: Saya berperang di jalan-Mu sehingga saya mati syahid. Allah berfirman: Kamu dusta, kamu berbohong,  akan tetapi kamu berperang supaya dikatakan, si pemberani! Dan julukan itu telah kamu dapatkan. Kemudian diperintahkan terhadapnya, lalu mukanya diseret hingga ia dilemparkan ke dalam api neraka.

Itu manusia yang pertama yang akan disidang di hari kiamat nanti, manusia kedua adalah :

ورجل تعلم العلم وعلمه وقرأ القرآن . فأتي به . فعرفه نعمه فعرفها . قال : فما عملت فيها ؟ قال : تعلمت العلم وعلمته وقرأت فيك القرآن . قال : كذبت ولكنك تعلمت العلم ليقال عالم . وقرأت القرآن ليقال هو قارئ . فقد قيل . ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار

Artinya : Dan seseorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an Al-Karim, ia didatangkan, dimunculkan, lantas diperkenalkan, diingatkan dengan nikmat-nikmat Allah yang begitu banyak itu, dan ia mengenalnya. Allah bertanya: Apa yang sudah kamu perbuat terhadap nikmat-nikmat itu? Ia menjawab: Saya belajar ilmu dan mengajarkan ilmu itu serta saya membaca Al Qur’an di jalan-Mu. Allah berfirman: Kamu berdusta, kamu berbohong, sesungguhnya kamu belajar ilmu supaya kamu dikatakan orang yang alim!, dan kamu membaca Al Qur’an supaya kamu dijuluki seorang qari’, ahli membaca Al-Qur’an dan julukan itu telah kamu terima. Kemudian diperintahkan terhadapnya, lalu mukanya diseret sehingga ia dilemparkan ke dalam api neraka.

Dan manusia yang ketiga ialah :

ورجل وسع الله عليه وأعطاه من أصناف المال كله . فأتى به فعرفه نعمه فعرفها . قال : فما عملت فيها ؟ قال : ما تركت من سبيل تحب أن ينفق فيها إلا أنفقت فيها لك . قال : كذبت . ولكنك فعلت ليقال هو جواد . فقد قيل . ثم أمر به فسحب على وجهه . ثم ألقي في النار

Artinya : Dan seseorang yang dilapangkan rezekinya oleh Allah dan dianugerahi berbagai macam  harta kekayaan, ia didatangkan lalu kemudian diperkenalkan dengan nikmat-nikmat Allah yang banyak itu dan ia mengenalnya. Lantas Allah bertanya: Maka apa yang sudah kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu? Ia menjawab: Saya tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau sukai, yang mana di sanalah harta itu diinfakkan, melainkan saya berinfak di dalamnya untuk-Mu. Allah berfirman: Kamu berdusta, sesungguhnya kamu melakukan hal itu agar dikatakan bahwa kamu itu orang yang dermawan! Dan itu sudah dikatakan. Kemudian diperintahkan terhadapnya, lalu mukanya diseret hingga ia dilemparkan ke dalam api neraka.

Begitulah para pembaca yang budiman bahwa riya’ sangatlah merugikan sekali bagi para pelakunya. Jadi bisa penulis katakan bahaya  riya’ terhadap amal-amal shalih sangatlah besar, karena menghilangkan berkah amal shalih bahkan menghapus amal shalih tersebut. Bahkan riya’ itu lebih buas dari pada kebuasan serigala ketika memangsa kambing. Rasulullah saw bersabda : “Tidaklah ada dua serigala lapar yang dikirim ke sekawanan kambing, lebih buas dan lebih merusak dari pada rakusnya manusia terhadap harta dan kemuliaan untuk agama”.[6]

Ini adalah sebuah permisalan yang dibuat Rasulullah saw untuk menjelaskan bahwa dien itu akan rusak karena rakus terhadap harta, karena orang yang rakus terhadap harta akan selalu sibuk dengan hartanya dan melupakan ketaatan kepada Allah. Dan agama akan rusak oleh kerasukan terhadap kemuliaan dunia dengan menukar dien, yang demikian itu jika seseorang bermaksud untuk riya’ dam sum’ah. [7]

Dan akhirnya penulis berdo’a buat kita semua supaya kita dijauhkan oleh Allah dari sifat pamer alias riya’ dan sifat-sifat tercela lainnya. Allahumma amien ya rabb …

Written by : M. Thoriq Aziz

  
__________________________________
[1] Fathul Bari, juz 11, hal. 443
[2] Mushaf dan Teremahan, hlm. 304 pustaka Al-Kautsar Jakarta timur
[3] Yusuf Al-Qardhawi, An-niyyah Wa Al-Ikhlas Taisiir Fiqh As-Suluuk Fii Dhaui Al-Quran Wa As-Sunnah, hlm. 4.
[4] Ibid.,
[5] An-Nawawi, Riyadu As-Shalihin, Maktab Islamiyyah, Kairo, 2006, hlm. 587.
[6] Tirmidzi, no. hadits 2376, 4/588, dan Ahmad, 3/456 dan hadits ini telah dishahihkan oleh Al-Bani dalam Shahih Sunan Tirmidzi, 2/280
[7] Said Bin Ali Bin Wahf Al-Qahthani, Sembilan Pilar Keberhasilan Da’I Di Medan Dakwah, Pustaka Arafah, Solo, hlm. 285.
Bagikan Postingan Ini :

Posting Komentar

PAPAN PENGUMUMAN

Popular Post

Facebook Kita

 
Support : KBRI Kairo | Atdik Kairo | PPMI Mesir
Copyright © 2015. SEMA-FDI Universitas Al-Azhar, Mesir - All Rights Reserved