sema-fdi.blogspot.com, Kairo — Anggota Dewan Pengawas Kegiatan (DPK) SEMA-FDI Kairo Arif al-Anang, selaku mentor belbar ilmu arudh dan qafiyyah menjelaskan bahar-bahar dalam ilmu arudh. Kegiatan belbar tersebut, diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Harian SEMA-FDI bertempat di sekretariat Mumtaza, Kairo, Rabu (19/11/2014) siang.
Berdasarkan ilmu yang sudah dipelajari Arif al-Anang, mayoritas ulama memandang ilmu arudh sebagai al-'ilmu as-saa'ah, ilmu yang hanya membutuhkan waktu satu jam saja untuk mempelajarinya.
“Banyak ulama mengatakan ilmu arudh itu al-‘ilmu as-saa’ah, ilmu yang hanya butuh satu jam saja,” ujar Arif.
Asal mulanya arudh disebut sebagai al-‘ilmu as-saa’ah, Arif menceritakan bahwasannya Imam Jarir at-Thobary Shohibul Kitab Tafsir at-Thobary, suatu ketika ditanya tentang ilmu 'arud. Namun beliau tidak tahu sama sekali, perihal ilmu itu. Lalu beliau meminta ditunjukkan buku arudh, dan membacanya. Hanya dalam waktu singkat beliau menguasainya dengan baik, sehingga saat ditanya apapun tentang arudh, beliau mampu menjawabnya. Oleh sebab itu, muncullah perkataan ulama bahwa ilmu arudh adalah al-‘ilmu as-saa'ah. Dengan alasan, tidak membutuhkan waktu lama untuk mempelajari ilmu arud, jika dilalukan secara intensif.
Arif menambahkan, seseorang belum bisa dikatakan penyair jika ia hanya bersyi’ir menggunakan bahar rajaz.
“Seseorang belum disebut penya’ir, kalau ia hanya berhenti pada rajaz,” tambahnya saat menjawab pertanyaan dari salah satu peserta belbar.
Ia beranggapan, bahar rajaz merupakan bahar termudah dari pada bahar-bahar yang lain.
“Dalam rajaz itu tersimpan bahar-bahar yang mudah, fii abhuri al-arjaazi bahrun yashulu,” tutunya.
Acara belbar ini berlangsung dengan antusiasme para peserta, selain itu mereka juga mencicipi hidangan ringan yang telah disajikan, berupa roti kecil, bakwan sambal pecel, kurma orabi, syibsi, dan wafer.
![]() |
| Gambar 2. Suasana belbar ilmu arudh dan qafiyyah di di sekretariat Mumtaza. |
![]() |
| Gambar 3. |
![]() |
| Gambar 4. |
![]() |
| Gambar 5. |
Reported by : SEMA-FDI reporters












Posting Komentar