| Zis Ibn Ahmad, Mahasiswa Dirasah Islamiyah Angkatan 2014-2015. |
Seringkali kita melupakan hal terpenting selain ilmu, tak jarang
dari kita melangkah jauh meninggalkan kediaman untuk tujuan mulia yang memang
dianjurkan oleh agama kita. Yakni menuntut ilmu. Namun kita tidak menyadari bahwa ada hal yang tak kalah penting
setelah kita mendapatkan ilmu. Yaitu amal.
Seperti ungkapan yang sering kita dengar, “ilmu tanpa amal ibarat
pohon tanpa buah”. Maka begitulah kita jika enggan mengamalkan apa yang telah
kita ketahui. Kita hidup namun tak ada makna
dalam kehidupan itu sendiri, kita hidup namun pada hakikatnya kita mati, tak mampu memberi manfaat ataupun
warna pada kehidupan. Pasti jika kalian membaca ungkapanku tadi , kalian akan
mengatakan "itu sih untuk yang tidak berilmu". Namun sekali lagi saya
tegaskan, lebih bodoh dan tidak berilmu mana antara orang yang memang tidak
tahu kemudian tidak mengamalkan dan orang yang sudah tahu atau di katakan berilmu
namun enggan atau bahkan tidak pernah mengamalkan ilmunya? Pikirkan sendiri
tentang ungkapan tadi. Sedikit saya mau menyitir ungkapan salah satu syekh
Azhar, nama beliau adalah syekh Hisyam. Beliau mengungkapkan ketika tengah
menjelaskan salah satu kitab karya Imam Ghazali yang berjudul: Ayyuhal Walad, "al
'ilmu bila 'amalin kal jasadi bila ruhin". Dari ungkapan tersebut, bukankan
berarti kita tak ubahnya mayat hidup yang pada hakikatnya mati.? Pikirkan
kembali.
Kita sering mendengar, ilmu itu bagaikan cahaya. Benar dan sangat
benar. Tetapi apalah gunanya ada cahaya jika kita yang sudah diterangi cahaya
itu, tidak melangkah untuk melakukan hal yang kita bisa lakukan dengan adanya
cahaya itu tadi. Kita terlalu fokus dengan media dan tidak memperhatikan apa
tujuan serta manfaat media tersebut dalam kehidupan. Di sisi lain memang Allah
telah menjanjikan derajat tinggi bagi orang yang berilmu tapi ingat di sisi
yang sama Allah mengancam orang yang berilmu. Iya, orang yang berilmu malah
akan disiksa lebih di akhirat kelak, jika dia tak mengamalkan ilmunya, di sini saya
menyitir hadits yang diriwayatkan Tirmidzi.
Sebenarnya orang yang berilmu, adalah mereka yang mampu beramal
dengan ilmu itu dan hidup dengan cara berilmu. Sehingga ia tidak hanya terang
dalam kegelapan, namun juga dapat memberi keindahan pada sekitarnya. Ha, ini
selaras dengan ungkapan seorang ulama' yang masyhur di Baghdad pada zamannya
setelah daruqutni, yakni al Khatib al Baghdadi, beliau mengungkapkan "fainnal
'ilma syajaratun wal 'amala tsamruhu falaisa yuaddul 'alim man lam yakun bi
'ilmihi 'amilan".. . Jadi dapat disimpulkan bahwa mereka yang
sudah merasa memiliki ilmu, belum dapat dikatakan berilmu pada hakikatnya,
sebelum ia mampu mengamalkannya..
Wallahu a'lam :)
Written By : Zis Ibn Ahmad







Posting Komentar