| Universitas Al-Azhar, Fakultas Dirasah Islamiyah Wa Al-'Arabiya Putra (diakui dan terakreditasi), Kairo. |
semafdicairo.org,
Kairo — Senat mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah kembali menggelar acara Senat
Sit Together pada Selasa pagi (10/3), kali ini acara bertempat di Mabna Kuliah Dirasat,
Hay Sadis.
Adapun
tema yang diusung kali ini adalah “Mengenal lebih dekat sosok Taha Hussein”,
salah satu tokoh akademisi dan sastrawan Mesir yang banyak berpengaruh di
bidang pendidikan pada abad 20. Selain bertujuan menambah wawasan dan pengetahuan,
kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai ajang silaturahim antar mahasiswa Fakultas
Dirasat Islamiyah.
Diskusi
ini sendiri dipimpin langsung oleh Thoriq Aziz, Ketua DPH SEMA-FDI Tahun Akademik 2014/2015. Ia menggantikan Arif Al-Anang yang berhalangan hadir, di mana semula
dijadwalkan Ariflah yang bertindak sebagai pembicara kunci.
Sebelum
membahas permasalahan sisi kontroversial Taha Husein, terlebih dulu Thoriq memperkenalkan
secara ringkas riwayat sang sastrawan kepada peserta diskusi yang hadir.
Bernama lengkap Taha Hussein Ali Salamah, dilahirkan di provinsi Al-Minya, Mesir, pada 15
November 1889. Taha muda sempat menimba ilmu kegamaan di Universitas Al-Azhar
As-Syarif sebelum akhirnya ia banting setir mendalami literatur Arab di Universitas
Cairo, kemudian melanjutkan pendidikannya ke Eropa. Di sinilah pemikiran Taha Husein
banyak terpengaruh, sehingga menjadikannya seorang radikal
terhadap kesusastraan Arab. Sekembalinya dari Eropa, ia mulai aktif menulis buku
dan mengajar di beberapa Universitas di Mesir, hingga akhirnya Taha Husein diangkat
menjadi Menteri Pendidikan yang banyak membawa perubahan pada wajah pendidikan Mesir. Ia pun dijuluki bapak sastra arab pada saat itu.
Setelah
mengenalkan sosok Taha Hussein, Thoriq Aziz mengajak para peserta agar terlibat
aktif dalam diskusi, masalah pertama yang diangkat adalah bukunya yang dianggap
tidak sesuai dengan kondisi keislaman di Mesir. Bahkan cenderung menyimpang dengan tidak
mengakui beberapa asas dasar agama Islam, seperti tertulis dalam kitabnya Fi Syi’ril
Jahili. Taha meragukan kerasulan dan kenabian Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, ia
beranggapan tidak ada bukti otentik tentang hal tersebut. Tak heran jika banyak
ulama menganggapnya menyimpang karena telah bertentangan dengan kredo umat
islam.
Tidak
sedikit juga para cendikiawan Mesir yang menulis buku secara jelas ditunjukan
untuk menyangkal atas apa yang ia tulis dalam bukunya. Hingga akhirnya ia harus
merevisi dan mencoret beberapa bab dalam
bukunya tersebut. Tak hanya berbicara mengenai Taha Hussein, diskusi juga
sedikit melebar dengan membahas tentang permasalahan-permasalahan yang terjadi
di sekitar tokoh akademisi dan agamawan dewasa kini.
Meski
hanya berlangsung satu jam, diskusi kali ini cukup menarik karena mampu
mendorong para peserta membuka pikiran dan menyikapi masalah secara seimbang.
Sebelum diakhiri, Thoriq selaku Ketua Senat sekaligus pembicara kunci mengantikan Arif al-Anang, mengagendakan kegiatan
observasi ilmiah dengan mengunjungi museum Taha Husein agar bisa mengenal tokoh
ini lebih objektif. Selain itu, ia juga merencanakan kunjungan bersama ke salah satu
perpustakaan besar milik Al-Azhar di kawasan 7th District, Nasr City, Kairo, pada pertengahan bulan ini.
Reported
by : Amirudin Ishaq Zainal Anshory (SEMA-FDI reporter).







Posting Komentar