| Suasana kegitan Belbar (Belajar Bareng) Ilmu Tauhid bersama Muhammad As'ad Humam di Rumah M. Syauqi Al-humaidi, Kairo, Sabtu (18/4/2015) pagi. |
semafdicairo.org, Kairo — Kalimat La ilaha illa Allah, tidak ada Tuhan selain Allah adalah formulasi terpendek dari esensi tauhid. Dari pengertian etimologisnya tauhid berarti mengesakan, yaitu mengesakan Allah.
Dalam ajaran islam kedudukan tauhid amat sangatlah penting. Oleh karena itu, manusia tauhid memiliki komitmen kepada Tuhan secara utuh, total dan mencakup cinta dan pengabdian, ketaatan dan kepasrahan, serta kemauan keras untuk menjalankan kehendak-kehendak Tuhannya
Anggota Dewan Pengawas Kegiatan (DPK) SEMA-FDI Kairo, Muhammad As'ad Humam, menyebutkan spektrum ilmu tauhid mencakup masalah-masalah keesaan Tuhan, dan tauhid adalah sumbunya keimanan.
“Dinamakan ilmu tauhid, karena bahwasannya bagian terpenting adalah sesuatu yang berkaitan dengan keesaan Tuhan, dan kalau mau nyalain pelita gitu kan, itu sumbunya, sumbunya adalah tauhid,” kata As'ad kepada peserta kegiatan Belbar (Belajar Bareng) ilmu tauhid di Rumah M. Syauqi Al-humaidi, Kairo, Sabtu (18/4/2015) pagi.
As'ad menjelaskan, karena ilmu tauhid adalah sebutan yang paling masyhur dalam penyebutan ilmu-ilmu tentang keesaan Tuhan, maka diapun mendefinisikannya sebagai ilmu yang berkenaan dengan sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah dan Rasul-Nya, dan sesuatu yang dikabarkan dengan sam'iyat.
Selain itu, dia juga menganalogikan, jika ada langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, maka harus ada Sang Pencipta yang mengadakan sesuatu dari yang sebelumnya tiada.
“Kita buat contoh aja nih, jika diketahui alam ini dengan bumi-buminya, dan langit-langitnya, dan segala sesuatu yang ada diantara keduanya, harus ada bagi keduanya yang menciptakannnya, dikeluarkannya sesuatu dari yang tadinya tidak ada, jadinya nampak, ada,” ungkapnya.
Reported by : SEMA-FDI reporters







Posting Komentar