Rabu, 17 Juni 2015 | 05.06 CLT
![]() |
| Ilustrasi (Courtesy of Google.com) |
Sebuah konsensus bersama para ulama bahwa Al-Quran adalah rujukan pertama dan utama bagi umat islam di seluruh dunia ini, dalam menghadapi segala macam perkara duniawi maupun ukhrawi. Selain itu, Al-Quran juga mejadi way of life yang harus dijelmakan oleh seluruh kaum muslimin dalam setiap aspek kehidupan mereka : aqidah, syari'at dan akhlaq, yang mana tentu tiga aspek tadi merekah menjadi lebih luas lagi, memasuki ranah sosial, ekonomi, budaya, politik dan lain sebagainya.
Sekali lagi penulis tegaskan, kedudukan Al-Quran dalam sistem politik islam sebagai sumber rujukan tertinggi dalam penyelenggaraan bernegara, Al-Quran is source of law, not book of law. Sangat berbahaya sekali jika Al-Quran diwahyu artikan sebagai buku hukum, karena hal itu akan membawa umat islam menuju kemalangan yang sangat malang.
Penulis kurang sependapat dengan pengambilan kata dustur dalam semboyan ihwanul muslimin, akan tetapi kalau yang dimaksud dari kausal Al-Quran dusturuna adalah source of law, maka tidak menjadi soal. Sehingga parafrase yang bisa dihadirkan disini adalah, entitas dan komunitas kaum muslimin akan menjadi lebih fleksibel karena memperlakukan Al-Quran sebagai kitab suci dari Allah SWT sang Maha Pencipta, dimana kitab suci tersebut memberi arahan buat umat manusia, wabil khusus umat islam sebagai makhluk atau ciptaan, dalam hal prinsip-prinsip moral dan etika.
Justifikasi Al-Quran soal politik sangat menekankan egalitarianisme atau dalam bahasa tasyri'nya al-musaawah baina an-nas, tegaknya keadilan, baik itu di bidang hukum, ekonomi, politik, sosial dan pendidikan. Di sinilah letak kedahsyatan politik islam yang menjajakan prinsip moral persamaan dan keadilan di antara manusia.
Dalam konteks sejarah umat islam di manapun, kejayaan, kemenangan dan keemasan islam dan umat islam bisa diraih, fast and sure, kalau Al-Quran menjadi tumpuan dalam pengambilan berbagai macam langkah dan strategi baik di bidang hukum, politik, ekonomi maupun strategi perang.
Al-Quran sebagai rujukan utama yang menjadi penentu dasar dan prinsip dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh baginda Rasul Muhammad SAW ketika memimpin Makkah dan Madinah, dilanjutkan oleh para Khulafaur rasyidin dan begitu juga oleh dinasti-dinasti islam selepas itu sampai kepada Ottoman Empire di Turki.
Namun gejala Al-Quran sebagai rujukan utama itu menjadi layu setelah penjajah barat memecah belah dan menguasai negeri-negeri muslim. Saat ini dengan founding and networking yang lebih kuat mereka menawarkan resep-resep perundang-undangan, yang pada intinya ingin menggeser kedudukan AL-Quran di mata kaum muslimin.
Ini penulis ingin cerita sedikit, suatu hari di tahun 1882, Gladstone seorang Perdana Menteri Inggris beragama kristian mendapat kesempatan berbicara di hadapan Parlemen Inggris tentang bagaimana caranya untuk melemahkan kekuatan umat islam di Mesir supaya Inggris bisa terus menjadi majikan agung yang setiap saat bisa memerintah.
Hingga pada akhirnya saat ia berbicara di atas podium, ia mengangkat mushaf Al-Quran dan mengatakan, selama buku Al-Quran ini masih tetap berada di tangan kaum muslimin, artinya still living at home with Al-Quran, Al-Quran masih dibaca, dikaji, dipahami dan diejawantahkan dalam kehidupan mereka. Maka negara itu akan kuat, dihormati dan disegani di dunia internasional. Secara deduktif si Gladstone tadi mengatakan, satu-satunya cara agar mereka menjadi bangsa jonggos, kerbau yang bisa dicocok hidung, adalah mencoba memisahkan kaum muslimin di Mesir dari Al-Quran.
Sesungguhnya simpulan sederhananya begini, orang di luar islam saja tahu kalau kekuatan umat Muhammad SAW ada pada kedekatannya dengan Al-Quran, at home dengan Al-Quran. Justru kita umat islam sendiri kurang menyadari hal itu.
Nah sebagai langkah usulan Gladstone tadi, dibuatlah semacam komite untuk menjauhkan umat islam dari kitab suci AL-Quran, dengan cara mengirim beberapa ahli superb troops ke Mesir yang akan melemahkan iman mereka, menjauhkan mereka dari kitabullah dengan cara membuat mereka curiga terhadap kebenaran Al-Quran. Tentu supaya umat islam di kemudian hari tidak lagi merujuk pada kitab suci mereka itu dan malah secara pelan-pelan mereka berbalik melawan cara-cara hidup islami.
Yang terjadi di negeri-negeri muslim saat ini adalah tidak adanya al-musaawah al-‘adaalah, gerakan islam dibekukan, banyak kader-kader islam yang malah dicurigai, kezaliman ekonomi merajalela, maraknya penganiayaan terhadap si miskin dan si lemah, dan di mana-mana bisa kita temukan tingginya kesengjangan sosial.
Demi kemaslahatan, penulis tidak boleh terlalu jauh mengomentari politik terkini di Mesir. Tetapi memang kemalangan yang terjadi di negeri-negeri Arab saat ini, boleh jadi karena Al-Qur’an sudah tidak lagi sepenuhnya menjadi model gaya hidup mereka. Setelah melihat Al-Quran secara utuh, maka sesungguhnya inti ajaran islam itu adalah gerakan pembebasan. Sejak dulu sampai seterusnya, islam akan selalu mengkampanyekan gerakan pembebasan atau gerakan tauhid/nilai kebenaran di punggung bumi ini seperti yang telah dilakukan oleh rusul dan anbiya’ullah. Islam dengan kitab suci Al-Quran menjadi penawar bagi hati yang belum meneb atau belum mengkristal. Islam seimbang dalam dua pengisian: pengisian hati dan akal. Islam selalu menghidupkan hati yang mati dengan nur tauhid, mengesakan Allah SWT sang Khaliq, tetapi islam tidak lantas membiarkan hati yang sudah hidup tadi tunduk, bersabar tidak bergerak menghadapi kezaliman dan keaniayaan dalam segala macam bentuk oleh suatu kekuasaan di atas permukaan bumi ini.
Kehidupan ini akan menjadi indah kalau syari'at islam bisa tegak. Umat islamnya ketika melihat berbagai bentuk ketidak-adilan di sepanjang jalan, bertemu dengan kediktaktoran di setiap saat, maka tangan, lidah dan seluruh kemampuaannya akan bergerak melawan kesewenang-wenangan tersebut. Kalau yang terjadi adalah umat islam kok masih diam saja melihat kezaliman terjadi, sesungguhnya hati mereka belum tergugat oleh ajaran tauhid islam, karena hati yang sudah tergugat, sudah mengkristal imannya, tentu akan berubah menjadi gerakan nyata, beramal shaleh, beramar ma'ruf nahi munkar, dan kondisi umat akan berubah menjadi mujahid-mujahid yang betul-betul berjuang demi tegaknya kalimatul haq.
Dan umat islam yang mampu merasakan ajaran tauhid/ajaran Al-Quran di hatinya, tidak mungkin membiarkan penguasa yang zalim berbuat aniaya di atas muka bumi ini, dengan menjadikan manusia sebagai budak beliannya, atau jonggosnya yang bisa dikangkangi setiap saat, padahal tiap-tiap manusia dilahirkan oleh ibu mereka sebagai orang yang merdeka.
Nah kesimpulannya adalah, keberkahan politik adiluhung Al-Quran akan kita dapat, jika kita umat islam ini berani dan mampu untuk mengatakan yang benar itu benar, yang batil itu batil kapan dan di manapun kita berada.
Para pembaca sekalian yang budiman, memang sekarang ini di panggung dunia terjadi pertarungan keagamaan bertopengkan ideologi dan intelektual. Huntington tidak sampai hati mengatakan dalam bukunya the clash of religions, tetapi the clash of civilizations. Namun kita harus sadar bahwa peradaban-peradaban besar di dunia ini lahir dari agama-agama yang besar yang menggerakkan, memotivasi pemeluknya untuk terus mengembangkan peradaban yang ada menjadi lebih agung. Dan untuk membangun peradaban islam yang berkemajuan diperlukan manusia dengan akhlaq yang qurani.
Kita umat islam juga harus menyadari bahwa pada abad sekarang dan mendatang akan terjadi intellectual invasion yang dipaksakan ke dunia islam ini, sehingga untuk memukul balik itu harus dengan paradigma intelektual yang betul-betul qurani. Karena tantangan intellectual invasion yang dipaksakan ke dunia islam tadi wujudnya bermacam-macam, ada islamofobia, 'ilmaniyah atau secularism, atheis dan lain-lain.
Selama barat masih mengidap arogansi bahwa mereka adalah yang paling bagus, paling maju, sehingga mereka tidak pernah bersedia menerima dunia islam menjadi maju. Merekapun berusaha melemahkan umat islam, dengan mengembangkan islamofobia, kemudian mengambarkan seolah-olah islam itu suka darah, suka kekerasan, suka perang dan sebagainya. Jadi barat tidak ingin melihat umat islam maju, teknologinya makin maju, barat tidak ingin Iran memiliki kekuatan nuklir, atau ekonomi Turki mau melampaui Spanyol dan Italia, atau barat tidak ingin Mesir dipimpin oleh orang-orang yang berani dan ingin maju dan lain-lain.
Maaf agak masuk sedikit tentang Mesir, sesungguhnya kalau di sini sebuah momok yang menakutkan, ialah mengungkit-ungkit kembali, mengingat-ingat kembali peristiwa tragedi kemanusiaan di tahun 2013 yang lalu, dan menurut penulis kejadian itu adalah sebagai bukti kuat akan bangkitnya tindakan otoritarianisme yang lebih hebat dari masa sebelumnya. Marx menuliskan bahwa sejarah berulang kembali, di awali dengan sebuah tragedi, lantas selanjutnya hanya sebagai lelucon saja, teater atau akrobat politik yang hanya dagelan saja.
Political climete yang ada sekarang hanyalah lelucon sandiwara saja. Karena memang kondisi yang ada menunjukkan tidak adanya iklim keterbukaan politik, iklim kebebasan berpendapat, sehingga yang terjadi demokrasi menjadi sakit dan cacat. Dengan mata telanjang dan sangat hati-hati penulis katakan di sini, bahwa intervensi militer yang kembali masuk ke ranah politik praktis mengisyaratkan revolusi 25 Januari dikebiri, dan psychology of fear atau climate of fear and paranoia yang terus akan diabadikan dengan maksud supaya rezim lama bercokol kembali, dan statusnya itu tidak mudah digoyah oleh elemen manapun.
Ada parodi komedi yang menurut penulis sangat tidak lucu, sekarang di sini itu menjadi tempat yang paling berbahaya di dunia bagi para wartawan yang masih berpegang teguh pada kejujuran. Karena arus media yang ada itu semuanya satu arah, nah ini kalau dalam alam demokrasi yang utuh, ini tidak bakalan terjadi.
Dalam alam demokrasi yang betul-betul utuh tidak ada upaya pemerintah menekan semua kekuatan politik independen yang berbeda pandangan. Sehingga arus opini publik bisa searah begitu rupa. Penulis sebenarnya ingin bicara tentang partai orang salafi An-Nuur, El-Baradai, Hamdan Shabbahi dan lain-lain, tetapi tidak cocok untuk tulisan ini.
Written by: Thoriq Aziz
(Eks Mahasiswa Preparation Precedes di Departemen Bahasa Al-Azhar Kairo 2013-2014)








BalasHapusISLAM, AL QURAN, MUHAMMAD SAW DAN ESTAFET KEKHALIFAHAN (KEPEMIMPINAN) UMAT ISLAM DAN UMAT MANUSIA SAMPAI AKHIR ZAMAN
Bagian satu dari dua tulisan
Doa Ibrahim As Yang Terlama Dikabulkan ALLAH
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al-Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. [TQS. Al Baqarah, 2:129]
Nubuat dari Kitab Suci Sebelum Al Quran
Dan (ingatlah) ketika 'Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah rasul, utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (bakal datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." [TQS. Ash Shaf, 61:6]
Proklamasi ISLAM Sebagai Ad Dien (Agama)
“… Pada hari ini orang-orang kafir (non-Muslim) telah putus asa untuk (mampu mengalahkan atau menghancurkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut (lahir batin) kepada mereka dan (hendaklah hanya) takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan (sesempurnanya hukum-hukum Allah) untuk kamu (Hai Muhammad dan umat) agamamu (diinikum), dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai (waradhiitu hanya) ISLAM itu jadi (diinikum) agama bagimu…”. [TQS. Al Maidah, 5:3]
MUHAMMAD SAW, Penutup para Nabi, Mesias Sampai Akhir Zaman
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. (Lalu) apakah jika dia wafat atau dibunuh (apakah) kamu berbalik ke belakang (murtad, kafir)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak (akan) dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah (hanya) akan memberi balasan kepada orang-orang yang (panmdai) bersyukur. [TQS. Al-'Imran, 3:144]
Muhammad SAW Milik Umat Muslim Bukan Milik Dinasti Keturunan
(Muhammad) itu sekali-kali bukanlah (tidak lagi menjadi hanya) bapak (dari suatu dinasti nasab atau keturunan) dari (hanya kelompok atau beberapa orang atau) seorang laki-laki (apa lagi perempuan) di antara kamu (wahai para ahlul bait dan umatnya), tetapi dia adalah Rasulul Allah (Utusan Allah bagi semua umat manusia yang mengikutinya) dan (dia juga adalah) penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [TQS. Al Ahzab, 33:40]
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري
“Tidak ada seorangpun yang (boleh berhak) mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia (amat) tahu (pasti kalau itu bukan ayahnya), melainkan (dia) telah (berbuat) kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum (dinasti keturunan), padahal bukan (termasuk dinasti keturunannya), maka siapkanlah (kelak di akahirat) tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).
Misi Muhammad SAW Bukan Meramal Nasib Kehidupan Umat Manusia
Katakanlah (Hai Muhammad): Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib (detik ke depan hidupku atau umatku) dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat (yang bisa hidup sampai kiamat). Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah (Hai Muhammad): "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" [TQS. Al-An'am, 6:50]
http://www.semafdicairo.org/2015/06/manifestasi-ajaran-al-quran-berujung.html
http://www.semafdicairo.org/2014/11/penerapan-syariah-dalam-konteks-negara.html
BalasHapusISLAM, AL QURAN, MUHAMMAD SAW DAN ESTAFET KEKHALIFAHAN (KEPEMIMPINAN) UMAT ISLAM DAN UMAT MANUSIA SAMPAI AKHIR ZAMAN
Bagian dua dari dua tulisan
Dan Kami tidak mengutus kamu (Hai Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya (sampai kiamat) sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.[TQS. Saba, 34:28]
Estafet Kepemimpinan Umat Pasca Nabi Muhammad SAW
Dan Dia lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah (penguasa-penguasa, ada yang jadi raja, sultan, presiden, gubernur dll.) di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [a.l. TQS. 6:165, 10:13-14 dll. rujuk TQS. 3:144].
Ayat-ayat di atas di dukung dengan Hadits Nabi Muhammad SAW sbb.:
42. 118/3196. Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Basysyar telah bercerita kepada kami Muhammad bin Ja'far telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Furat Al Qazaz berkata, aku mendengar Abu Hazim berkata; Aku hidup mendampingi Abu Hurairah radliallahu 'anhu selama lima tahun dan aku mendengar dia bercerita dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang besabda: Bani Isra'il, kehidupan mereka selalu didampingi oleh para Nabi, bila satu Nabi meninggal dunia, akan dibangkitkan Nabi setelahnya. Dan sungguh tidak ada Nabi sepeninggal aku. Yang ada adalah para khalifah (ya bisa raja, sultan, presiden, kanselir, gubernur, bupati atau walikota) yang banyak jumlahnya. Para shahabat bertanya; Apa yang baginda perintahkan kepada kami?. Beliau menjawab: Penuihilah bai'at kepada khalifah yang pertama (lebih dahulu diangkat), berikanlah hak mereka karena Allah akan bertanya kepada mereka tentang pemerintahan mereka.
Kesimpulan:
Siapa saja orang yang ‘ngaku’ MUSLIM lalu dianugerahi dianya sebagai ‘ORANG NOMOR SATU’ atau sang penguasa maka dia adalah ‘sang' KHALIFAH tidak ada harus berdasarkan pada 'keturunan' seperti keturunan AHLUL BAIT, NABI atau RASUL sekali pun, dan apakah lebel penguasanya sebagai presiden, raja atau kanselir dll. atau dia berkuasa di negara bernama ISLAM atau tidak atau bermerek KHILAFAH atau DAULAH ISLAMIYAH atau tidak, ya falam kepemimpinnya mutlak harus mengacu pada Al Quran dan As Sunnah.
Soal si tokoh ini mau atau tidak mau menerapkan syariat Islam atau mampu atau tidak mampu menerapkan syariat Islam ya itu mutlak merupakan tanggungjawabnya sendiri yang berkeinginan untuk menjadi sang KHALIFAH atau tokoh nomor satu beserta para kelompok pendukungnya disuatu atau di dalam wilayah kekuasaannya masing-masing. Wajib baginya merujuk pada prinsip-prinsip Al Quran a.l. seperti QS. 38:26, 6:165, 10:13-14 dan 35:39 serta a.l. hadits dari Nabi Muhammad SAW di atas.
http://www.semafdicairo.org/2015/06/manifestasi-ajaran-al-quran-berujung.html