Sabtu, 20 Juni 2015 | 22.48 CLT
![]() |
| Ilustrasi (Courtesy of Google) |
Panjang pembahasan dalam hadits ini, tapi sementara cukup membahas manisnya iman dulu, selebihnya silahkan cari di syarah-syarah Shahih Bukhory.
Ibnu Rajab berpendapat, bahwa rasa (manisnya) iman adalah suatu yang materi dan dapat diindra. Iman mempunyai rasa manis yang dapat diindra/dirasakan oleh hati, sebagaimana manisnya rasa suatu makanan dapat dicicipi oleh mulut, iman adalah makanan penguat hati, sebagaimana makanan adalah penguat tubuh.
Dan sebagaimana tubuh tidak bisa menikmati manisnya makanan saat sakit, begitu pula hati tak bisa menemukan manisnya iman saat menderita penyakit hati.
Dan sebagaimana tubuh saat sakit terkadang menyukai makanan yang mengandung racun, begitu pula hati terkadang menyukai hawa nafsu dan maksiat kala berpenyakit.
Begitulah, kenikmatan iman adalah buah yang representatif dengan amal perbuatan kita. Tidak sepantasnya kita merasa benar-benar beriman, sedangkan tubuh kita masih gemar bermaksiat. Dan jangan harap kita menemukan kenikmatan itu dengan sendirinya tanpa usaha keras.
Sebagai pemantik semangat, silahkan diingat-ingat perkataan 'Utbah alGhulam ini: "Aku berusaha keras dan memaksakan diri dalam melakukan shalat selama 20 tahun, dan aku baru menemukan nikmatnya shalat setelah itu semasa hidupku".
Written by: Nidhamuddin








Posting Komentar