Selamat Datang di Portal Sema-FDI Kairo

SUMELEH

Jum'at, 19 Juni 2015 | 22.38 CLT
Ilustrasi (Courtesy of Google.com)
“Maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” — QS Ali Imran: 3: 159
Gelassenheit adalah bahasa Jerman yang kira-kira bermakna, dalam bahasa Jawa, sumeleh. Orang Arab punya istilahnya sendiri, barangkali setelah turunnya kitab suci: tawakal. Sumeleh, dalam komunitas Jawa, lebih menunjuk kepada sebuah tata krama: bahwa manusia tak punya daya apapun untuk menentukan nasibnya. Dalam Islam, tawakal ternyata tak sekedar soal tata krama, tapi ia juga memuat sebuah konsep.
Banyak orang yang berkata, sumeleh tidak mungkin dilakukan tanpa terlebih dahulu didahului usaha (kasb). Tapi benarkah upaya generalisasi itu menemui titik pungkas yang mufakat? Dalam banyak ayat, termasuk yang saya kutip di atas, memang Tuhan memerintahkan hambanya untuk berusaha terlebih dahulu untuk kemudian sumeleh. Namun nyatanya ada banyak hal yang tidak mampu disentuh oleh teori sumeleh yang dipikirkan banyak orang tersebut.
Sebutlah cinta, dan makna yang sejalan dengannya.

Berbeda dengan rejeki, cinta barangkali tak bisa dicari, tak bisa diusahakan. Ia hadir dengan sendirinya. Usaha untuk mencintai sama saja usaha kepada hal yang nyaris mustahil. Saya pernah membaca novel—dulu, sangat dulu—dari Habiburrahman yang berjudul “Pudarnya Pesona Cleopatra”. Novel mini itu menceritakan tentang obsesi seorang lelaki kepada kecantikan Ratu Cleopatra. Sampai pun ia sudah mempunyai istri akibat perjodohan konyol orangtuanya. Konyol. Sebab perjodohan itu sudah mencapai mufakat bahkan sebelum ia dan istrinya lahir. Singkatnya: dalam rumah tangganya yang tanpa cinta itu, usaha untuk mencintai istrinya ternyata tak berjalan mulus.

Sampai pada suatu ketika, ia dibukakan hatinya oleh seorang intelektual yang kehilangan hampir separuh hidupnya akibat terbuai kecantikan. Nahas. Tapi di situ ada sepercik cahaya dari Tuhan. Cintanya kepada istri yang sedang mengandung anaknya itu tiba-tiba meloncat-loncat; meriap-riap; meluber bagai luapan sumur bor. Tuhan seolah telah membuka sebuah tirai pertunjukkan dan drama dimulai.

Lantas dengan demikian apakah cinta yang dihadirkan Tuhan itu berlandas usaha? Jawaban saya ‘tidak’ meskipun penulis novel itu secara tersirat mengatakan demikian.
Cinta tetap saja sebuah sumeleh yang nir-usaha (alla kasibiah). Ia dianugerahkan oleh Tuhan seperti risalah kenabian: takdir sejak lahir. Seorang pecinta dengan sendirinya juga adalah pembawa risalah kecintaan. Ketika tokoh dalam novel di atas dalam tanda kutip ‘mengusahakan’ cinta, sesungguhnya itu bukan usaha. Dan cinta yang dihadirkan Tuhan kepadanya secara mendadak juga bukan hasil dari usahanya untuk mencintai istrinya. Cinta memang sebuah misteri, kata lirik lagu Dewa: misteri tanpa jawaban.

Maka ketika umur sudah memaksa saya memikirkan masa depan dan rumah tangga, saya hanya bisa sumeleh: sumeleh yang berakar pada dua hal. Pertama, tersebab saya sudah mencintai seorang wanita, saya musti sumeleh: menyerahkan cinta saya itu kepada Tuhan agar Ia tetap menjaganya, selamanya. Kedua, tersebab merencanakan untuk berumah-tangga dengan seseorang adalah hal yang mungkin, saya sumeleh, menyerahkan takdir jodoh saya kepada Tuhan. 

Sumeleh yang pertama, seperti ungkapan saya di atas, tak butuh usaha karena Tuhan yang bakal menjaganya. Sumeleh yang kedua mustahil saya raih tanpa usaha. Singkatnya: kedua sumeleh di atas harus seimbang supaya hasilnya demikian: “Sumeleh mencintai seseorang yang di mana kita sumeleh terhadap takdir jodoh dengannya.” []

Written by : M.s. Arifin
Bagikan Postingan Ini :

Posting Komentar

PAPAN PENGUMUMAN

Popular Post

Facebook Kita

 
Support : KBRI Kairo | Atdik Kairo | PPMI Mesir
Copyright © 2015. SEMA-FDI Universitas Al-Azhar, Mesir - All Rights Reserved