Minggu, 2 April 2016 | 15.36 CLT
![]() |
| Google pic. |
Fenomena hadirnya ISIS (Islamic
State in Iraq and Syria) di era globalisasi ini tentu menarik perhatian
dunia. Bagaimana tidak? Melihat aksinya yang brutal, barbar, kejam dan biadab
membuat masyarakat dunia tercengang. Terlepas dari kalimat Laa ilaaha illallah dan Allahu akbar yang mereka ucapkan, enteng saja
mereka menghabisi nyawa manusia sambil bersiul-siul tanpa mengindahkan nilai
dan fungsi kemanusiaan.
Tentu ini contradictio
in terminis dengan jargon yang selama ini sudah tersiar ke seluruh pelosok
dunia, bahwa islam adalah rahmatan lil ‘alamiin. Nabi Muhammad adalah
Nabi pembawa rahmat, hanyalah Nabi pembawa rahmat.“Dan tiadalah Kami
mengutus kamu (Nabi Muhammad), melainkan hanya untuk (menjadi) rahmat bagi
semesta alam”.(QS. Al Anbiya: 107)
Jika dilihat dari shiyagh
(bentuk) kalimat dari ayat tersebut, mengandung gaya bahasa atau uslub al-qashr.
Setelah huruf maa yang mengandung makna nafii (peniadaan), datang
huruf illa yang mengandung makna istitsnaa' (exception atau
pengecualian). Tiadalah Kami mengutus kamu (nafii), melainkan hanya
untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (istitsnaa'). Yang artinya
tidaklah engkau Muhammad kecuali menjadi rahmat bagi semesta alam.
Kekerasan, kebiadaban
dan ketidakmanusiawian yang dilakukan oleh ISIS hakikatnya adalah iklan buruk
bagi risalah Muhammad sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam semesta. Ditambah
lagi dunia timur tengah yang makin tidak menentu arahnya. Bule-bule yang
tadinya mau masuk islam jadi ragu untuk syahadat.
Nah kita sebagai kaum
muslimin, sebagai anak bangsa yang bersyahadat, harus meluruskan kembali stereotip,
dugaan kebanyakan orang pada agama Allah ini. Caranya tentu dengan dakwah risalah
muhammadiyah ‘aalamiyyah, menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.
Kata rahmat bagi
semesta alam berarti islam bukan hanya buat orang arab saja, melainkan juga
buat orang di luar arab. Bukan pula untuk orang muslim saja tapi juga untuk
orang non muslim. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta. Karena risalah
islam bersifat universal.
Kita harus mampu
membangun kebaikan faktual dan aktual, shoolih likulli makaan waz zamaan.
Bukan seperti ISIS yang seolah-olah digambarkan membangun Islamic state yang
rahmatan lil ‘aalamin, tapi sejatinya mereka hanya menyembar akrobatik
teror supaya dikenal dunia. Mereka hanya membuat kamuflase Islamic state
yang semu, fiktif, alias menipu, dan itu malah memperburuk citra islam di
dunia internasional.
Dalam bukunya Michael
H. Hart berjudul “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in
History,” nabi kita Muhammad SAW diletakkan diurutan nomer satu. Tulis Michael
H. Hart dalam bukunya itu, kenapa Muhammad diletakkan di urutan pertama? Karena
dalam kurun waktu tiga belas abad setelah kematiannya, pengaruh Muhammad masih
sangat kuat dan merasuk di sanubari para pengikutnya. Bahkan ia juga
berkesimpulan hanya Muhammad saja yang mampu melakukan revolusi kemanusian multidimensional,
sebelum menutup mata, ia sudah melihat hasilnya.
Prestasi super agung
itu semua dikarenakan Nabi memiliki sifat rahmat bagi alam semesta. Kita sebagai
pengikutnya pun dituntut untuk meniru beliau. Memiliki sifat rahmat dalam
berdakwah, beramar ma’ruf nahi munkar, dan saling menasehati dalam kebenaran
dan kesabaran.
Written
by: M. Thoriq Aziz
(Mahasiswa
Fakultas Studi Islam dan Arab, Universitas Al-Azhar, Kairo)








Posting Komentar