Senin, 4 April 2016 | 12.26 CLT
![]() |
| Ilustrasi Penulis (1) |
‘’ Jika gembira mereka lantunkan papa! Jika marah mereka ancamkan papa!
Jika jauh mereka teriakkan papa! Jika dekat mereka bisikkan papa! ‘’.2
[Abu Umar Bahau ad-Din]
Prolog
Nan jauh disana, setiap bangsa. Tidak, bahkan setiap kelompok hidup manusia, katakanlah ‘’komunitas’’ memiliki perlambangan sendiri untuk menyampaikan keinginan yang biasa disebut bahasa .3 Dalam perjalanan mengarungi kekayaan bahasa, seorang pemerhati bisa rela menghabiskan sisa hidupnya untuk bergelut dengan manuskrip-manuskrip dan observasi langsung agar mendapatkan pengetahuan baru tentang bahasa. Mengapa demikian ? karena pada kenyataannya, diantara stimulan primordial yang menjadikan peradaban berkembang dan maju tidak lepas dari faktor immaterial yaitu bahasa.
Budaya Arab sebelum datangnya Islam telah mengenal tradisi bahasa yang diproyeksikan melalui kesusastraan. Masa ini biasa disebut Ashr Jâhili, dimana sastra begitu diperhatikan dan membumi di lingkungan semenanjung Arab. Tema yang banyak digeluti sastrawan ialah hamâsah (semangat), Sauqi Dhaif menceritakan bagaimana peperangan menyebabkan trend itu menghegemoni, dalam karyanya Târîkh al-Adab al-Arabi.4 Islam datang membawa hembusan angin rekontruksi dan dekontruksi secara bergandengan yang menghantam tataran kebudayaan, keilmuan dan kepercayaan. Demikian juga sastra turut masuk nominasi gerakkan ameliorasi oleh islam –kalau boleh diistilahkan-. Jelas terlihat persenggamaan itu, manakala Allah swt. mengabadikan kata Syi’ir yang merupakan varian sastra terpopuler bangsa Arab didalam al-Quran. Hal tersebut bukan tanpa sebab, konkretnya merupakan reaksi penolakan atas tuduhan seorang kafir kepada Nabi Muhammad saw., Mengenai kemiripan struktur bahasa al-Quran dan al-Hadis dengan wazan syi’r.5 “Dan kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang jelas’’.6
Sejarah terus mencatat laju rel sastra Arab, perkembangannya pun terus diperhatikan. Dalam rangka menfilter dan mengkategorisasikan karyasastra, maka standar penilaian merupakan suatu keniscayaan. Ilmu kritik sastra (Naqd al-Adab) menemukan jati dirinya atas persoalan barometer itubeserta seperangkat fungsional lainnya terhadap karya sastra. Belum selesai sampai disana, perlu adanya metodhologi dalam menganalisa teks sastra dinilai sangat urgen. Implementasinya memaksa para sarjanawan islam kontemporer repot-repot untuk mengadopsi cara pembacaan yang digunakan barat, guna mendapat bahan komparatif dan menghasilkan konklusi baru. Ketika mencoba menerapkan dan mengasimilasi methodologi yang landasan teoritisnya berbeda dengan prinsip Islam, tak ayal perhelatan baru antara kubu pro dan oposisi tercetuskan. Meskipun demikian, diakhir makalah pendek ini penulis berusaha menyajikan juga analisis teks yang lahir dari khazanah Islam an sich, sebagai ejawantahan dari estafet keilmuan para sarjanawan Islam klasik.
Membincang Historitas diskursus Sastra Arab
Pendekatan sejarah yang dilakukan orientalis terhadap sastra Arab dalam kajian-kajian mereka, membuahkan embrio penting bagi para pakar Arab. Sebut saja Karl Brockleman7 yang terkenal dengan magnum opusnya Gesdiidite Der arabisdien Litteratur (GAL), yang mempengaruhi pemikiran para kritikus Arab modern, umumnya pada teori pengklasifikasian periode-periode sastra Arab. Ia menawarkan dua fase inti kepada kita, yaitu sastra Arab era pendahulu sampai runtuhnya dinasti Umawiyyah tahun 750 M dan sastra nuansa Islam berbahasa Arab dan membagi setiap fase menjadi beberapa sub fase.8 Pembagian inilah yang kemudian dijadikan pijakan dasar oleh HasanTaufiq al-Adl dalam menulis sejarah sastra Arab. Lalu direvisi secara berangsur-angsur selama satu abad terakhir hingga matang di tangan Sauqi Dhaif, dengan lima periode asasnya.9
Masa jahili berlangsung sekitar 150 tahun dan kevakumannya ditandai dengan perintisan Islam. 10 Kata jâhili dalam konteks sejarah lebih tepat diartikan dengan keras perangai bukan kebodohan.11 Terbentuknya karakteristik masyarakat yang demikian sesungguhnya berkait kelindan dengan sekurang-kurangnya lima sebab. Pertama, letak geografis di daerah padang pasir yang terbentang luas. Kedua, problematika konstitusi sosial yang berlaku. Ketiga, kultur lingkungan sekitar. Keempat, profesi mayoritas pedagang yang keluar-masuk pulau dan penyebab terakhir ialah keseharian yang penuh dengan peperangan.12Namun, bak koin bermata dua. Di lain sisi banyak penyair jebolan era ini yang mengukir nama-namanya di upuk kegemilangan. Karya monumental mereka sering dijuluki Al-Mu’allaqât al-Sab’, yang berisi tujuh pesohor.13 Salah satunya Imru’ al-Qais yang populer dengan puisi romantisnya.14 Gubahan yang menggambarkan perasaan gelisah mendalam yang dialaminya dituangkan dalam untaian syair :
وليل كموج البحر مرج سدوله # علي بأنواع الهموم ليبتلى
# فقلت له لما تمطى بصلبه وأردف أعجازا وناء بكلكل
ألا أيها اليل الطويل ألا أنجال # بصبح وما الإصباح منك بأمثل
Tampuk kesusasteraan beralih haluan, spirit keislaman datang membawa nilai-nilai kemanusiaan menggantikan tradisi yang telah mengkristal pada masyarakat Arab jâhili. Seakan menabuh gamelan di pagelaran seni, mendiskreditkan kaum borjuis Arab (terutama Quraisy) terhadap sifat fanatik golongan. Sejak Rasulullah saw. menyebarkan dakwah dan diturunkannya al-Quran, proses benturan itu tak terelakkan. Akan tetapi, seiring berjalannya gerakkan ameliorasi dengan cara memperlihatkan kemukjizatan al-Quran dan sifat defensif atas perlakuan kaum Kafir yang diimplementasikan melalui etika. Banyak dari penyair ternama mulai mendeklarasikan ke-islamannya. Mereka yang merasakan era Jâhiliyah dan meninggal dalam keadaan Islam dikategorikan sebagai Muhadhramûn.15 Ka’b Ibn Zuhaîr, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya itulah ungkapan yang berkorelasi dengan keluarga penyair ini. Ia sempat memusuhi dan mencaci Nabi saw. layaknya kaum musyrikin lain. Tidak beberapa lama, setelah saudaranya Buhaîr menulis surat saat penaklukkan kota Makkah. Bahwasanya para penyair musyrikin akan dibunuh kecuali apabila mereka mengikrarkan Syahadat. Ditambah lagi, ia diminta untuk bersua dengan Rasulullah saw. Hatinya tergugah dan meng-islamkan dirinya.16 Diantara potongan bait syair karangannya yang terkenal ialah :
ان الرسول لنور يستضاء به # مهند من سيوف الله مسلول
Tradisi kesusasteraan mulai merambah ke karangan prosa (natsr),17 inilah satu diantara genre yang menjajaki popularitasnya di antara varian yang ada pada era ini. Pada fase kedua ini, tidak berhenti begitu saja ketika wafatnya Nabi Muhammad saw.. Melainkan terus berlanjut ke masa khulafâ al-râsyidûn hingga tahun 750 M, dimana hancurnya kerajaan bani Umayyah menjadi titik akhir dari bagian awal sastra Arab.18
Sebelum terhempasnya sisa-sisa puing peradaban dinasti Umawiyyah dari permukaan tanah. Sastra umpama cerminan kondisi sosial dan dunia realitas. Tema yang dimunculkan kepermukaan melulu terkungkung dalam problematika politik yang melahirkan golongan-golongan Kalam, dewasa ini. Kalau zamannya As-Syinfari menggubah syair akibat luapan ketidakpuasan terhadap perlakuan kelompoknya, atau bisa dikatakan mengucilkan dirinya. Juga, atas realita sosial dalam kehidupannya. Maka, memiliki kemiripan alasannya dengan golongan penyair Syiah, Khawarij dan pengikut Zubair ra. yang jelas disebabkan oleh pergolakan politik antara pihak kerajaan dan objek diskriminasi. Tidak hanya melalui syair, bahkan prosa turut dijadikan sarana untuk mewadahi aspirasi golongan dan prinsip pribadi mereka. Ziyad Ibn ‘Ubaîd tokoh politik yang lihai merangkai kata di atas mimbarnya. Namanya dikenal sebab ia sudah malang melintang pengalamannya dalam kepemerintahan. Sosok yang disegani itu, mempunyai karismatik yang luar biasa ketika menyampaikan orasinya. Pernah ia berkata pada pembukaan pidatonya “ Wahai saudara-saudara, kami telah menjadi politisi untuk anda semua dan dari kalian pengawal bayaran. Kami memerintah anda semua dengan otoritas Allah swt. yang Dia berikan kepada kami dan melindungi kalian dengan naungan-Nya yang Dia percayakan. “19 Sekali lagi, tanpa melihat aspek sosiologis masa ini. Secara objektif dapat dikatakan banyak terdapat kemajuan dalam pengkodifikasian dan penulisan utuh sebuah karya. Sehingga, kita masih sanggup untuk melihat jejak arkeologis baik berupa sastra khususnya ataupun keilmuan yang lain.
Puncak kekuasaan selalu mempengaruhi tataran sosial, begitu pun budaya masyarakatnya. Abbasiyyah menjadi dinasti yang meneruskan sistem monarki di tanah Arab setelah Umawiyyah. Rekontruksi ilmu kesusastraan melalui terma Awzân dan Qowâfî, mengindikasikan sebagian usaha pembaharuan pelbagai khazanah keilmuan Islam. Masyhur sudah Abu Nuwas, seorang keturunan Persia yang hidup di Zaman keemasan Islam. Kutipan Syair yang di dendangkannya :20
اضحى الامام محمد # للدين نورا يقتبس
تبكي البدور لضحكه # والسيف يضحك ان عبس
Penaklukkan yang dilakukan Tatar tahun 1258 M terhadap kota Baghdad yang menjadi sentral seluruh poros ekonomi dan keilmuan masyarakat, menyebabkan banyak kerugian bagi kaum muslimin dari pelbagai aspek. Pantas jika momen ini menjadi track record buruk bagi peradaban Islam. Juga menandai batasan fase yang ketiga. Begitu terombang-ambingnya peradaban Islam, ternyata belum kehilangan semangat perjuangan untuk mencoba bangkit dan berkembang di Negara-negara yang pernah ditaklukkan. Sastra Arab perlahan-lahan banyak mengalami perubahan dalam muatan dan bahan dasarnya.
Keempat, Fase setelah ditaklukkannya Baghdad sampai ekspedisi Perancis ke Mesir tahun 1978 M. Sastra Arab yang sekarang kita sedang telaah, terikat dengan waktu dan terbentuk di dalamnya. Konklusinya, satra Arab ialah produk budaya yang berubah-ubah sesuai waktu dimana ia berada.
Kritik sastra Arab
Sastra lahir disebabkan oleh dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan eksistensi dirinya, perhatian besar terhadap masalah manusia dan kemanusiaan, serta perhatiannya terhadap dunia realitas yang berlangsung sepanjang hari dan sepanjang zaman. Karena itu, sastra yang telah dilahirkan oleh para pengarang diharapkan dapat emberikan kepuasan estetik dan intelektual bagi masyrakat pembaca. Dalam kaitannya dengan ini, maka perlu dilakukan penelitian sastra agar hasil penelitiannya dapat dipahami dan dinikmati oleh masyarakat pembaca.21
Penelitian yang dilakukan tentunya didasari oleh telaah kritis para pemerhati sastra-selanjutnya dibahasakan dengan kritikus-. Ajakan untuk menelaah kekayaan turâts diserukan oleh kritikus Arab Jabir Ashfur. Ia menjelaskan didalam prolog buku Mafhûm as-Syi’r penyebab utama tidak adanya penelaahan poros-poros turâts dan belum tersibaknya kekayaan tersebut sampai sekarang, disebabkan hilangya pustaka bersamaan nama-nama buku karangan pendahulu-pendahulu kita.22 Setelah mengetahui pokok persoalan terhambatnya proses penggalian itu. Sudah seyogyanya dari sumber yang masih bisa kita nikmati implikasinya, agar dijadikan bahan pengembangan sekaligus perenungan terhadap karya sastra itu sendiri.
Atas kesadaran intelektual, pembacaan kritis terhadap sastra sudah menjadi kewajiban bagi sang kritikus. Sebagaimana pengertian kritik (naqd)ialah penilaian kebenaran untuk setiap peninggalan karya sastra, menyatakan nilai pada esensi dan statusya melalui komparasi dengan karya lain.23Dari ta’rîf tersebut, kita dapat mengetahui tujuan dari proses kritik yaitu membuat sebuah penilaian. Maka, ketika sebuah penilaian yang dicari, semestinya seorang kritikus memenuhi beberapa kriteria ini : ketajaman analisa, kecepatan ide, kelembutan rasa, mampu menghadirkan simpati bersama pengarang dan terbebas dari sentimental yang merusak otoritasnya. Berpengalaman dengan satra, pengetahuan tentang sejarah evolusi sastra, dan korelasinya dengan seni yang lain.24
Setelah memahami orientasi kritik tertuju pada karya sastra, yang berusaha kita tarik konklusinya yaitu “kritik teks”. Karena, untuk mendapatkan keotoritatifan teks harus dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap teks mula (arketipe) sehingga persoalan orisinilitas muncul bersamaan pada sebuah penelitian.
Kritik yang dilakukan terhadap teks, dikaji secara kritis dan detail demi mendapatkan hasil maksimal. Usaha demikian, tekun dilakukan oleh ulama klasik, tidak terkecuali para kritikus modern. Baik asal Arab atau a’jamiy yang memberikan loyalitasnya untuk kepentingan penelitian sastra. Mungkin nama Thaha Husain pernah diggandrungi pelbagai pemberitaan dan menyita perhatian banyak ulama semasanya. Bagaimana tidak, telaah yang ia lakukan membuahkan point-point penting yang dianggap keliru. Terutama pembahasan terma otentisitas as-Syi’r al-jâhili, menurut pandangannya bahwa penisbatan syair kepada Imru’ al-Qais, Al-A’syâ dan yang lainnya tidak mungkin bersumber dari para penyair tersebut. Kesimpulannya yang demikian, sebenarnya tidak terlepas dari analisanya tentang penggunaan Syair-syair itu untuk dalil argumentasi didalam pembenaran tafsir al-Quran dan pentakwilan al-Hadis. sebab, syair-syair tadi keberadaanya tidak menunjukkan sebagai justifikasi maksud-maksud al-Quran dan al-Hadis.25 Sesungguhnya statement yang diungkapkan Thaha Husain tidak jauh beda dengan apa yang dinyatakan Margholiouth dalamthe origins of arabic poetry.26 Hujan kritik yang membasahi lahan kajian sastra, terus menumbuhkan hipotesa baru dan bertambah kuat akar teorinya. Namun, dengan tegas penulis katakan, semua yang dihasilkan dari methodologi akan gugur ketika landasan teori yang digunakannya mulai rapuh. Bukan dari awal pembentukannya, lebih tepat merupakan hasil evaluasi banayaknya kajian dan penelitian. Itu lah siklus kritik yang akan terus berevolusi di dalam kajian kesusastraan.
Menganalisis teks sastra Arab
Dalam menginterpretasi teks, kritikus membutuhkan suatu metodhologi yang punya landasan teoritis. Teori merupakan asas atau hukum-hukum yang menjadi dasar suatu ilmu pengetahuan. Menarik jika diperhatikan, teori sastra barat yang selama ini dimanfaatkan dan diadopsi oleh kritikus Arab rasanya perlu diberi sedikit komentar. Memang secara teknis, semua teori sastra yang diimport dan dipaksa-paksakan untuk memperbudak para kritikus sastra di Timur tengah, khususnya Mesir itu tidak lain berpijak pada karya sastra barat yang asing bagi kalangan Kritikus Arab. Juga masalah yang lebih mendasar, yaitu masalah kebudayaan. Teori sastra tidak jatuh dari langit yang netral, tetapi muncul dari kebudayaan dengan tradisi, warna, dan aromanya sendiri. Paling tidak sampai sekarang dapat dikemukakan bahwa dalam hal kebudayaan, timur tetap timur dan barat tetap barat.
Dalam buku Nadzhoriyât mu’âshiroh, Jabir Ashfur mencoba mengenalkan teori Struktural generatif (al-bunyawiyat al-taulîdiyah). Diantara upaya penawaran methodologi dalam menganalisa teks sastra Arab. 27 Mona Thalbah menjelaskan alasan pengalih bahasaan De la Grammatologie milik Jaques Derrida yang dikenal sebagai Filsuf besar abad ke- dua puluh, melalui teori dekontruksinya, adalah permintaan dari Jabir Ashfur.28
Sebenarnya banyak model pembacaan seperti semiotik, intertekstual, sosiologi sastra, psikologi sastra dan lain sebagainya yang masuk nominasirecommended untuk digunakan pada proses analisis teks sastra Arab. Akan tetapi, sesuai dengan apa yang penulis katakan didalam prolog bahwasanya akan memunculkan analisis teks yang tumbuh dilahan keilmuan Islam. Methodologi tersebut ialah ilmu retoris (Balâghah) yang matang di tangan ulama klasik dan diperbaharui ruang lingkup penggunaannya, tidak hanya sebatas menguak sisi keindahan al-qur’an, lebih lagi berusaha untuk menjadikan suatu methodologi dalam kritik sastra Arab. Sehingga nantinya muncul embrio-embrio Al-Jurjâni era modern.
Epilog
Sastra merupakan bagian penting dalam rumus analogi bahasa Arab dalam tradisi Islam, yang dikehendaki Allah swt. menjadi bahasa al-Quran al-Karîm. Dari setiap analisa yang coba dilakukan tidak terlepas hanya untuk mengungkap fakta sejarah dan realita sosial pada zaman si pengarang. Pada taraf lain, dapat dielaborasi untuk membangun sebuah peradaban yang maju, melalui aktifitas kesusastraan. Dan yang ingin ditekankan pada tulisan ini, ialah sifat kritis yang harus dibangun guna menghadapi pergolakan pemikiran yang terus berkembang. Demikian, sampailah diakhir makalah pendek ini, semoga mampu meningkatkan gairah intelektual bagi penulis secara khusus dan umumnya untuk pembaca.
Referensi :
1 Ditulis oleh Ketua DPH SEMA-FDI Kairo, Asroruddin Alie Shodiqin
2 فنشيد هم "بابا" اذا فرحوا # و وعيد هم "بابا" اذا غضيبوا و هتا فهم "بابا" اذا ابتعدوا # و نجيهم "بابا" اذا اقتربوا
3Ahmad al-Iskandari, Al-Wasîth fi al-Adab al-‘Arabi, (Al-Ma’ârif, th. 1919), h. 3.
4 Sauqi Dhaif, Târîkh al-Adab al-‘Arabi, vol. 1 (Kairo :Dar al-Ma’arif,th.1960), h. 62-66.
5 Ibn ‘Atiyah, Al-Muharir al-Wajîz fî Tafsîr al-Kitâb al-‘Azîz, (Dar IbnHazm, t.th.), h. 1568.
6(QS, Yâsîn[36]:69)
7 Lihat Abdurrahman Badawi, Mausû’ât al-Mustasyriqîn, (Beirut : Dar al-Ilm, th. 1993), h. 98-105.
8 Karl brockleman, Gesdiidite Der arabisdien Litteratur diterjemahkan oleh Abd al-Halîm an-Najâr dengan judul Târîkh al-Adab al-‘Arabi ,(Kairo : Dar al-Ma’arif, th. 1959), h. 37.
9 Sauqi Dhaif, op. cit,. h. 14-15.
10 Ahmad al-Iskandari, op. cit,. h. 9.
11Republik Arab Mesir, ‘’Al-Mu’jam al-Wajîz’’, (Cet. Khusus; Kairo : Al-Hai’ah al-‘Ammah, th. 1995), h. 124.
12 Afîf Abd al-Rahmân, Al-Adab al-Jâhily Fî Atsar al-Dârisîn Qadîm Wa Hadîs, (Dar al-Fikr, th. 1985), h. 10.
13 Al-Khâtib al-Tabrizî, Syarh al-Mu’allaqat al-‘Asyr, (Cet. 2; Beirut : Dâr al-Fikr, th. 2007), h. 6.
14 Al-Zuzany, Syarh al-Mu’allaqât al-Sab’, (cet. 1; Kairo : Al-Quds, th. 2009), h. 9.
15 Sauqi Dhaif, Târîkh al-Adab al-‘Arabi, vol. 2 (Kairo :Dâr al-Ma’arif,th.1960), h. 46.
16 Ibid,. h. 84-85.
17 Misal : Khutbah
18 Sauqi Dhaif, op. cit,. vol. 1 (Kairo :Dâr al-Ma’arif,th.1960), h. 14.
19 Sauqi Dhaif, op. cit,. vol. 2 (Kairo :Dâr al-Ma’ârif,th.1960), h. 473.
20 Ibid,. vol. 3, h. 229.
21 Dr. Sangidu, M. Hum., Penelitian Sastra : Pendekatan, Teori, Metode, Teknik, dan Kiat. (Cet. 3; Yogyakarta : Seksi Penerbitan Sastra asia Barat, th. 2007), h. 1-2.
22 Jabir Ashfur, Mafhûm as-Syi’r. (cet. 5; Kairo : Al-hai’ah al-Ammah al-Misriyah, th. 1995), h. 5.
23 Ahmad Syayib, Ushûl an-Naqd al-Adaby, (cet. 10; Kairo : An-Nahdhoh al-Mishriyah, th. 1994), h. 116.
24 Ibid,. h. 117.
25 Thaha Husain, Fi al-Syi’r al-jâhili, (Dar li al-tiba’ah, t.th.), h. 21-22.
26 lihat David Samuel margholiouth, the origins of arabic poetry diterjemahkan oleh Ibrahim ‘Iwadh dengan judul Ushûl al-Syi’r al-‘Arabi ,(Kairo : Dar al-Firdaus, th. 2006),.
27 Jabir Ashfur, Nadzhoriyât mu’âshiroh, (Maktabah al-Usrah, th. 1998) h. 83.
28 Jaques Derrida, De la Grammatologie diterjemahkan oleh Anwar Mugis dan Mona Tholbah dengan judul Fî ‘Ilm al-Kitâbah, (cet. 8; Kairo : al-Markaz al-Saqafi, th. 2008), h. 9.








Posting Komentar