Senin, 11 April 2016 | 17.40 CLT
![]() |
| Google pic. |
Pertapa dipelukan gua yang senantiasa melantunkan dzikir pada langit itu, aku mencintainya. Sungguh aku mencintainya. Ditabur isi hatinya diserahkan seluruh diri dan yang ia miliki. Untuk kebanggaan yang di mimpikan bisa menerangi bumi sepeninggalnya nanti.
Pertapa yang setia pada kasih yang tak mungkin ada yang bisa menyajikan hal serupa itu, aku mencintainya. Sungguh aku mencintainya. Ia rela mengaliri bumi dengan air matanya, setia pada khusyuk pada sujud pada sisa kekuatan yang ada padanya. Untuk kebanggaan yang tak seujung kukupun mentadabburinya.
Pertapa itu, terus saja mengetuk pintu langit. Mengusik malaikat agar bersedia menyampaikan mimpi yang ia tuliskan pada secarik hati yang tak kenal retak pada Tuhan. Demi hanya melihat kebanggaannya lebih baik dari dirinya.
Pertapa yang kumaksudkan itu, ibu. Mari mencintainya.
Kairo, 8 April 2016
Written by: Zis al-Hakim
(Mahasiswa Fakultas Studi Islam dan Arab, Universitas Al-Azhar, Kairo)








Posting Komentar