Selamat Datang di Portal Sema-FDI Kairo

Ahlu Shuffah dan Santri

Oleh: M. Afri Muadzom, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah 2017-2018


Istilah Ahlu Shuffah seringkali tertulis di kitab-kitab yang membahas biografi Sahabat Nabi saw, seperti Usudul Ghâbah karangan Ibnu al-Atsîr, al-Ishôbah fî Tamyîzi al-Shahâbah karangan Ibnu Hajar al-Asqolâni.
Ketika beranjak menerangkan biografi seorang Sahabat Nabi pengarang sering memulainya dengan perkataan "فلان من أهل الصفة"  (Fulan termasuk Ahlu Shuffah).

Secara sederhana Ahlu Shuffah bisa diartikan sebagai sekelompok orang yang hidup di pelataran Masjid Nabawi dengan segala keterbatasan yang ada.
Hal ini karena ketika para Sahabat berhijrah ke Madinah mereka meninggalkan semua harta benda di Mekah. Sesampainya di Madinah beberapa dari mereka mengalami kesulitan untuk hidup dan memilih tinggal di pelataran Masjid Nabawi dengan bergantung kepada Nabi saw dan orang-orang muslim yang memenuhi  kebutuhan mereka.




Sedangkan istilah santri sendiri sampai saat ini memiliki banyak devinisi dari para tokoh muslim Indonesia. Tak sedikit dari mereka yang berusaha menggenalisir istilah santri agar mencakup setiap orang yang belajar agama Islam dan berakhlakul karimah.
Tetapi fakta di lapangan mengatakkan bahwa masyarakat hanya akan memberi label santri bagi mereka yang sedang atau pernah belajar ilmu agama di pondok pesantren. Tak heran masyarakat enggan memberi label santri kepada pelajar agama yang telah lulus dari suatu instansi pendidikan apabila ia tidak pernah mengecap pendidikan di pondok pesantren.
Dari sini penulis menilai bahwa tidak ada salahnya apabila kita membatasi pengertian santri sebagai orang yang sedang atau telah belajar di pondok pesantren walaupun sebentar, karena inilah yang tertanam dalam pandangan masyarakat umum. Apalagi lagu mars Hari Santri juga berjudul "Ayo Mondok!"


Dari dua pengertian diatas setidaknya ada beberapa corak hidup yang sama antara Ahlu Shuffah dam santri:

1. Mereka fokus hidup untuk beribadah dan mencari ilmu.

Kehidupan Ahlu Shuffah yang terpisah dengan kesibukkan masyarakat Madinah membuat mereka benar-benar fokus mencurahkan kemampuan untuk menerima ajaran Islam dari Nabi saw.
Hal ini seperti yang dikatakan Abu Hurairah ra, -Sahabat Nabi yang dikenal sebagai ketua Ahlu Shuffah- ketika orang-orang menanyakan sebab banyaknya hadis yang ia riwayatkan:
"أما أنتم يا معشر المهاجرين فقد شغلتكم التجارة، وأما أنتم يا معشر الأنصار فقد شغلتكم الحقول والمزارع، وأما أنا فقد لازمت رسول الله   على ملء بطني فكنت أتعلم منه العلم"

(Kalian wahai kaum Muhajirin sibuk berdagang, dan kalian wahai kaum Anshor sibuk berkebun dan bertani, kalau saya  selalu mulazamah bersama Rasulullah saw dan hidup dari makanan yang beliau berikan, saya belajar ilmu darinya).

Kehidupan kaum santri pun tak jauh berbeda, mereka berada di "penjara suci" yang membuat mereka lebih fokus belajar ilmu agama. Disaat anak-anak remaja lain disibukkan dengan gadget, nongkrong dan hal-hal negatif lainnya, kaum santri selalu mengisi waktunya untuk mengaji dan menambah hapalan ilmu.
Tak heran muncul semboyan "sing penting ngaji, lalaran kanti istiqomah" (yang penting belajar, menghapal sampai istiqomah).


2. Keduanya sama-sama hidup dalam kesederhanaan.

Dari awal uraian diatas dapat dipahami bahwasanya kehidupan Ahlu Shuffah adalah kehidupan yang sederhana dan jauh dari kemewahan dunia. Mereka tidak pernah menyimpan harta dan hidup dari pemberian saudara muslim lain. Bahkan terkadang mereka menahan lapar hingga beberapa hari seperti yang diceritakan Abu Hurairah ra yang dalam keadaan kelaparan pernah pura-pura bertanya kepada Abu Bakr ra tentang makna ayat al-Qur'an karena berharap Abu Bakar ra mengetahui keadaan dia untuk kemudian memberinya makanan, namun pada saat itu Abu Bakar ra tidak tahu keadaan tersebut. Kemudian Abu Hurairah ra mencoba  melakukan hal yang sama kepada Umar ra namun ia juga tidak tahu keadannya, hingga akhirnya Abu Hirairah ra bertemu Rasulullah saw dan akhirnya ia dan Ahlu Shuffah lain bisa meminum air susu pemberian Rasulullah saw.

Begitu juga kehidupan santri yang selalu dalam kesederhanaan. Di pondok pesantren tidak ada bedanya antara anak Gubernur dan anak tukang bubur, anak Bupati dan anak kuli semuanya diperlakukan sama rata. Tidur dengan beralas sajadah, atau dengan satu ranjang namun diisi empat anak. Semuanya mereka jalani dengan senang hati.والله أعلم



Bagikan Postingan Ini :

Posting Komentar

PAPAN PENGUMUMAN

Popular Post

Facebook Kita

 
Support : KBRI Kairo | Atdik Kairo | PPMI Mesir
Copyright © 2015. SEMA-FDI Universitas Al-Azhar, Mesir - All Rights Reserved