Ketua Sema FDI, Hudaili Abdul Hamid, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan maktabah-maktabah yang ada di kairo. Hal itu dikarenakan banyaknya mahasiswa yang masih minim informasi tentang pemetaan maktabah dan ihwal memilih kitab yang bagus. Padahal menurutnya, hal itulah yang menjadi dasar bagi setiap akademisi dalam memperluas wawasan.
"Mengetahui sumber ilmu (maktabah) merupakan bagian dari ilmu itu sendiri" ungkap Hudaili Abdul Hamid, mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah Wal 'Arabiyah Syu'bah Ammah tingkat dua.
Maktabah Amiriyah pertama kali dikunjungi. Maktabah ini dikenal sebagai maktabah tertua di Mesir. Maktabah yang diresmikan oleh Presiden Mesir, Jamal Abdul Nasheer, ini menyediakan buku-buku terkait hukum, perundang-undangan dan kepemerintahan Mesir. Namun tersedia pula buku-buku keagamaan yang yang harganya pas di kantong mahasiswa.
![]() |
"Di sini kitab yang rekomended diantaranya kitab syarh shohih muslim, yang ditulis oleh Imam Nawawi, ulama terkemuka. Harganya cuma 150 L.E, kalau di maktabah lain mungkin bisa berkali lipat harganya" ujar ust. Afri Muadzom sambil menunjukan bukunya.
Salah seorang peserta, Mari Ibrahim mengungkapkan kegiatan ini sangat bermanfaat, terutama bagi mahasiswa baru. Menurutnya, mahasiswa memang butuh kegiatan-kegiatan seperti ini, karena mahasiswa butuh banyak referensi agar luas wawasannya.
"Mantap nih kegiatannya. Kita emang butuh pengetahuan tentang macam-macam referensi. Biar nanti kalo pulang ke Indonesia kan minimal tau toko-toko buku di Mesir," ujarnya.
Kegiatan rihlah berlanjut ke beberapa maktabah lain di sekitar Downtown, diantaranya: Maktabah Adab, Maktabah Khonji, Maktabah Ar-risalah Al-'Alamiyah, Maktabah Wahbah dan yang lainnya, sampai yang terakhir maktabah syuruq. Rihlah ini juga diakhiri dengan makan bersama di Mat'am Mie aceh selepas azan magrib berkumandang.
Reporter: M. Fatahillah Abdurrahman,








Posting Komentar