Selamat Datang di Portal Sema-FDI Kairo

Islam dan Keamanan

Oleh: Hudaili Abdul Hamid (Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah Wal Arabiyah)

Semua manusia pasti menginginkan keamanan dan ketentraman. Merupakan cita-cita agar dapat menikmati hidup tanpa ada yang mengganggu. Tentram dan damai menjalani hari-hari kehidupan. Hidup aman merupakan sebagian dari kenikmatan besar yang Allah Swt. berikan.


Tanpanya, manusia tidak akan pernah merasakan nkmatnya ketenangan pikiran, tentram dan damai. Hal ini tidak akan terwujud apabila manusia tidak merasa aman terhadap hak asasi kemanusiaannya. Oleh karena itu, Hak Asasi Manusia sangat dilindungi oleh undang-undang, agar dapat melindungi hak-hak dan menjamin keamanan setiap individu dan masyarakat.

Ada lima hak penting  dalam pandangan Islam yang harus terpenuhi, agar manusia dijamin keamanannya. Yang kemudian dikenal dengan istilah “Al-Dharuriyyat”, yaitu hak primer yang sangat urgen. Diantaranya adalah jaminan keamanan terhadap jiwa, agama, akal, harta dan keturunan. Ini artinya, syarat penting Al-Dharuriyyat untuk menciptakan keamanan individu maupun sosial, adalah terwujudnya rasa aman terhadap jiwa(nyawa), akidah yang ia yakini, akal yang ia gunakan untuk berpikir, harta benda dan keluarganya.

Pertama, rasa aman terhadap jiwa itu adalah tidak boleh menyakiti jiwa(nyawa) dengan cara apapun, selama orang tersebut tidak melakukan kejahatan yang harus dihukum. Maka penghormatan islam terhadap jiwa manusia tidak hanya terbatas pada orang-orang muslim saja, akan tetapi, mencangkup kepada seluruh jiwa manusia tanpa memandang kelompok, bangsa, kelamin, warna kulit dan bahasa. Dalam pandangan Islam, menyakiti satu jiwa tanpa alasan yang benar itu sama dengan menyakiti seluruh manusia. Sebagaiman telah dinyatakan dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 32: من قتل نفسا بغير نفس أو فساد في الأرض فكأنما قتل الناس جميعا ومن أحياها فكأنما أحيا الناس جميعا
“Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu(membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia. Barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia.”

Melukai disini bukan hanya sekedar dalam makna kejahatan pembunuhan saja, akan tetapi juga termasuk menakut-nakuti, mengancam, atau meneror dengan segala cara yang ia halalkan, juga termasuk dalam kategori melukai.

Ajaran Islam dalam memuliakan manusia tidak hanya untuk manusia yang hidup saja, akan tetapi juga berlaku terhadap manusia yang telah mati. Diriwayat dalam suatu hadist Nabi, suatu hari Rasulullah Saw duduk bersama dengan para sahabat Nabi, lalu lewalah jenazah di hadapan mereka, kemudian Rasulullah berdiri sebagai bentuk penghormatan akan mayat tersebut, setelah itu, ada beberapa sahabat berkata kepada Rasulullah bahwa jenazah tersebut adalah mayat seorang Yahudi, Rasulullah kemudian berkata: أليست نفسا؟
“Bukankah ia juga manusia?”

Kedua adalah rasa aman terhadap keyakinan. Rasa aman ini merupakan isyarat bahwa tidak ada paksaan bagi seseorang untuk memeluk agama tertentu dan juga keluar dari agama. Karena sering kali paksaan dalam memeluk agama tertentu dapat melahirkan kemunafikan dan tidak serius dalam menjalankan ajaran tersebut. maka prinsip Al-Qur’an tentang kebebasan dalam menganut agama, kepercayaan atau keyakinan sangatlah jelas: لا إكراه في الدين
“Tiada paksaan dalam beragama” (QS. Al-Baqarah :256)

Ketiga, rasa aman terhadap akal. Merupakan menjamin akal pikiran agar dapat melakukan peran pentingnya yaitu berpikir, tentu juga berkaitan dengan segala kegiatan yang berkaitan dengan akal. Ini artinya, tidak boleh bagi siapapun menghambat proses kerja akal dengan cara apapun.

Oleh karenanya, dalam pandangan Islam, kebebasan berpikir dan berpendapat sangat dihormati selama tidak membahayakan kemaslahatan umat. Sebagaimana dalam hal taklid buta, mengikuti perkataan dan perbuatan orang lain tanpa mengetahuinya.

Dalam pandangan Islam tidak diperkenankan. Karena itu sama dengan menafikan peran akal yang telah Allah Swt. anugerahkan. Dengan akal tersebut seseorang dapat memanusiakan dirinya dan orang lain.

Keempat, menjamin keamanan terhadap harta. Merupakan menjaga kepemilikan individu dari segala bentuk serangan seperti perampokan, perampasan, pencurian dan yang lainnya. Dalam pandangan Islam, orang muslim yang mempertahankan nyawanya, hartanya dan kehormatannya dikelompakkan dalam orang-orang yang mulia. Dengan demikian, harta bagaikan agama dan akal yang dimiliki manusia dalam hidupnya. Ia memiliki peran penting agar tidak diganggu.  Maka setiap orang harus dipantikan keamanan hartanya, agar dapat menjalankantanggung jawabnya dalam bermasyarakat.

Kemudian yang kelima, seorang tidak akan merasa aman, apabila keluarganya dalam bahaya. Seorang tidak sempurna rasa amannya, apabila keluarganya; orang tuanya, anak-anaknya, cucu-cucunya serta kerabatnya merasakan tidak aman.

Dari uraian singkat diatas, tampak jelas apabila seseorang telah dijamin keamanannya, merasa aman dan segala kebutuhan primernya terpenuhi, maka akan merasakan ketenangan dan ketentraman dalam menjalani lika-liku kehidupan. Sehingga memiliki kesempatan untuk berekspresi, berkreasi, bekerja, berinovasi dan memberikan manfaat bagi sesama sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Deskripsi keamanan ini yang lebih ideal bagi manusia baik secara individu dan masyarakat. Bahkan lebih unggul dari pada pemikiran yang menyelimuti para filsuf dan para pemikir. Karena deskripsi model ini, dari satu sisi tidak terpisah dari dari realita dan dari sisi yang lain memiliki ikatan erat dengan keyakinan  yang selalu mendorong dan mendukung agar terwujud. Pada akhirnya, dianggap sebagai bentuk untuk mewujudkan perdamaian dunia. Sebagaimana amanah atau mandat Allah Swt. yang diberikan kepada manusia, agar dapat memakmurkan bumi ini baik secara materiel maupun spiritual.

Akan tetapi, untuk mewujudkan keamanan bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Memerlukan upaya besar dalam menghadapi tantangan yang menghadang. Karena disetiap ada yang baik pasti ada yang buruk, di setiap ada yang putih ada yang hitam, di setiap ada yang sabar ada yang pemarah, begitu siklus kehidupan di dunia ini. Di dunia ini, tidak ada yang terhindar dari kaum perusak yang mempunya visi dan misi menghancurkan dan menggangu orang yang baik-baik. Meneror masyarakat yang hidup tentram dan membahayakan kaum muslimin. Dan mereka-orang yang jahat- itu selalu berkedok dibalik agama untuk menutupi kejahatan mereka yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama.

Menjadi orang baik itu sangat mulia, ia berani bagaikan pahlawan. Mencurahkan segala pikiran dan raga untuk kebaikan. Ia tidak memikirkan imbalan ataupun pujian. Yang ia pikirkan hanya kemaslahatan. Jauh dari iri hati dan aksi kejahatan. Berbagai rintangan dan cobaan ia hadapi dengan penuh kesabaran. Karena ia yakin bahwa selamanya orang baik itu akan selalu bersinar. Bagaikan mutiara dibawah kedalaman dasar samudra. Begitu mulia orang-orang baik itu, sehingga untuk menceritakan, kehabisan kata-kata dan kesempatan. Semoga kita selalu menjadi orang yang baik-baik. Baik bagi diri kita sendiri, baik bagi orang lain.

Demikian, semoga bermanfaat.
Bagikan Postingan Ini :

Posting Komentar

PAPAN PENGUMUMAN

Popular Post

Facebook Kita

 
Support : KBRI Kairo | Atdik Kairo | PPMI Mesir
Copyright © 2015. SEMA-FDI Universitas Al-Azhar, Mesir - All Rights Reserved