“MENYINGKAP
TABIR DIRASAT ISLAMIYAH”
dalam acara Pelantikan DP SEMA-FDI Periode 2019-2020
Oleh:
Hengki Amsaleh
Anggota BINFOTEK SEMA- FDI
2019-2020
Alhamdulillah
kami tujukan pada Allah SWT atas karunia dan nikmat-Nya atas dilancarkannya
acara pelantikan pengurus baru SEMA-FDI pada hari Ahad tanggal 22 September
2019 di Aula Griya Jateng. Dalam acara
tersebut, hadir beberapa tamu
undangan, seperti Ustadz Nasruddin Babas selaku Wapres PPMI, Ustadz M Rasyid Abdurrahman selaku
Sekjen PPMI, Ustadz Novian Nuzul Faka selaku Ketua SEMA-Ushuludin, Ustadzah
Furna Hubbatalillah selaku Ketua Wihdah PPMI, dan senior-senior dari FDI itu
sendiri. Pelantikan tersebut dipimpin oleh Wapres
PPMI mewakili Presiden
PPMI yang sedang berada di
Indonesia, namun hal itu tidak menyurutkan semangat para pengurus baru yang
sudah siap dilantik dan tentunya siap mengemban amanah untuk meningkatkan
kualitas SEMA-FDI selama satu tahun kedepan. Pelantikan kali ini dihadiri oleh
peserta yang lebih banyak dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Ustadz
Nasruddin Babas selaku Wapres
PPMI mengatakan: ”Diharapkan kedepannya SEMA-FDI bisa membuat silabus kurikulum
yang diajarkan di Fakultas Dirasat guna memudahkan mahasiswa dalam belajar dan
fokus terhadap Maddah yang nantinya akan dipelajari di kuliah sesuai dengan
tingkatannya. Kalian itu masuk Fakultas yang bagus, kalau seandainya saya balik
lagi ke S1, saya akan masuk dirasat, hanya saja saya dulu tidak mengerti apa itu Fakultas Dirasat. Oleh
sebab itu, pengenalan mengenai Fakultas Dirasat sangat penting, kedepannya
bisa lebih ditingkatkan lagi agar
menjadi lebih baik.”
Adapun
Ustadz Hudail selaku Ketua
SEMA-FDI tahun sebelumnya juga menuturkan ”Saya sangat mengapresiasi para
senior banyak yang hadir dalam acara ini. Selain itu, ada suatu hal yang ingin
saya sampaikan bahwa banyaknya hoaks, fitnah serta penyimpangan yang terjadi
dimana-mana pada masa-masa sekarang ini, sebagai tanda bahwa kurang beraninya
diri kita melawan hal tersebut. Ketegasan dan kekuatan seharusnya ada dalam diri
kita sebagai seorang pemuda untuk menyampaikan sebuah kebenaran, meskipun
kebenaran itu pelik untuk diungkap dan dikatakan.”
Tidak
hanya Ustadz Hudail yang bersemangat dalam memberikan motivasi, tetapi Ustadz
Fahmi yang baru saja mengikuti ujian Tahmidi S2 pun turut hadir dalam acara
tersebut dan juga memberikan sedikit wejangan, yaitu kalau
seandainya diktat kuliah sudah ada, maka kalian harus segera beli, kalian baca hingga tuntas dan
kalian kuasai materinya! nanti ketika mau ujian tinggal baca tahdidan. Waktu S1
dulu, kami tinggal di Alexandria dan kami luangkan waktu buat ngabisin Muqarar,
alhamdulillah najah. Seharusnya yang ada di Kairo lebih daripada kami. Ada
salah satu ulama dari Syiria, Syeikh Ramadhan al-Buthi pernah mengatakan: ”Bagi kalian mahasiswa al-Azhar sebenarnya jika kalian mau benar-benar belajar
dan menguasai Muqarar Al-Azhar, maka sebenarnya empat tahun itu cukup buat
kalian belajar di al-Azhar.” Anak dirasat tuh enak, kalau ngumpul sama anak
lughoh bisa membicarakan mengenai balaghah, kalau duduk sama anak ushuluddin
bisa ngomongin mantiq dan tafsir, kalau duduk sama anak syariah bisa bahas
mengenai fiqih. Anggapan kalau Dirasat Islamiyah itu hanya belajar kulitnya
doang, itu anggapan yang salah. Sebenarnya di kuliah itu dibahas secara detail
juga, hanya saja ada beberapa Maddah yang diajarkan di fakultas lain tapi tidak
di Fakultas Dirasat. Misal, dalam ma’ani aja itu pembahasannya cukup detail
karena selama 4 tahun mempelajari balaghah, jadi cukup kalau buat ngimbangin
anak lughoh. Dalam sastra juga
mempelajari sastra jahiliyah sampai era baru.
Setelah sambutan
dari tamu undangan dan beberapa senior, dilanjutkan dengan pelantikan
yang dilaksanakan pada pukul 13.24 CLT. Ketua SEMA-FDI yang baru, Ustadz Dhiya
Ulhaq Atsaury yang dilantik oleh Wapres
PPMI dengan tegas dan lantang mengucapkan sumpah jabatan yang kemudian diikuti
pembacaan sumpah jabatan yang dilakukan oleh anggota kabinet dan dipimpin oleh
ketua baru.
“Rasa
memiliki SEMA-FDI itu harus ada dalam diri kita, PR kita bersama ialah
meningkatkan indeks kelulusan mahasiswa yang belajar di Fakultas Dirasat.
Tingkat ketidaklulusan mahasiswa Fakultas Dirasat pada tahun 2018 mencapai 50%
dari total mahsiswa tingkat 1, dan tahun ini naik menjadi 80%. Oleh sebab itu,
kita membutuhkan bimbingan dan motivasi dari senior untuk bisa meningkatkan
kualitas pendidikan di FDI ini. Selain itu, kita perlu untuk mengaktifkan
kembali media sosial SEMA-FDI agar bagi kalian yang menganggap kami tiada,
sebenarnya kami ada.” Tutur Ketua SEMA-FDI 2019-2020 dalam sambutan setelah
pelantikan.
“Sebenarnya
sangat beruntung bagi kalian bisa masuk Fakultas Dirasat karena kalian akan
belajar dasar-dasar semua keilmuwan yang di fakultas lain, tetapi tidak kalah
mendalamnya dengan yang diajarkan di fakultas
lain. Kalian akan tahu kunci utama yang ada di fakultan lain, hanya saja kalian
harus lebih giat belajar, terus berjuang karena kalian telah memantapkan diri
untuk memilih fakutas ini, maka mau tidak mau ya harus belajar dengan tekun.
Menurut saya kalian sudah tepat memilih fakultas yang istimewa ini. ” Ucap
salah satu senior yang hadir dalam acara tersebut.
Setelah
berbagai nasehat dan motivasi tersampaikan, tibalah di penghujung acara, yakni
doa. Namun sebelum dibacakannya doa oleh Ustadz Afri Muazzhom, beliau menyampaikan
sepatah dua patah kata, “Kita itu bagian yang kecil dari sebuah mesin yang
besar, yaitu Islam. Kalau kita zoom lagi menjadi lebih besar maka kita
akan menemukan masisir. Dan kalau kita Zoom lagi, maka kita akan
menemukan yang namanya dirasat. Setiap mesin ini bergerak dengan baik, Itqan,
tidak lain akan membawa kemashlahatan yang besar untuk umat islam. Disini kita
berjuang untuk kebaikan bersama.”
“Sejarah
berdirinya Fakultas Dirasat Islamiyah itu terinspirasi dari kisah ulama’ jebolan
Jami’ Al-Azhar yaitu Imam Suyuti, Ibnu Hajar al-Asqalani, dan Ibnu Khaldun yang
semuanya merupakan ulama’ yang memiliki Malakah keilmuwan dalam berbagai
bidang sehingga dibentuklah Fakultas Dirasat islamiyah agar jebolan fakultas ini mampu menjadi ulama’ yang mampu mengusai berbagai bidang
keilmuwan Islam. Ada yang namanya Ustadz Za’im yang nilainya mumtaz dari
tingkat satu sampai tingkat empat, dan Ustadz Yunus yang mampu menyelesaikan
tesisnya dalam kurun waktu tiga tahun, dan hasil tesisnya dicetak oleh salah
satu Maktabah Beirut. Kalau kita mau melihat alumni-alumni yang bagus seperti
itu, seharusnya semangat kita bisa lebih membara sehingga bisa mendapatkan
hasil yang memuaskan.” Tutur salah satu senior dalam acara ramah tamah setelah
berakhirnya acara pelantikan.








Posting Komentar