Kado yang dirindukan
(Oleh: Valim Agus Jamara)
Hidup sepasang suami istri yang saling mencintai dan
saling menyayangi. Mereka tinggal di desa yang cukup damai; desa yang tak jauh
dari keramaian dan tak dekat dari kesunyian. Mereka berjanji untuk mengarungi
bahtera rumah tangga dengan saling menjaga; kepercayaan, saling mengingatkan
dan saling menguatkan satu sama lain. Karena, jika dalam hubungan tidak ada
tiga hal tersebut, rumah tangga terasa terombang-ambing dalam kecemasan dan hambar
bagai tenggorokan menelan air telaga. Suami istri ini hidupnya dalam
kesederhanaan, ujian dan cobaan. Mereka berdua selalu mengajarkan kita arti
bersabar; tabah, dan tentang hari esok. Sebut saja nama mereka Rahman dan Ratna.
Kisah hidupnya tak sampai di sini saja, mereka
mendapatkan ujian yang sangat berat, di mana Ibu Rahman tidak merestui cinta
dan hubungan mereka. Karena keluarga Ratna adalah keluarga yang miskin. Ibu Rahman
tak ingin mengalami hidup yang sama; miskin. Akhirnya Rahman ingin dinikahkan
dengan perempuan yang cukup kaya. Tapi Rahman menolak dan tidak menuruti
kemauan Ibunya dikarenakan Ibunya memandang Ratna dari segi harta. Hal itu
tidak membuat Rahman berhenti dan memutuskan untuk menjauh dari Ratna, sama
sekali tidak menyurutkan cintanya kepada Ratna. Tetapi, membuat Rahman makin
ingin memperjuangkan cinta mereka. Meskipun begitu, Rahman tidak membenci Ibunya,
karena Rahman tahu tanpa ada Ibunya maka tak ada dia. Hari yang indah itu telah
datang, para tamu undangan pun mulai berdatangan dan Rahman udah siap untuk melakukan
ijab kabul. Beberapa saat kemudian terdengar suara yang sangat keras dari tamu
undangan “Sahhh!!!”
Dunia tersenyum tatkala mendengar lantunan kalimat ijab
kabul. Desir angin yang berembus menggoyang ranting dedaunan. Padang pasir
yang berbara seketika sejuk bak suasana gunung. Suasana haru, tangis bahagia
tergambarkan siang itu. Namun tidak dengan Ibunya Rahman. Terlihat wajahnya
acuh dan muram ketika melihat pernikahan anaknya. Setelah para tamu undangan
berhamburan pulang, di sana hanya tersisa Rahman, Ratna dan Ibunya. Bapaknya
berhubung tidak ada karena telah meninggal dunia. Saat itu Ibunya berkata
kepada Rahman.
“Dasar anak tak tau diuntung, dicarikan yang baik nasabnya
kok malah ditolak,” ucap Ibunya dengan nada tinggi. “Perempuan yang kayak gini
yang malah kamu pilih, hahhh? Perempuan miskin, gak punya apa-apa,” celetuk
Ibunya membuat hati Ratna sakit. “Sudah Buuu, cukup!!!” Rahman menukas cacian Ibunya.
“Aku sama sekali tidak memilih Ratna dari nasabnya, kekayaannya atau
kecantikannya. Dia wanita yang hebat, Buu! Kesabarannya mampu membuat penduduk
langit cemburu, ketabahannya mampu membuat penduduk bumi takjub,” lanjut Rahman.
“Alahhh liat saja nanti,” sahut Ibu dengan berjalan meninggalkannya.
Rahman pun berjalan mendekati Ratna yang menangis sedari
mendengar cacian Ibu Rahman. Rahman mendekap tubuh Ratna dengan penuh cinta dan
kasih sayangnya. Ia berkata; “Sayanggg... kamu yang sabar yaaa, omongan-omongan
Ibu tadi jangan dimasukkan ke hati, mungkin Ibu lagi capek Sayangg,”
Rahman menenangkan Ratna. “Hiks hiks hiks,” ratna tersedu-sedu. “Ayo kita ke
kamar saja Sayangg,” ajak Rahman. “Iyaa, Sayangg,” jawab Ratna.
Setelah beberapa tahun lamanya menikah dan menjalani
kehidupan yang serba lika-liku. Berbagai ujian dan cobaan pun terlewati. Cacian
sana sini yang tidak membuat mereka jatuh, tetapi makin membuat mereka bangkit.
Karena bagi mereka di mana ada cacian, maka di situ mereka bangkit dan mampu
mengalahkan mereka yang mencaci. Rahman dan Ratna tidak pernah membalas suatu
keburukan dengan keburukan, malah mereka memperlakukan orang-orang yang buruk
kepadanya dengan suatu kebaikan.
Nampak hari ini dunia sedang bersedih, air telaga pun
nampak kering; airnya menggenang di kelopak mata Rahman dan Ratna. Ujian kali
ini sungguh berat dan harus dijalani Rahman dan Ratna. Sudah 5 tahun lamanya
belum juga mendapatkan keturunan. Suatu hari Rahman memberanikan diri untuk
mengajak Ratna berbicara. “Dekk... kenapa yaa, Allah belum memberikan
kita keturunan? Kita kan sudah lama menikah?” tanya Rahman sedih. “Dosa apa
yang sudah kita lakukan ya sayang? Apa gara-gara kita sudah berani menentang Ibu?”
Lanjut Rahman bertanya. “Hmmm... huffttt...” Ratna menghela napas dan terdiam
sejenak. “Masss... bukankah kesabaran itu mendatangkan kebahagiaan? Bukankah
orang yang bersabar itu dekat dengan Allah? Bukankah salam pertama kali yang
diucapkan malaikat kepada ahli surga itu tentang kesabarannya? Jawab, Masss,
jangan diam saja!” Ratna terus menguji kekuatan hati Rahman. “Iyaaa, Dekk,”
jawab Rahman lirih. “Kalau Allah belum memberikan kita keturunan, berarti kita
belum pantas menjadi hamba yang bisa dititipin amanah Masss. Anak adalah
titipan adalah karunia Allah adalah tanggung jawab yang besar. Mungkin ini teguran
kepada kita; suratan untuk kita agar terus bersabar dan meningkatkan kualitas
diri. Aku bukannya lagi menceramahi Emasss, tapi aku ingin mengajak Mas
untuk terus percaya sama Allah, dan Kuasa Allah. Pasrahkan semua ini sama Allah, Masss!” ujar Ratna dengan bersandar dibahu Rahman. Mendengar perkataan-perkataan
Ratna, Rahman seketika mencium kening dan memeluk tubuh Ratna. “Makasih ya Istriku,
aku benar-benar beruntung mendapatkanmu,” suara lirih Rahman. “Aku juga, Mass,”
jawab Ratna.
Ibu Rahman yang saat itu dari toko dan kebetulan lewat
depan pintu kamar mereka, dan Ibunya pun mendengar obrolan mereka. Ibunya
memutuskan untuk menguping dan melanjutkan untuk mendengarkan obrolan-obrolan
yang ada di kamar kecil itu. Seketika Ibunya kaget mendengar
perkataan-perkataan Ratna. Ibunya pun menangis dan menyadari semua
kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Tak tahan sang Ibu menahan tangisnya, ia
pun memutuskan untuk masuk ke kamar mereka. “Brukkk...! Rahman... Ratnaa!” Ibu
membuka pintu dan memanggil dengan terisak-isak. “Ibuuu...” Ratna mendekati Ibu
Rahman dan memeluk sang Ibu mertua. “Iiibuuu minta maaf ya, Nak. Ibu sering
nyakitin hatimu, hiks hiks,” Ibu yang terus menangis. “Iyaa, Ibuu, sudah kami
maafkan sebelum Ibu meminta maaf kepada kami, lembut Ratna.” Rahman pun berdiri
dan mereka berangkulan.
Setelah sekian lama menunggu dan terus bersabar serta
memperbaiki kualitas diri. Akhirnya Allah Swt memberikan kabar gembira kepada
mereka dengan memberi kado terindah yaitu dengan kehamilannya Ratna. Rahman
sangat bahagia dan bersyukur kepada Allah Swt karena 7 tahun lamanya ia belum
diberikan keturunan oleh-Nya, tapi sekarang Allah mengabulkan permintaannya.
Rahman pun ingat dengan 5 tahun kebelakang, apa-apa yang pernah diucapkan oleh
istrinya, dan itu semuanya benar-benar nyata. Ia mengucapkan terima kasih
kepada istrinya dan semakin cinta kepadanya. Tak hanya itu, Ibu Rahman juga
merasa sangat bahagia mendengar kabar ini, akhirnya ia bisa menimang cucu. Setelah
9 bulan mengandung dan akhirnya Ratna melahirkan bayi laki-laki yang sangat
tampan dan gagah seperti ayahnya.
Rahman dan Ratna telah mengajarkan kita bagaimana caranya
menghadapi ujian dan cobaan. Kehidupan tak selamanya nyaman; lurus dan mulus.
Kehidupan ibaratnya adalah sebuah jalan, yang mana jalan tak selamanya lurus
dan mulus. Terkadang berlobang dan berbelok-belok. “Dan sampaikan kabar gembira
kepada orang-orang yang sabar” (Q.S Al-Baqarah:155) Marilah sahabat semua,
teruntuk yang membaca tulisan ini; mari kita perbaiki diri dengan pelan-pelan,
berproses. Mari raih cinta-Nya; mari raih rida-Nya.







Posting Komentar