Masuk Dirasat Islamiyah Hanya Akan Menjadi Mutsaqaf Bukan ‘Alim?
(Mafahim Yajibu 'an Tushahah)
Oleh: Hengki Amsaleh
Nah, pertanyaan selanjutnya, apakah
mahasiswa Dirasat Islamiyah bisa menjadi seorang yang alim atau hanya sekadar
memiliki pengetahuan secara umum di berbagai bidang keilmuwan (mutsaqaf)?
Sebelum membahas itu, marilah kita
membongkar seluk beluk dari permasalahan ini. Kita harus jujur bahwa masih banyak
diantara mahasiswa yang sering bolos kuliah dan tidak ikut talaqi diluar, dan
kita juga harus jujur bahwa masih banyak juga mahasiswa yang hanya sekadar
kuliah, tapi tidak ikut talaqi.
Hal inilah yang menjadi penghambat
seseorang untuk menjadi alim, apalagi Alim Azhary, pastinya sangat jauh karena
Alim Azhary jauh lebih berat dibandingkan alim pada umumnya. Mungkin kalaupun
ada, memang itu pilihan Allah dan kita tidak bisa menginginkan yang demikian,
kalau mau pandai ya belajar, kalau hafal al-Quran ya menghafal, bukan tiba-tiba
hafal dengan sendirinya.
Sebenarnya kalau ingin tahu tentang
sifat keilmuwan Azhary yang menamatkan pendidikannya di Fakultas Dirasat
Islamiyah, maka silakan lihat pada sifat-sifat Azhary yang tertulis dalam Dalil
at-Thalib yang mana sifat-sifat tersebut khusus ditujukan pada mahasiswa
Dirasat Islamiyah. Apa saja yang harus ia kuasai, silakan dilihat dan
direnungkan! Jika masih jauh dari diri kita, maka kita harus segera bangkit
untuk mengejar kertinggalan itu karena Alim Azhary Mausu’iy itu berat, dan
itulah yang dikehendaki fakultas ini. Dalam pandangan saya pribadi, sifat-sifat
itu bisa terealisasi bagi mereka yang menuntaskan pendidikannya sampai strata
tiga, tetapi sebagian besar akan menjadi pakar dalam satu bidang bukan semua
bidang karena untuk menguasai semuanya pastinya membutuhkan waktu yang sangat
lama. Meskipun demikian, pastinya ada yang menjadi Alim Azhary Mausu’iy, hanya
saja kita belum tahu, ketidaktahuan kita pada sesuatu bukan berarti hal itu
tidak ada. Masih banyak orang yang tidak mengakui atau tidak tahu tentang
Tuhan, apakah itu menandakan kalau Tuhan tidak ada?
Seperti contoh adalah perkataan DR.
Ibrahim Balasy, pengajar Fiqh Syafii di Fakultas Dirasat Islamiyah, “Pendidikan
yang sesungguhnya itu ada pada strata dua, sedangkan kalian masuk strata satu
Dirasat Islamiyah itu hanya sebagai pengantar untuk menyelami keilmuwan yang
lebih dalam”.
Perlu kita catat bahwasanya jamiah
itu mengantar pada pintu gerbang untuk menjadi Alim Azhary Mausui’y, dan memang
seharusnya sebagai mahasiswa Dirasat Islamiyah menyadari akan hal itu sehingga
ia bisa menyiapkan dirinya dari sejak dini untuk menggali ilm-ilmu yang sudah
diajarkan di kuliah agar diperdalam dengan para masyayikh di tempat talaqi
sehingga ketika sudah pada saatnya ia akan bisa menggunakan seluruh komponen
keilmuwannya dengan baik. Hal itu juga kembali pada diri kita masing-masing,
terlebih lagi kita sebagai non Arab yang
memiliki sedikit kesulitan dalam memahami teks arab.
Oh iya, pastinya tidak sedikit
diantara kita yang pernah mendengar perkataan dari beberapa orang mengenai
kuliah Dirasat Islamiyah, terkadang perkataan mereka seakan merendahkan, seolah mahasiswa Dirasat
Islamiyah itu tidak memiliki keahlian kusus dalam fan ilmu. Bahkan
karena anggapan bahwa kuliah ini bersifat umum, sampai-sampai ada orang-orang
yang malu mengakui fakultasnya. Memang
sih kalau dilihat secara sekilas, mungkin perkataan tersebut benar. Kenapa
demikian? Karena kebanyakan mahasiswa Dirasat Islamiyah sudah disibukkan dengan
kuliah, berangkat pagi dan pulang menjelang maghrib sehingga hal ini menjadi
salah satu penghambat mahasiswa untuk bisa mengejar tallaqi bersama para
masyayikh. Selain itu, karena mahasiswa Dirasat Islamiyah tidak berinisiatif
memfokuskan dirinya pada satu bidang sejak awal agar ketika ia lulus dari
kuliah sudah memiliki keahlian dalam bidang tertentu.
Bahkan suatu ketika ada beberapa orang yang di Indonesia bertanya ke saya, tentang fakultas ini dan dengan mudahnya berkata, “Seperti Pendidikan Agama Islam ya?”, menurut saya ini lebih parah, ada orang ayng menyamakan antara Dirasat Islamiyah wa Arabiyah al-Azhar dengan Jurusan Pendidikan Agama Islam di Indonesia, padahal bedanya antara langit dan bumi, dari visi misi kuliah saja sudah jauh berbeda, apalagi kurikulum yang diajarkan. Kita harus tahu bahwa kullu maqamin maqalun artinya setiap tempat itu ada perkataannya, setiap kampus ada istilahnya, setiap daerah ada bahasanya sehingga jangan menyamakan satu istilah dengan istilah yang lain meskipun sama secara zahirnya. Terutama bagi kita seorang Azhary, jangan sampai menyamakan sesuatu itu dilihat dari segi nama/istilahnya, mengapa? Karena nama itu boleh sama, tetapi maknanya bisa berbeda. Penggambaran terhadap sesuatu yang memiliki kesamaan haruslah dilihat juga dari sisi perbedaannya, “Pendidikan Agama Islam” dan “Dirasat Islamiyah” secara bahasa boleh sama, tapi apakah sama secara istilahi? Tentu tidak. Sebagai contoh adalah khabar menurut Muhaddits, Nuhah, ahli Balaghah, I’lam tidak memiliki kesamaan padahal satu istilah.
Dan hal ini banyak terjadi di kalangan
masyarakat, bahkan dalam hukum fiqh sekalipun, sesuatu dihukumi sama hanya
karena sama istilahnya sehingga menimbulkan kekacauan di masyarakat, sebagai
contoh adalah bid’ah menurut Muhaddits, Lughawi, Mutakalim, Fuqaha dan
Ushuli memiliki perbedaan dan terkadang diartikan sama sehingga menimbulkan
banyak perdebatan dikalangan umat. Itulah
sebabnya Ulama al-Azhar mengajarkan ilmu mantik pada mahasiswanya untuk menghindari
kesalahan dalam berpikir dan berhukum.
Kebanyakan gambaran yang ada di benak sebagian orang bahwa Dirasat Islamiyah itu tertuju pada tingkatan kuliah, karena ketika mahasiswa Dirasat Islamiyah sudah masuk pada tingkat diploma, maka ia sudah menyebut dirinya takhasus pada bidang tertentu sehingga ketika sudah selesai ujian doktoral, mereka akan memiliki titik fokus tersendiri, bahkan tidak sedikit yang menjadi pakar dalam beberapa bidang keilmuwan.
Padahal tidak demikian, dan ini merupakan mafahim yajibu an tusahah, penyematan
Dirasat Islamiyah wa Arabiyah itu untuk jenjang strata satu sampai tiga, hanya
saja ketika sudah memasuki strata dua akan lebih fokus pada bidang tertentu,
akan tetapi mereka tetap memiliki kunci-kunci berbagai bidang ilmu yang perlu
digali lebih dalam lagi sehingga bisa diaplikasikan dalam bidang yang
ditekuninya. Bagaimana bisa kita menghukumi Fakultas Dirasat Islamiyah hanya
dengan melihat pada strata satunya saja?
Misalnya ada mahasiswa Dirasat Islamiyah strata dua yang mengambil ushul fiqh, yang mana ia berarti masuk pada bagian syariah islamiyah. Apakah ushul fiqh tidak membutuhkan ilmu nahwu, balaghah, tafsir, ilmu hadits, ulumul quran, dsb?
Tujuan dibentuknya Dirasat
Islamiyah, salah satunya adalah untuk menghindari ketimpangan dalam keilmuwan,
karena banyak orang yang pandai masalah fiqh, tetapi sangat kurang dalam
balaghah, ulumul hadits, ulumul quran dan lainnnya.
Hal ini sangat dipengaruhi oleh diri mahasiswa masing-masing, sebagus apapun kampus menyiapkan fasilitas, apabila mahasiswa tidak menyambutnya dengan baik, maka tidak akan menghasilkan apa-apa. Sudah sangat beruntung kita diberikan semua keilmuwan yang ada, cobalah kita lihat pada teman-teman kita yang mereka harus memulai dari awal karena tidak diajarkan di fakultasnya. Tiba-tiba ada yang berkata, “kan hanya ikhtishar saja”, ini bukan masalah sedikit atau banyaknya, tapi keteguhan kita dalam belajar.
Apakah kita diajarkan Qiraat Asyrah di Kampus? Tentu tidak, kecuali fakultas al-Quran Tanta. Tapi pernah gak kita berpikir, kok banyak mahasiswa yang bisa Qiraat Asyrah? Iya, itu karena mereka mau mendalami dan belajar dengan masyayikh di luar kuliah.
Pertanyaan saya, kenapa hal itu tidak terpikirkan pada bidang
keilmuwan yang lain, bukankah kita sudah dihantarkan oleh kampus untuk memahami
berbagai keilmuwan? Seharusnya hal itu menjadikan kita lebih semangat lagi
mendalaminya dengan masyayikh di luar. Ingat ya, Selamanya Jami’ akan tetap diatas Jami'ah. Mau alasan lagi, kan kita sudah capek kuliah? Bukankah banyak rekaman
syarah para masyayikh di YouTube, mengapa tidak kita gunakan hal yang positif
seperti ini? Jawabannya hanya ada pada diri kita masing-masing.
Seharusnya kita lebih membuka cakrawala
pengetahuan kita bahwa untuk menjadi pakar aqidah, fiqh, dan alquran itu
membutuhkan waktu yang sangat lama. Begitu halnya dengan pakar lughah dari
Fakultas Dirasat, Pakar aqidah dan lainnya, mereka membutuhkan waktu yang lama
untuk menyelesaikan pendidikannya di al-Azhar. Tidak sedikit dari pakar-pakar
Fakultas Dirasat Islamiyah yang mengajar di Jami al-Azhar, seperti Mantan Mufti
Mesir Prof. Dr. Ali Jumah, Prof. Dr. Ahmad Subhi Rabi yang biasanya sebagai badal
Muhaddits Prof. Dr. Ahmad Mabid Abdul Kareem di Jami', Prof. Dr. Hasan Usman, Prof. Dr. Abdul Basit Mazid, Prof. Dr. Abdullah Fathi, dan para
pakar lainnya
Padahal kita sering mendengar dari
para senior yang sudah menamatkan pendidikannya sampai pada strata dua atau tiga,
bahwa kuliah yang sesungguhnya itu bukan pada strata satu tapi dimulai pada
strata dua karena pada strata satu kita hanya dihantarkan dan dikenalkan pada
muqadimah dari berbagai bidang keilmuwan.
Wahai para pembaca yang budiman,
ketahuilah bahwa pendidikan di tingkat kuliah strata satu Dirasat Islamiyah itu
mengantarkan kita pada gerbang pada setiap ilmu. Pada dasarnya kita dihantarkan
pada setiap gerbang keilmuwan, maka kita harus berkorban dan berjuang untuk
bisa masuk pada ilmu tersebut, yaitu dengan cara duduk bermulazamah dengan para
masyayikh. Ketika sudah memasuki pada fase Dirasat Ulya, maka diri kita sudah siap
disibukkan dengan penelitian dan lain sebagainya.
Kalau menggambarkan Fakultas Dirasat
Islamiyah hanya pada tingkat Strata Satu-nya saja, maka itu tidak menjadi
kesimpulan pada Dirasat Islamiyah secara keseluruhan karena fakultas ini mencangkup
Strata Satu sampai tiga. Dengan demikian, jika ingin melihat hasil didikan para
duktur dan masyayikh pada fakultas ini, maka lihatlah pada lulusan strata
tiganya. Bahkan hal ini juga berlaku pada fakultas-fakultas lainnya, karena
para ulama yang sudah mencapai pada tingkatan pakar, mereka sudah
berpuluh-puluh tahun di Al-Azhar dan tentunya sudah lulus strata tiga.
Hal ini bukan berarti jika kita
hanya sampai tingkat strata satu tidak alim, tapi ya harus bagaimana lagi,
itulah kenyataannya, menuntut ilmu itu tidak cukup hanya 3-5 tahun, tapi puluhan
tahun sampai tercipta malakah keilmuwan di dalam jiwanya.
Harapan dan doa saya ialah Allah akan memunculkan para Azharyyun
dari Indonesia yang bisa mengemban amanah keilmuwan yang diajarakan oleh para
ulama al-Azhar yang mulia ini, serta Allah tunjukkan jalan kebenaran bagi
mereka yang masih menyelesihi manhaj Azhary karena itulah yang menjadi manhaj
para ulama dari zaman ke zaman sampai sekarang dan nanti. Dan juga bagi
kawan-kawan yang sudah memantapkan diri di fakultas ini, jangan pernah ragu
dengan langkah kita kedepannya, mari kita ambil asbab dan biarkan Allah
SWT yang menentukan hasilnya, tidaklah mungkin kita berada pada fakultas ini,
kecuali atas izin Allah SWT, maka jangan sampai kita buang sia-sia kesempatan
emas ini dengan banyaknya kelalaian dan kemalasan. Wallahu A’lam bi Shawab.._








Posting Komentar