Selamat Datang di Portal Sema-FDI Kairo

Pendidikan Indonesia Sebatas Pakaian (?)

Sebuah kalimat bijak mengatakan “barang siapa bertambah ilmu namun tidak bertambah rasa takutnya kepada Tuhan, maka tidak ada baginya kecuali semakin menjauh”.

Korupsi. Satu dari beberapa kata yang terlintas ketika orang mempertanyakan ihwal pejabat pemerintahan di Indonesia. Korupsi menjadi langganan isi berita di beberapa situs berita nasional. Sebut saja kasus korupsi di tahun 2013. Berdasarkan pernyataan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) tercatat 1.343 kasus tindak pidana korupsi telah ditangani pihak kepolisian, dan 70 kasus oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan beberapa menteri.

Apa sebenarnya masalah utama yang menyebabkan para petinggi Negara ini tega melakukan korupsi dan bukan menggunakan jabatannya untuk memperbaiki nasib bangsa? Apakah benar karena faktor background pendidikan mereka sebelumnya?

Mengamati keadaan pendidikan Indonesia sampai saat ini, mungkin jawaban dari pertanyaan tersebut adalah “Iya”. Hal ini sepadan dengan sebuah pepatah “experience is the best teacher” dimana kelangsungan hidup dan keputusan-keputusan  yang diambil oleh masing-masing individu merupakan kumpulan dari hasil pengalaman sebelumnya. Dari sini bisa dilihat bahwa pendidikan baik formal maupun non formal mempunyai peran yang sangat signifikan dalam mencetak kader-kader bangsa. Karena pendidikanlah peletak karakter, ideologi, dan pemikiran pada setiap individu.

Berangkat dari pengamatan tersebut, penulis melihat setidaknya ada tiga masalah dasar yang menjadi faktor penyebab moralitas para pemimpin Indonesia kurang baik. Moral yang membuat sifat sebagai negarawan sama sekali tidak nampak dalam diri mereka.

Masalah pertama adalah kesalahan dari pihak keluarga.
Pendidikan non formal merupakan pelatihan individu dengan lingkup yang sangat luas, yaitu meliputi keluarga dan seluruh lingkungan yang dijumpai oleh individu tersebut selama perjalanan hidupnya. Lingkungan yang sangat luas ini sejatinya tetap bisa di kontrol ketika pihak keluarga terutama orang tua ingin dan mau mendidik putra-putrinya dengan sebaik mungkin. Sedangkan kenyataan yang terjadi, pada umumnya para orang tua lebih memilih membebaskan putra-putrinya tanpa tanggung jawab. Bahkan hal ini semakin membudaya seiring semakin maraknya para perempuan yang ikut berkarir, sehingga sang anak pun hampir tidak pernah mendapatkan perhatian.

Akibatnya lingkungan yang digeluti oleh putra-putri calon kader bangsa ini menjadi tidak terkontrol dan yang pasti sangat mempengaruhi pandangan hidup dan pola pikirnya. Sehingga pada akhirnya ketika lingkungan sekitarnya merupakan lingkungan yang buruk, karakter, ideologi dan pemikiran-pemikiran mereka akan tercemari oleh buruknya lingkungan tersebut. Sehingga bukan sesuatu yang aneh jika ketika mereka di beri amanah berupa kekuasaan, mereka tidak menggunakan sebagaimana semestinya.

Kedua adalah kesalahan sistem pendidikan formal.
Yaitu diterapkannya sistem yang memisahkan antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Bisa disaksikan sistem ini masih sangat populer di tanah air di kalangan SD, SMP, SMA, dan lainnya, yang lebih fokus kepada pemberian ilmu umum dengan sedikit sekali porsi untuk pelajaran ilmu agama. Sebaliknya pesantren-pesantren salaf hanya fokus membimbing ilmu agama tanpa tertarik dengan ilmu umum, walaupun akhir-akhir ini sudah ada beberapa yang mendeklarasikan diri sebagai pesantren modern yang berusaha menyeimbangkan antara keduanya.

Karena pemisahan tersebut tercipta lah generasi terdidik namun cacat. Lulusan pesantren terdidik agamanya, tapi lumpuh karena tidak mampu mengimbangi lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Begitu pula lulusan SMA dan sekolah umum lainnya, terdidik namun buta karena hanya mempelajari ilmu umum dengan sentuhan keagamaan yang sangat minim, sehingga kehilangan dimensi moralitas dan spiritualitas.

Ketiga adalah kesalahan sang guru dan atau yayasan.
Kenyataan yang terjadi di lapangan memperlihatkan kebanyakan guru sekarang sudah bukanlah guru yang di kenal pada zaman dahulu dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa. Sekarang orang berlomba-lomba berprofesi sebagai guru karena ia merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang terjamin kehidupannya. Bahkan karena kurang puas dengan gajinya sebagai PNS, setiap tahun ajaran baru ditemukan pungutan-pungutan liar yang dibebankan sebagai syarat penerimaan siswa baru.

Selanjutnya, guru yang dulu digugu dan ditiru tingkah lakunya dalam kebaikan sekarang menjadi terbalik, dicemooh dan dikritik, dan secara tidak langsung juga memberi contoh kepada para siswanya untuk berbuat demikian di kemudian hari. Sehingga tujuan siswa dalam belajar hanya agar lulus ujian, bukan sebagai pengisi jiwa sebagaimana pepatah “orang berilmu itu ibarat padi, semakin berisi semakin merunduk”. Tak jauh beda dengan mahasiswa sekarang yang melanjutkan kuliahnya bukan semata-semata karena dia suka dengan jurusan yang ia ambil, tapi lebih karena tuntutan zaman dengan melihat prospek kerja ke depan. Sehingga yang hanya terpikir diotaknya adalah lulus, mendapatkan gelar kemudian mencari uang (bekerja) dengan gelar yang diperolehnya. Oleh karena itu, banyak sekali generasi penerus bangsa sekarang yang kurang siap menghadapi globalisasi zaman. Baik kurang siap secara mental spiritual dan moralitas maupun kurang siap dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kira-kira bagaimana solusinya?
Kalau Indonesia ingin menjadi lebih baik secara menyeluruh, maka pendidikan Indonesia baik yang formal maupun non formal haruslah mampu mengganti otak-otak bangsanya. Dengan artian pendidikan harus bisa memperbaiki pribadi setiap individu bangsa secara menyeluruh.

Pertama, dari lingkup pendidikan non formal yang dikendalikan oleh keluarga. Sebuah keluarga khususnya orang tua haruslah sadar akan tanggung jawabnya sebagai orang tua, sebenar-benarnya orang tua. Yaitu menjadi pengayom bagi anak, pendidik moral, penasihat dan pengawas yang bertanggung jawab. Minimal mencarikan lingkungan yang baik dan pendidikan formal yang baik.

Kedua, karena masalah sistem pendidikan formalnya adalah dikotomi, maka solusinya adalah integrasi. Integrasi antara ilmu agama dengan ilmu yang lain, integrasi antara ilmu dengan etika, dan seterusnya. Dengan ini, anak didik yang dihasilkan siap menghadapi tantangan globalisasi tanpa kehilangan dimensi moralitas dan spiritualitas.

Terakhir karena guru merupakan tokoh utama dalam proses transfer ilmu pendidikan formal, baik itu pengetahuan teknologi maupun ideologi serta moralitas, maka seyogianya pihak yayasan pendidikan benar-benar selektif, setidaknya menguatkan komitmennya untuk bertujuan mendidik kader bangsa dengan sebaik-baiknya, bukan sekedar menciptakan wahana pengumpul harta.

Akhirnya, mari kita bersama-sama turut serta berpartisipasi membangun bangsa mulai dari diri kita sendiri. Kemudian berusaha menjadi bagian dari agent of change sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Dengan ini, pendidikan di Indonesia bisa dirasakan menyeluruh, baik dengan akal ataupun hati. Tidak hanya menjadi formalitas kasat mata agar dianggap bahwa Indonesia juga memliki sistem pendidikan yang baik. Pendidikan menjadi bagian dari diri seseorang, bukan hanya sebagai pakaian yang menyembunyikan kecacatan tubuh pemakainya. Semoga Indonesia menjadi semakin baik. (By: Zuhal Qobily; Buletin Prestasi Edisi 97)
Bagikan Postingan Ini :

Posting Komentar

PAPAN PENGUMUMAN

Popular Post

Facebook Kita

 
Support : KBRI Kairo | Atdik Kairo | PPMI Mesir
Copyright © 2015. SEMA-FDI Universitas Al-Azhar, Mesir - All Rights Reserved