semafdicairo.org,
Kairo — Pagi tadi salah satu staf pengajar yang juga ulama beken dan
berkharisma Universitas Al-Azhar, Dr. Usamah al-Sayyid al-Azhari, memberikan
kuliah umum tentang “Bagaimana menjadi insan berkarakter azhari?” di Auditorium
dan Ruang Sidang Prof. Dr. Fuad Ali Mukhaimar, Fakultas Dirasat Islamiyah Wal
'Arabiyah (FDI) Putra, Universitas Al-Azhar Kairo.
Dia
mengatakan, generasi muda Al-Azhar adalah poros fundamental yang akan memahat
bangunan umat di masa depan ke arah yang lebih bagus. Sebagai alumnus dan staf
pengajar di Universitas tertua di dunia itu, ia juga menilai, kegiatan kuliah
umum merupakan bagian dari majelis ilmu yang
mulia. Oleh karena itu, ia meminta para hadirin untuk mengikutinya dengan tenang dan penuh hikmat.
“Anda
sekalian ini adalah poros fundamental yang akan memahat bangunan ini (keilmuan,
red). Ini majelis adalah majelis ilmu yang mulia, oleh karena itu, anda harus
tenang (tidak omong sendiri dan membuat gaduh, red),” kata Dr. Usamah al-Sayyid
al-Azhari di Auditorium dan Ruang Sidang Prof. Dr. Fuad Ali Mukhaimar, FDI, Kairo,
Rabu (25/3/2015) pagi.
Dalam
paparannya, ia menceritakan perjalanan ulama besar dari Syam yang belajar ke
Mesir pada usia kurang dari 20 tahun. Ulama tersebut adalah Ahmad al-Maktabi.
Dr. Usamah menjelaskan tentang bagaimana menjadi insan berkarakter azhari
yang moderat, mengarungi dan mendalami ilmu, mengemban dan menyebarkan risalah
islam ke seluruh penjuru dunia.
Menurut
dia, hal pertama yang harus ada pada diri seorang azhari yang betul-betul
paripurna, ialah dalam hatinya itu bersemayam kalam ilahi.
“Salah
satu unsur azhari yang hakiki, yang paripurna, orang yang di dalam hatinya itu bersemayam kalamullah,” ujarnya.
Selain
itu, kata Dr. Usamah, seorang azhari harus memuliakan majelis ilmu dan
banyak-banyak berguru dengan para ulama.
“Oleh
karena itu, seorang azhari, ia memuliakan institute ilmu, Al-Azhar, butuh waktu
dalam berguru kepada para ulama,” tambahnya.
Sementara
itu, ia juga mengingatkan, seorang azhari harus paham bahasa. Karena bahasa
adalah kunci yang sangat prinsipil dalam mempelajari agama.
"Tidak
ada azhari yang tidak tahu nahwu, sharaf, ma'ani, bayan, badi',"
pungkasnya.
Reported by : SEMA-FDI reporters.







Posting Komentar