![]() |
| Pengajian ilmiah Dr. Fathi Sa'id di Auditorium DAHA KMJ, Nasr City, Kairo, Kamis, (19/3/2015) sore. |
semafdicairo.org, Kairo — Masalah munculnya berbagai kelompok radikalis yang mengatas namakan islam menjadi tantangan bagi para ilmuwan muslim di era global ini. Katakanlah hadirnya wajah ISIS yang brutal dan barbar di tengah-tengah kondisi politik timur tengah yang sedang dilanda pertikaian, membuat generasi pencari ilmu harus lebih giat lagi memahami islam secara mendalam.
Untuk menghadirkan
model islam paripurna diperlukan pemahaman yang luas terhadap al-Quran dan
al-Sunnah. Karena dua sumber pijakan umat islam tersebut berbahasa arab, maka salah
satu kuncinya, yakni dengan sungguh-sungguh mempelajari bahasa arab.
Dr. Fathi Sa'id kembali
melanjutkan pengajiannya yang berlangsung di Auditorium DAHA Keluarga Mahasiswa
Jambi (KMJ), Nasr City, Kairo. Ulama Dar Al-Iftaa Mesir itu, meneruskan lektur
ilmiahnya dari buku Tuffah Al-Saniyah dan Al-Inshaf. Di segmen pertama, ia
menjelaskan perbedaan mabni dan mu'rab dalam bahasa arab.
Menurutnya, Allah
menurunkan al-Qur’an dalam bahasa yang mudah dipelajari. Bahkan Dr. Fathi Sa'id
terus menerus mengulang-ulang pernyataannya, bahwa belajar ilmu nahwu amat
sangatlah mudah. Hal tersebut dilakukannya demi mendorong semangat mahasiswa
Indonesia untuk lebih giat lagi dalam belajar, khususnya belajar bahasa arab.
“Saya akan selalu
ajarkan (postulat, red), dihadapan anda saya ulangi bahwa belajar nahwu amat
sangatlah mudah. Allah menurunkan al-Qur'an dengan bahasa yang mudah,” kata Dr.
Fathi Sa'id di Auditorium DAHA, KMJ, Kairo, Kamis (19/3)
sore.
Oleh karena belajar
mabni dan mu’rab dalam bahasa arab tidaklah sulit, ulama Dar Al-Iftaa itu meminta
para hadirin untuk sungguh-sungguh memahami terhadap apa yang ia sampaikan. Ia
juga mewanti-wanti untuk tidak keluar ruangan pengajian dalam kondisi tidak
paham, walaupun hanya sekelumit arti dari sebuah kata atau istilah arab.
“Anda harus punya
manajemen. Salah satu kunci memahami sebuah disiplin ilmu ialah dengan tidak
meninggalkan satu kalimatpun untuk tidak diketahui maknanya,” ujarnya.
Pada segmen kedua, Dr. Fathi
Sa'id menjelaskan bagian bab dari kitab Al-Inshaf karangan Dr. Umar Abdillah
Kamil. Ia mengulang kembali pelajaran pekan lalu, yakni masalah bid’ah dalam
agama. Hal itu, dikarenakan bid'ah merupakan masalah penting yang wajib dibahas
oleh para ilmuwan dunia islam.
Dr. Fathi Sa'id mengaku
heran dengan kelompok-kelompok islam yang berpandangan ekstrim melihat bid'ah, mereka
keukeuh beranggapan bahwa sumua bid'ah adalah sesat dan masuk neraka. Itu
semua, lanjut Dr. Fathi Sa'id, malah membuat umat mengarah kepada bersikap
sombong, kufur dan
atheism.
Sebagai muslim, Dr.
Fathi Said menjelaskan, umat islam dituntut untuk mampu hidup damai dengan seluruh umat
manusia, dikarenakan agama islam merupakan rahmat bagi sekalian alam. Selain itu, ia
juga berwasiat kepada seluruh mahasiswa Indonesia untuk selalu mencintai
Rasulullah SAW, diantaranya dengan membaca perjalanan sirah-nya.
“Islam mengajarkan
hidup damai berdampingan dengan siapapun. Saya berwasiat kepada anda sekalian
untuk terus mencintai Rasulullah saw, anda baca sirah Nabi itu,” tandasnya.
Sebagaimana diketahui, pengajian ilmiah ini didukung oleh KMJ Mesir, SEMA-FDI, SEMA-FBA dan PPMI Mesir.
Reported by : SEMA-FDI
reporters.








Posting Komentar