![]() |
| Dr. Fathi Sa'iid saat mengisi kegiatan talaqqi ilmiah di Auditorium DAHA KMJ Mesir, Kamis, (26/2/2015 ) sore. |
semafdicairo.org, Kairo (3/3) — Kamis, 26 Februari kemarin, kali kedua pertemuan talaqi ilmiah yang diadakan melalui kerjasama empat lembaga kemahasiswaan Indonesia di Mesir, PPMI Mesir, SEMA-FDI, SEMA-FBA dan KMJ Mesir.
Pada pertemuan kali kedua ini, tampak sebagian besar dari peserta sudah memiliki kitab dari materi yang diajarkan yaitu kitab al-Inshaf (aqidah) dan Tuhfatussaniyyah (nahwu). Hal tersebut membuat para peserta terlihat antusias dan lebih memahami paparan sang guru.
Metode
yang diajarkan beliau sangatlah menarik, berbeda dengan talaqqi pada umumnya.
Beliau sangat aktif menulis kembali ulasan-ulasanya pada papan tulis yang telah
disediakan. Beliau juga berjalan mengelilingi
murid-muridnya dan sesekali menunjuk serta melempar pertanyaan bak
seorang pengajar guru privat.
Padahal
jarak rumah beliau ke Hay Asyir tidaklah dekat, ditambah lagi saat itu kondisi
beliau masih kurang sehat. Minggu kemarin talaqi sempat diliburkan, hal itu
dikarenakan kondisi beliau yang sedang sakit. Besarnya semangat dan himmah
beliaulah yang membuat beliau mampu
mengajar kembali pekan ini.
Sayangnya
jumlah peserta didik tidak seramai pada saat kali pertama, pasalnya terdapat 2
acara yang sama pada hari itu.
"Hari
ini sebagian teman-teman yang mengikuti talaqqi, pergi ke Thantha. Ada daurah
cara menghafal al-quran yang diselenggarakan DPP PPMI Thantha di sana,"
kata salah satu peserta talaqi.
Lantaran
banyak dari peserta talaqi notabenenya adalah mahasiswa baru, jadi dapat
dimaklumi jika mereka ingin mencoba mencari pengalaman dan mengeruk ilmu di berbagai
tempat pengajian di Mesir, termasuk di daerah (muhafadhoh).
Hanya
saja, hal yang disesalkan ialah sangat minimnya peserta didik yang berasal dari
mahasiswa lama, jarang sekali terlihat mahasiswa tingkat tiga dan empat. Entah
mereka sudah sibuk dengan pengajian di tempat lain atau kurangnya informasi
sehingga kebanyakan dari mereka tidak dapat ikut serta dalam talaqqi ini.
"Harapan
kedepan semoga hanya minggu ini saja peserta didik berkurang, dan semoga minggu
depan semakin banyak peserta dari kalangan mahasiswa lama tingkat tiga dan empat,"
ucap Rasikh Islami, Ketua SEMA FBA.
Dr.
Fathi sa'id, syeikh pengajar talaqi ini menegaskan bahwa mahasiswa sebagai
thalibul 'ilmi tidak boleh berpindah-pindah dari tempat pengajian satu ke
tempat pengajian lain sesuka hati. Harus ada keistiqomahan dan kekonsistenan
dalam mempelajari suatu bidang ilmu sehingga tidak setengah-setengah dan salah
pemahaman.
"Keistiqomahan
dan kekonsistenan dalam mempelajari suatu bidang keilmuan adalah kunci dari
keberhasilan dan kesuksesan seorang pelajar," tegas Dr. Fathi sa'id.
Tampak
semua peserta talaqqi mengangguk-angguk setuju dengan argument beliau. Karena
sudah semestinya seorang pencari ilmu
terus haus dan lapar sampai makanan yang dihidangkan kepadanya habis sebelum
berpindah ke makanan lain, jangan sampai kita mendapat gelar tikus mati
kelaparan di lumbung padi.
Reported
by : Nia SEMA-FBA reporter.








Posting Komentar