Selamat Datang di Portal Sema-FDI Kairo

SEMA-FDI Adakan Do'a Bersama Dan Motivasi Belajar

SEMA-FDI adakan Do'a bersama dan Motivasi sebelum ujian (27/04/2017) sore 
di Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK) Wisma Nusantara, Rab'ah

Dalam acara penutupan kegiatan termin dua (Kamis, 27 April 2017) Sema Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab menggelar buka puasa dan doa bersama seluruh anggota. Tak terkecuali, kehadiran bapak ketua beserta bendahara dan sekretaris membuat acara tersebut lebih semangat dan sumringah. Tentu untuk menjadikan acara tersebut tidak hampa, dewan pengurus harian berinisial mengundang kawan-kawan ‘yang dianggap senior’ guna memberi motivasi dan kisi-kisi sebelum melangkah ke pintu ujian.

Setelah Roby Abdul Jabbar membuka acara yang terselenggara di ruang perpustakaan mahasiswa Indonesia Kairo, satu jam sebelum azan maghrib dikumandangkan,  ketua sema  mempersilahkan orator pertama yang disampaikan oleh saudara Arif Masduki Ikhsan untuk memberi suntikan-suntikan motivasi kepada seluruh anggota yang hadir.

Mahasiswa tingkat akhir sekaligus menjabat sebagai dewan pengurus harian pendidikan SEMA-FDI itu menyampaiakn orasinya kurang lebih enam puluh menit. Tepat di menit ke lima puluh Sembilan, ia rihat sejenak untuk menikmati lantunan azan yang terkumandang dari masjid sekitar Wisma Nusantara, Rab’ah. Setelah membaca doa dan mengusapkan kedua telapak tangan ke permukaan wajah ia sambung dengan menyantap camilan dan meneguk setetes jus manga yang cukup hanya sekedar membasahi tenggorokan yang sudah lama kering tersengat cahaya matahari keangkuhan.

Jauh sebelum itu, ia memaparkan konsep filsafat Plato sekaligus membandingkan dengan beberapa kandungan-kandungan kemukjizatan al-Qur’an.
“Dalam filsafat Plato, jiwa manusia terkandung dua komponen besar. Pertama ia sebut dengan nafsu hewan (nafs hayawaniyah). Perangkat pertama ini lebih cenderung menggambarkan manusia kurang beretika, berbudi luhur dan berpri-kemanusiaan. Tesis semacam ini sejalan dengan ungkapan Ibrahim Ibn Adham; manusia telah hilang dan tinggallah seekor monyet. Ungkapan sufi besar mengisyaratkan, hendaklah sifat kemanusiaan hilang  hanyalah sifat kebinatangan yang tersisa…”.

Disela-sela orasinya ini yang membuat pendengar semakin penasaran, tiba-tiba  Arif memegang pundak Tajul tepat mengucap pada kalimat “monyet”. Sehingga tindakan konyol ini membuat suana diskusi semakin cair, riuh dan tawa lepas. Lanjutnya, , ,

Kedua, roh kebajikan (ruh insaniyah). Akan sangat beruntung sekali makhluk sosial yang dalam dirinya lebih dominan dihuni perangkat kedua ini. Dengan kata lain, sifat demikian bak lentera dalam jiwa manusia yang siap menerangi jalan hidupnya setiap waktu. Lebih luas lagi, terang cahaya yang bersumber dari dalam jiwa ini akan memancar pada tiap-tiap kehiduan di muka bumi. Sehingga akan membawa dampak kemanfaatan yang menyeluruh.
Tambahnya…

“Pernyataan di atas sejalan dengan pendeskripsian yang tersirat dalam al-Qur’an. Dalam kitab suci huruf nuun terdapat dua puluh tujuh ribu dua ratus enam puluh Sembilan. Huruf nuun pertama terdapat pada kalimat al-Rahman (secara bahasa memiliki arti yang maha pengasih dunia-akhirat) dan pada bagian terakhir terdapat pada kalimat al-Nas (satu derivasi dengan kalimat yang memiliki arti sifat pelupa)”.
Tandas Arif kepada seluruh pendengar.

“Ilmu dan iman harus kita imbangi. Dalam al-Qur’an surat al-Mujadalah ayat 11 menyebut kata iman berikut disusul kata ilmu. Memang ayat ini kalo kita terapkan dalam kontek sosial  jika seseorang hanya mengandalkan ilmu tanpa dibarengi iman maka yang terjadi akan berdampak negatif”.

Dalam penjabaran ini, Arif memberikan gambaran para koruptor. Tegasnya, “mereka yang berdasi itu semuanya tidak ada yang hanya tamat sekolah dasar. Minimal pernah mengenyam pendidikan sarjana.  Tapi kenapa mereka tega memakan uang rakyat? Karena ilmu mereka tanpa dibarengi dengan iman”.

Sebelum mengakhiri orasi yang memanas itu, DP Pendidikan memekikkan kata-kata motivasi. Antara lain, bagi teman-teman yang pernah merasakan tidak naik tingkat (rashib) janganlah kecil hati. Begitu juga kepada teman-teman yang mendapatkan nilai memuaskan jangan pula berbangga diri. Karena pada hakikatnya itu juga ujian—ujian dalam ujian. Parameter dasar keberhasilan dalam belajar yaitu konsistensi antara ucapan dengan perbuatan.
Pungkasnya.

Setelah beberapa kali membuka sesi Tanya-jawab, akhirnya kelar juga orasi bagian pertama. Kemudian disusul orator berikutnya yang dibawakan oleh DPK SEMA FDI Kairo juga Ketua MPA PPMI Mesir saudara Thoriq Aziz Kusuma.

“Usaha kita untuk bisa percaya diri itu sejatinya yang diestimasikan sebagai sebuah ujian. Hari ini kita capek dan bahkan mungkin merasa penat dalam belajar, tapi insya Allah besuk kita akan memanen hasil berupa kejayan dan keceriaan hati yang kian bertambah” Tambah saudara thoriq
Sambutan itu sekaligus menutup acara dan dilanjutkan dengan do’a bersama.

 DP Pendidikan SEMA-FDI 16/17
Arif Masduki Ikhsan



Bagikan Postingan Ini :

1 komentar:

  1. It's an remarkable post designed for all the online users; they will get benefit from it I am sure. facebook sign in

    BalasHapus

PAPAN PENGUMUMAN

Popular Post

Facebook Kita

 
Support : KBRI Kairo | Atdik Kairo | PPMI Mesir
Copyright © 2015. SEMA-FDI Universitas Al-Azhar, Mesir - All Rights Reserved