Selamat Datang di Portal Sema-FDI Kairo

Pengantar Ilmu Balaghah

Oleh: Hudaili Abdul Hamid, Ketua Senat Mahasiswa Dirasat Islamiyah wa 'Arabiyah

Ilmu balaghah yang kita kenal saat ini merupakan bagian dari ilmu bahasa dan sastra Arab. Kemunculan dan perkembangannya melalui beberapa fase panjang. Cabang ilmu ini memiliki tiga bagian penting, salah satunya adalah ilmu ma’ani, bayan dan badi’. Dahulu, tiga bagian ilmu ini masih terpisah, berdiri sendiri dan ilmu balaghah belum dikenal seperti sekarang yang metodologinya sistematis. Seiring perkembangan zaman dan pengetahuan, setelah beberapa fase tiga ilmu ini menjadi satu naungan keilmuan yang dikenal dengan ilmu balaghah.
Jami Al-Azhar
 
Sebagai seorang penuntut ilmu, harus mengetahui fase perkembangan munculnya ilmu balaghah, agar sadar bahwa ilmu bukanlah benda mati yang tidak bisa berkembang, namun ilmu dapat berkembang dan diperbaharui. Kesadaran inilah yang mendorong seseorang agar selalu berpikir untuk kemajuan, agar keilmuan tidak mengalami kejumudan dan stagnan. Perkembangan ilmu balaghah dipengaruhi berbagai macam alasan, mungkin dari segi materi, pengajaran dan penerpan. Selain itu didukung oleh munculnya ilmu-ilmu baru yang awalnya dari pengaruh Al-Qur’an. Seperti ilmu nahwu, shorf, sirah dan tarikh, sosial dan politik, fikih dan yang lainnya.

Ilmu Balaghah Sebelum Turunnya Al-Qur’an
                Kaum Arab jahiliyah sebelum turunnya Al-Qur’an dikenal dengan kefashihan dalam bertutur, mereka sangat ahli dalam sastra. Tidak heran, kalau mereka mau membuat syi’ir-syi’ir (syi’ir jahili) puisi yang indah mempesona, sehingga siapa pun yang mendengar dapat tersihir olehnya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan yang tinggi. seperti tokoh pada masa jahili yang masih dikenal sampai sekarang adalah Imri’ul Qois, Nabiqhah Zubyani, Amru bin Kultsum, Zuhair bin Abi Sulma.
                Perkembangan sastra Arab pada masa jahiliyah diwarnai berbagai bentuk, seperti prosa dan puisi yang pada saat itu sangat disenangi oleh kaum Arab jahili. Di sisi lain juga, didukung oleh ada perlombangan pidato dan puisi, ini terjadi saat mereka berkumpul antar kabilah atau suku, seperti Suq ‘Ukkazh. Kegitan ini memantik orang-orang agar berlomba berpuisi dan berpidato, menjadi peluang besar bagi mereka untuk mengembangkan bakat. Bagi pemanag dalam lomba ini, pastinya membanggakan sukunya.
Bakat mereka dalam hal sastra memang sudah mendarah daging, Syauqi Dhoif mengatakan bahwa bahsa Arab jahili telah mencapai puncak sastra yang tinggi dalah balaghah dan bayan. Tidak heran, apabila kalau ada peneliti yang merasa kagum terkait dengan keindahan sastra syi’ir jahili. Bukan hanya syi’ir atau puisi, termasuk juga dalam prosa. Namun, kekurangan dari syi’ir-syi’ir jahili ini jauh dari nilai yang islami. Dalam syi’ir mereka masih tercampur dengan kesombongan, keangkuhan, penghinaan, ratapan dan berbau pornografi( dibaca: Qhozal Hissi Shorih), karena kehidupan mereka belum ada petunjuk kebenaraan.

Ilmu Balaghah Setelah Turunnya Al-Qur’an
Sebagaimana yang telah dipaparkan diatas, bahwa kedudukan balaghah ini sudah berkembang dan menjadi tabiat bangsa Arab jahiliyah. Kemudian setelah turunnya Al-Qur’an, balaghah semakin berkembang pesat. Keindahan dan keelokan sastra dalam bahasa tidak pernah habis dan selalu dikaji. Karenanya, ia selalu melahirkan banyak ungkapan yang bermakna dan berpengaruh dalam kehidupan manusia. Terutama saat turunnya Al-Qur’an, yang merupakan pedoman dalam melahirkan keindahan dan kelembutan berbahasa.
Dalam pandangan islam, Al-Qur’an adalah sumber keindahan dan ketinggian balaghah bagi para pneyair. Karenanya, Al-Qur’an diakui sebagai puncak balaghah dan model utama dalam pembaharuan nilai sya’ir.
Tidak heran, kalau Al-Qur’an mempunyai kedudukan yang sangat penting dan sangat berpengaruh dalam pola hidup. Karena di dalamnya terdapat pedoman yang mengatur kehidupan, pola pikir dan pola tutur. Semua sepakat bahwa salah satu mukjizat Al-Qur’an adalah keindahan bahasa dan sastranya, tidak ada sesuatu pun yang menandinginya. Kemukjizatan Al-Qur’an tidak hanya diakui dalam hal keindahan bahasa dan sastra, akan tetapi dalam berbagai hal. Salah satu keotentikan Al-Qur’an adalah tidak ada seorang pun yang dapat menyamakan dan menandingi Al-Qur’an, baik satu surat atau bahkan satu ayat. Tidak ada yang dapat meniru Al-Qur’an, baik dari sisi bahasa dan sastra maupun isi kandungannya.
Itulah konsep kemukjizatan Al-Qur’an. Jangan heran kalau tidak ada seorang pun yang dapat menandinginya, turunnya saja melalui perantara malaikat jibril. Bahkan ada beberapa ayat yang mengemukakan tantangan (tahaddi) bagi siapa pun yang meragukan keotentikannya, menantang agar mendatangkan satu ayat saja yang serupa dengannya, sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 23.
Satu contoh dari surat Hud ayat 44 yang memiliki kandungan balaghah yang tinggi.
وقيل يا أرض ابلعي ماءك وياسماء أقلعي وغيض الماء وقضي الأمر واستوت علي الجودي وقيل بعدا للقوم الظالمين
                “Dan Allah berfirman “hai bumi! Telanlah airmu! Hai langit hentikan hujanmu!” kemudian air surut dan perintahpun diselesaikan. Dan kapal itu pun berlabuh di atas gunung judi,dan dikatakan,”binasalah orang-orang dzolim.”
Dalam ayat di atas mengandung dua perintah (hai bumi! Telanlah airmu! Hai langit! Hentikan hujanmu!), mengandung dua berita (kemudian air surut dan perintahpun diselesaikan), mengandung kabar gembira (Dan kapal itu pun berlabuh di atas gunung judi), dan mengandung pengharapan (binasalah orang-orang dzolim). Subhanallah, betapa tingginya kandungan sastra ayat Al-Qur’an. Ini membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah sumber utama yang menjadi referensi dalam kajian ilmu balaghah.
Keberadaan ilmu balaghah sebagai disiplin ilmu yang utuh seperti yang kita lihat saat ini, dahulunya belum terkodifikasi. Namun ia terus mengalami perkembangan. Di awali dengan kajian sastra beberapa sya’ir dan pidato orang Arab di masa jahiliyah. Kemudian lanjut ke pengulasan syai’ir dan sastra di masa awal islam, sampai ke masa dinasti umaiyah, ia terus mengalami perkembangan sampai sekarang.
Kitab yang pertama kali disusun dalam bidang balaghah adalah ilmu bayan, yaitu kitab Majazul Qur’an karya Abu ‘Ubaidah Ma’mar bin Al-Mutsanna (w. 208H), murid Al-Khalil (w. 170H). Kemudian datang Al-Jahidz dengan dua kitabnya yang fenomenal yaitu Al-Bayan Wa Al-Tabyin dan Al-Hayawan, dalam kitab ini sering membahas terkait ilmu ma’ani. Adapun Ilmu Badi’ awal mula muncul dipelopori oleh Abdullah bin Al-Mu’taz (w. 296H) dan Qudamah bin Ja’far. Dan kemudian Al-Jahidz dipandang sebagai tokoh yang sangat berpengaruh dalam sejarah perkembangan ilmu balaghah dengan karyanya Al-Bayan Wa Al-Tabyin.
Ilmu Balaghah terus berkembang sehingga mencapai banyak kemajuan, didukung oleh semakin utuhnya kajian, tercatat dalam dua kitab karya Imam Abdul Qohir Al-Jurjani. Kedua kitab tersebut yaitu Asrarul Balaghah, yang lebih banyak mengkaji ilmu ma’ani yang merupakan bagian dari ilmu balaghah. Kemudian kitab Dala’ilul I’jaz yang lebih banyak mengkaji tentang keindahan sususan kata dan konteksnya, dengan keindahan makna yang merupakan keistimewaan ushlub Al-Qur’an yang menunjukkan kemukjizatannya.
Kemudian datang Imam As-Sakaki (w. 626 H) yang semakin mematangkan kedudukan ilmu balaghah sebagai disiplin ilmu. Beliau menyusun karya besar yang menguraikan ilmu tersebut disandingkan dengan ilmu-ilmu bahasa Arab lainnya. Kitab tersebut dikenal dengan sebutan nama Miftahul Ulum.
Sedangkan pembagian ilmu balaghah ke dalam tiga bagian (Ma’ani, Bayan dan Badi’) yang dikenal sekarang dilakukan oleh Al-Khatib Al-Qozwainy (w. 729 H) dalam karyanya yang dikenal dengan Talkhisul Miftah, merupakan ringkasan dari kitab Miftahul Ulum karya Imam As-Sakaki.

Semoga bermanfaat,  والله أعلم
Bagikan Postingan Ini :

Posting Komentar

PAPAN PENGUMUMAN

Popular Post

Facebook Kita

 
Support : KBRI Kairo | Atdik Kairo | PPMI Mesir
Copyright © 2015. SEMA-FDI Universitas Al-Azhar, Mesir - All Rights Reserved