Ilmu balaghah yang kita kenal saat ini merupakan bagian dari ilmu bahasa dan sastra Arab. Kemunculan dan perkembangannya melalui beberapa fase panjang. Cabang ilmu ini memiliki tiga bagian penting, salah satunya adalah ilmu ma’ani, bayan dan badi’. Dahulu, tiga bagian ilmu ini masih terpisah, berdiri sendiri dan ilmu balaghah belum dikenal seperti sekarang yang metodologinya sistematis. Seiring perkembangan zaman dan pengetahuan, setelah beberapa fase tiga ilmu ini menjadi satu naungan keilmuan yang dikenal dengan ilmu balaghah.
![]() |
| Jami Al-Azhar |
Sebagai seorang penuntut
ilmu, harus mengetahui fase perkembangan munculnya ilmu balaghah, agar sadar
bahwa ilmu bukanlah benda mati yang tidak bisa berkembang, namun ilmu dapat
berkembang dan diperbaharui. Kesadaran inilah yang mendorong seseorang agar
selalu berpikir untuk kemajuan, agar keilmuan tidak mengalami kejumudan dan
stagnan. Perkembangan ilmu balaghah dipengaruhi berbagai macam alasan, mungkin
dari segi materi, pengajaran dan penerpan. Selain itu didukung oleh munculnya
ilmu-ilmu baru yang awalnya dari pengaruh Al-Qur’an. Seperti ilmu nahwu, shorf,
sirah dan tarikh, sosial dan politik, fikih dan yang lainnya.
Ilmu Balaghah Sebelum
Turunnya Al-Qur’an
Kaum
Arab jahiliyah sebelum turunnya Al-Qur’an dikenal dengan kefashihan dalam
bertutur, mereka sangat ahli dalam sastra. Tidak heran, kalau mereka mau
membuat syi’ir-syi’ir (syi’ir jahili) puisi yang indah mempesona, sehingga
siapa pun yang mendengar dapat tersihir olehnya. Hal ini menunjukkan bahwa
mereka memiliki kemampuan yang tinggi. seperti tokoh pada masa jahili yang
masih dikenal sampai sekarang adalah Imri’ul Qois, Nabiqhah Zubyani, Amru bin
Kultsum, Zuhair bin Abi Sulma.
Perkembangan
sastra Arab pada masa jahiliyah diwarnai berbagai bentuk, seperti prosa dan
puisi yang pada saat itu sangat disenangi oleh kaum Arab jahili. Di sisi lain
juga, didukung oleh ada perlombangan pidato dan puisi, ini terjadi saat mereka
berkumpul antar kabilah atau suku, seperti Suq ‘Ukkazh. Kegitan ini memantik
orang-orang agar berlomba berpuisi dan berpidato, menjadi peluang besar bagi
mereka untuk mengembangkan bakat. Bagi pemanag dalam lomba ini, pastinya
membanggakan sukunya.
Bakat mereka dalam hal
sastra memang sudah mendarah daging, Syauqi Dhoif mengatakan bahwa bahsa Arab
jahili telah mencapai puncak sastra yang tinggi dalah balaghah dan bayan. Tidak
heran, apabila kalau ada peneliti yang merasa kagum terkait dengan keindahan
sastra syi’ir jahili. Bukan hanya syi’ir atau puisi, termasuk juga dalam prosa.
Namun, kekurangan dari syi’ir-syi’ir jahili ini jauh dari nilai yang islami.
Dalam syi’ir mereka masih tercampur dengan kesombongan, keangkuhan, penghinaan,
ratapan dan berbau pornografi( dibaca: Qhozal Hissi Shorih), karena kehidupan
mereka belum ada petunjuk kebenaraan.
Ilmu Balaghah Setelah
Turunnya Al-Qur’an
Sebagaimana yang telah
dipaparkan diatas, bahwa kedudukan balaghah ini sudah berkembang dan menjadi
tabiat bangsa Arab jahiliyah. Kemudian setelah turunnya Al-Qur’an, balaghah
semakin berkembang pesat. Keindahan dan keelokan sastra dalam bahasa tidak
pernah habis dan selalu dikaji. Karenanya, ia selalu melahirkan banyak ungkapan
yang bermakna dan berpengaruh dalam kehidupan manusia. Terutama saat turunnya
Al-Qur’an, yang merupakan pedoman dalam melahirkan keindahan dan kelembutan
berbahasa.
Dalam pandangan islam, Al-Qur’an
adalah sumber keindahan dan ketinggian balaghah bagi para pneyair. Karenanya,
Al-Qur’an diakui sebagai puncak balaghah dan model utama dalam pembaharuan nilai
sya’ir.
Tidak heran, kalau
Al-Qur’an mempunyai kedudukan yang sangat penting dan sangat berpengaruh dalam
pola hidup. Karena di dalamnya terdapat pedoman yang mengatur kehidupan, pola
pikir dan pola tutur. Semua sepakat bahwa salah satu mukjizat Al-Qur’an adalah
keindahan bahasa dan sastranya, tidak ada sesuatu pun yang menandinginya. Kemukjizatan
Al-Qur’an tidak hanya diakui dalam hal keindahan bahasa dan sastra, akan tetapi
dalam berbagai hal. Salah satu keotentikan Al-Qur’an adalah tidak ada seorang
pun yang dapat menyamakan dan menandingi Al-Qur’an, baik satu surat atau bahkan
satu ayat. Tidak ada yang dapat meniru Al-Qur’an, baik dari sisi bahasa dan
sastra maupun isi kandungannya.
Itulah konsep
kemukjizatan Al-Qur’an. Jangan heran kalau tidak ada seorang pun yang dapat
menandinginya, turunnya saja melalui perantara malaikat jibril. Bahkan ada
beberapa ayat yang mengemukakan tantangan (tahaddi) bagi siapa pun yang
meragukan keotentikannya, menantang agar mendatangkan satu ayat saja yang
serupa dengannya, sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 23.
Satu contoh dari surat Hud ayat 44 yang memiliki
kandungan balaghah yang tinggi.
وقيل يا أرض ابلعي ماءك وياسماء أقلعي وغيض الماء وقضي
الأمر واستوت علي الجودي وقيل بعدا للقوم الظالمين
“Dan
Allah berfirman “hai bumi! Telanlah airmu! Hai langit hentikan hujanmu!”
kemudian air surut dan perintahpun diselesaikan. Dan kapal itu pun berlabuh di
atas gunung judi,dan dikatakan,”binasalah orang-orang dzolim.”
Dalam ayat di atas
mengandung dua perintah (hai bumi! Telanlah airmu! Hai langit! Hentikan
hujanmu!), mengandung dua berita (kemudian air surut dan perintahpun
diselesaikan), mengandung kabar gembira (Dan kapal itu pun berlabuh di atas
gunung judi), dan mengandung pengharapan (binasalah orang-orang dzolim).
Subhanallah, betapa tingginya kandungan sastra ayat Al-Qur’an. Ini membuktikan
bahwa Al-Qur’an adalah sumber utama yang menjadi referensi dalam kajian ilmu
balaghah.
Keberadaan ilmu balaghah
sebagai disiplin ilmu yang utuh seperti yang kita lihat saat ini, dahulunya
belum terkodifikasi. Namun ia terus mengalami perkembangan. Di awali dengan
kajian sastra beberapa sya’ir dan pidato orang Arab di masa jahiliyah. Kemudian
lanjut ke pengulasan syai’ir dan sastra di masa awal islam, sampai ke masa
dinasti umaiyah, ia terus mengalami perkembangan sampai sekarang.
Kitab yang pertama kali
disusun dalam bidang balaghah adalah ilmu bayan, yaitu kitab Majazul Qur’an
karya Abu ‘Ubaidah Ma’mar bin Al-Mutsanna (w. 208H), murid Al-Khalil (w. 170H).
Kemudian datang Al-Jahidz dengan dua kitabnya yang fenomenal yaitu Al-Bayan Wa
Al-Tabyin dan Al-Hayawan, dalam kitab ini sering membahas terkait ilmu ma’ani. Adapun
Ilmu Badi’ awal mula muncul dipelopori oleh Abdullah bin Al-Mu’taz (w. 296H)
dan Qudamah bin Ja’far. Dan kemudian Al-Jahidz dipandang sebagai tokoh yang
sangat berpengaruh dalam sejarah perkembangan ilmu balaghah dengan karyanya
Al-Bayan Wa Al-Tabyin.
Ilmu Balaghah terus
berkembang sehingga mencapai banyak kemajuan, didukung oleh semakin utuhnya
kajian, tercatat dalam dua kitab karya Imam Abdul Qohir Al-Jurjani. Kedua kitab
tersebut yaitu Asrarul Balaghah, yang lebih banyak mengkaji ilmu ma’ani yang
merupakan bagian dari ilmu balaghah. Kemudian kitab Dala’ilul I’jaz yang lebih
banyak mengkaji tentang keindahan sususan kata dan konteksnya, dengan keindahan
makna yang merupakan keistimewaan ushlub Al-Qur’an yang menunjukkan
kemukjizatannya.
Kemudian datang Imam As-Sakaki
(w. 626 H) yang semakin mematangkan kedudukan ilmu balaghah sebagai disiplin
ilmu. Beliau menyusun karya besar yang menguraikan ilmu tersebut disandingkan
dengan ilmu-ilmu bahasa Arab lainnya. Kitab tersebut dikenal dengan sebutan
nama Miftahul Ulum.
Sedangkan pembagian ilmu
balaghah ke dalam tiga bagian (Ma’ani, Bayan dan Badi’) yang dikenal sekarang
dilakukan oleh Al-Khatib Al-Qozwainy (w. 729 H) dalam karyanya yang dikenal
dengan Talkhisul Miftah, merupakan ringkasan dari kitab Miftahul Ulum karya
Imam As-Sakaki.
Semoga bermanfaat, والله أعلم








Posting Komentar